Kamis, 19 Februari 2026

Masjidnya Tetap, Kita yang Berbeda

Semalam saya sholat tarawih.

Bukan tarawih biasa.

Saya kembali ke masjid tempat saya bertumbuh — dari bocah yang masih bingung membedakan rakaat, sampai dewasa yang kini berusaha terlihat lebih khusyuk.

Dibikinin AI

Masjid itu penuh. Sampai ke jalan. Saya pun sholat di aspal jalanan di sekitar masjid. Dulu, waktu kecil, sepanjang jalan ini dipasang tenda. Lampu di gantung sederhana. Anak-anak berlarian sebelum iqamah, kadang masih bercanda padahal sudah pakai peci. Semalam tidak ada tenda. Tapi entah kenapa, rasanya justru lebih penuh, mungkin karena saya tidak kecil lagi seperti dulu.

Urutan sholat tarawih masih sama. Setelah sholat isya, ada MC yang membuka rangkaian kegiatan dengan suara yang terdengar campuran antara percaya diri dan gugup. Lalu Bilal melantunkan bahasa arab, seperti sholawat. Setelah sholat tarawih, doa kamilin dibacakan — panjang, khusyuk, dan terasa sangat lama ketika kita masih kecil.

Dan di situlah saya tersenyum sendiri.

Karena dulu… saya pernah ada di posisi itu. Saya pernah ditugaskan panitia Ramadan menjadi MC. Berdiri di depan jamaah, dengan tangan dingin dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Pernah juga menjadi bilal. 

Bukan karena ingin tampil. Tapi karena diberi amanah. Dan setiap kali nama saya diumumkan dalam daftar petugas, ada rasa bangga sekaligus deg-degan yang sulit dijelaskan. Takut salah. Takut keliru. Tapi tetap ingin menjalankan dengan sebaik mungkin.

Bertemu teman kecil

Ramadan bukan cuma menguji lapar. Ia menguji ingatan. Yang bikin malam itu makin bermakna adalah bertemu teman-teman lama. Wajahnya sudah berubah, tapi tawanya masih persis seperti dulu. 

Kami tidak banyak bicara tentang pekerjaan. Tidak juga tentang pencapaian. Kami justru bernostalgia. Tentang siapa yang dulu suaranya gemetar saat membaca doa kamilin. Tentang siapa yang salah menyebutkan susunan acara. Tentang malam-malam Ramadan yang terasa begitu panjang, tapi justru ingin terus diulang.


Tiba-tiba saya sadar…

Ramadan bukan sekadar menahan lapar.

Ia adalah ruang untuk pulang.

Ke masjid.

Ke kenangan.

Ke versi diri yang lebih sederhana.


Masjidnya masih sama.

Adzannya masih sama.

Doa kamilinnya masih sepanjang dulu.


Yang berubah cuma kita.!


Dulu, ketika ditugaskan menjadi petugas Ramadan, kami merasa punya peran. Merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Merasa dipercaya.


Sekarang?

Sering kali kita terlalu sibuk untuk sekadar hadir lebih awal. Terlalu penuh jadwal untuk sekadar duduk lebih lama setelah salam.


Ramadan ternyata bukan cuma tentang menahan lapar dan haus.

Ia mengajak kita menahan ego.

Menahan merasa paling lelah.

Menahan lupa bahwa kita pernah begitu mencintai suasana ini.


Dan mungkin…

yang perlu kita hidupkan kembali bukan hanya semangat ibadahnya,

tetapi semangat menjadi bagian dari cerita.


Karena boleh jadi,

yang benar-benar kosong bukan perut kita—

melainkan kenangan yang tidak lagi kita rawat.


Itu yang EDAN.


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Apa sih EDAN itu?

Apa sih EDAN itu?

Tenang… ini bukan tentang kehilangan akal. Bukan juga tentang sesuatu yang berlebihan. “EDAN” dalam tulisan ini adalah cara saya memaknai Ramadhan.

Dibuat dengan AI

Karena buat saya, Ramadhan itu memang luar biasa. Ia datang bukan hanya untuk mengubah jadwal makan, tapi untuk mengubah cara kita melihat hidup. Dan sering kali, perubahan itu terasa… ya, seperti sesuatu yang “edan” — beda, kuat, dan mengguncang.

Di sini, EDAN adalah singkatan dari:

E – Evaluasi Diri

Ramadhan selalu punya cara membuat kita berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana saya berjalan? Apa yang perlu diperbaiki? Apa yang harus ditinggalkan?

D – Disiplin Ibadah

Bangun lebih pagi. Menahan diri lebih lama. Menjaga lisan lebih hati-hati. Ramadhan melatih kita bukan hanya kuat menahan lapar, tapi kuat menjaga sikap. Dan disiplin itu tidak datang begitu saja—ia dibangun setiap hari.

A – Aktivitas Bermakna

Ramadhan bukan bulan untuk bermalas-malasan. Justru di sinilah kita diuji: apakah aktivitas kita tetap bernilai? Apakah waktu kita diisi dengan hal yang memberi arti? Mengajar, bekerja, berbagi, berkegiatan sosial—semuanya bisa menjadi ibadah jika diniatkan dengan benar.

N – Nikmat yang Disadari

Yang paling sering terlupa: menyadari nikmat. Nafas yang masih gratis. Kesehatan yang masih ada. Keluarga yang masih lengkap. Kesempatan sujud yang masih Allah beri. Ramadhan membuat kita lebih peka terhadap hal-hal yang sebelumnya terasa biasa.

Tulisan “EDAN” ini bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang perjalanan. Tentang bagaimana saya menjalani Ramadhan dengan segala dinamika, jatuh bangun, niat yang kadang naik turun, dan usaha untuk tetap bertumbuh.

Dan mungkin, di antara cerita-cerita itu, ada bagian yang juga menjadi cermin bagi kita semua.

Karena siapa tahu…

Ramadhan tahun ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tapi momentum perubahan yang benar-benar “EDAN” dalam hidup kita.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow ðŸ˜‰