Sabtu, 28 Februari 2026
Di tengah puasa, Kita bertumbuh
Setup Panjang Menuju Punchline
Kamis, 26 Februari 2026
Di Antara Takjil dan Takdir
Setiap Ramadan, ada satu momen yang selalu dinanti: waktu berbuka.
Anak-anak menghitung menit. Orang dewasa melirik jam. Di pinggir jalan, penjual takjil berjejer. Kolak, es buah, gorengan, kurma, semuanya seperti punya magnet tersendiri. Kita memilih dengan antusias, seakan-akan berbuka adalah perayaan kecil setelah seharian menahan diri.
Ramadan sering terasa seperti itu—hangat, manis, penuh kebersamaan.
Namun minggu ini, di antara aroma kolak dan suara azan magrib, kabar duka datang silih berganti. Minggu ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabar duka datang silih berganti. Ibunda kepala sekolah berpulang. Teman sekolah saya waktu SD lebih dulu dipanggil. Ayahanda rekan operator juga kembali kepada-Nya. Dan mungkin, setiap hari ada hati yang berduka, meski dunia tetap berjalan seperti biasa.
Ramadan yang biasanya identik dengan cahaya, tarawih, dan lantunan Al-Qur’an, mendadak terasa lebih hening.
Dan sebenarnya, kehilangan bukanlah pengalaman baru bagi saya. Lima tahun lalu, Ayahanda saya telah lebih dahulu berpulang. Waktu memang berjalan. Aktivitas kembali seperti biasa. Tetapi rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah menjadi doa yang lebih sering dipanjatkan, terutama setiap Ramadan datang.
Lalu muncul pertanyaan yang sering kita dengar: benarkah meninggal di bulan Ramadan memiliki keutamaan?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)
Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan besarnya kemuliaan bulan Ramadan. Bulan penuh ampunan dan rahmat. Namun, apakah otomatis seseorang yang wafat di bulan ini pasti mendapatkan keutamaan khusus?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله pernah ditanya tentang orang yang meninggal di bulan Ramadan. Beliau menjawab bahwa wafat di bulan Ramadan adalah tanda kebaikan jika disertai dengan amal saleh, namun yang menjadi ukuran utama tetaplah keadaan akhir kehidupannya (husnul khatimah), bukan semata-mata waktunya.
(Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 13/180)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari no. 6607)
Artinya, yang paling menentukan bukan di bulan apa seseorang meninggal, melainkan bagaimana ia hidup dan dalam keadaan apa ia menghadap Allah.
Ramadan memang bulan yang istimewa. Di dalamnya ada ampunan, ada pelipatgandaan pahala, ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka siapa pun yang wafat dalam keadaan beriman, dalam suasana penuh ibadah dan kebaikan, tentu itu adalah harapan yang indah.
Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa Ramadan bukan sekadar tentang bagaimana kita meninggal. Ramadan lebih banyak berbicara tentang bagaimana kita hidup.
Tentang bagaimana kita memperbaiki diri selagi masih diberi waktu.
Tentang bagaimana kita memohon ampun sebelum benar-benar dipanggil.
Tentang bagaimana kita menyiapkan bekal, bukan sekadar berharap pada momen.
Kabar-kabar duka minggu ini seperti pengingat yang lembut tapi tegas. Tidak ada yang tahu giliran siapa berikutnya. Tidak ada yang tahu Ramadan mana yang menjadi yang terakhir.
Dan setiap kali saya teringat Ayahanda, hati saya selalu berdoa: semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosanya, dan mempertemukan kami kembali dalam keadaan terbaik.
Pada akhirnya, mungkin benar bahwa wafat di bulan Ramadan adalah karunia jika Allah menghendaki. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap hari di luar Ramadan pun kita sedang berjalan menuju-Nya.
Karena pada akhirnya, Ramadan bukan membuat kematian menjadi istimewa. Ramadan mengingatkan kita bahwa hidup harus dipersiapkan.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Ini Hanya Tulisan Fiktif
“Karena menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan sunyi yang dikenal langit. 👍” Kalimat itu saya temukan ketika sedang berjalan-jalan di sebuah blog milik Pak D Susanto dari Musi Rawas. Entah kenapa, ia tidak hanya terbaca, tapi menetap. Seperti kalimat yang sudah lama saya tahu, hanya saja baru kali itu ada yang menuliskannya. Dari sana, sebuah cerita fiktif, pelan-pelan ingin dituliskan.
Namanya tidak pernah viral. Tidak punya kanal YouTube. Tidak punya penghargaan bertingkat-tingkat. Tapi ia punya papan tulis yang penuh coretan mimpi.
Ia sering berjalan melewati lorong sekolah yang masih sepi. Kadang hanya suara sapu petugas kebersihan yang menemaninya. Di tangannya ada buku-buku. Di kepalanya ada rencana. Di hatinya ada doa yang tak pernah ia umumkan.
Anak-anak mengenalnya biasa saja. Kadang bahkan mengeluh karena PR-nya. Kadang tidak sadar bahwa kalimat sederhana yang ia ucapkan bisa tinggal di kepala mereka bertahun-tahun. Guru itu tidak pernah tahu mana nasihat yang akan menjadi penentu arah hidup seseorang. Ia hanya menanam. Setiap hari. Tanpa tahu pohon mana yang akan tumbuh tinggi.
Suatu hari, salah satu muridnya hampir menyerah. Nilainya jelek. Di rumah tak ada yang peduli. Dunia terasa sempit. Tapi guru itu hanya berkata pelan, “Kamu mungkin belum bisa sekarang. Tapi bukan berarti tidak bisa selamanya.” Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis. Tidak ada musik latar.
Tapi bertahun-tahun kemudian, murid itu berdiri di tempat yang tak pernah ia bayangkan. Dan dalam satu wawancara kecil yang tidak viral, ia berkata, “Dulu ada guru yang percaya pada saya, bahkan saat saya tidak percaya pada diri sendiri.”
Guru itu mungkin tidak pernah mendengar kalimat itu. Ia mungkin sudah pindah sekolah. Atau tetap di sana, menulis lagi di papan tulis yang sama. Karena menjadi guru bukan tentang tepuk tangan. Bukan tentang panggung. Bukan tentang sorotan.
Ia adalah pekerjaan yang hasilnya sering tidak terlihat hari ini. Tapi diam-diam disimpan waktu. Dan mungkin benar, jalan ini sunyi. Kadang lelah. Kadang terasa seperti berjalan sendiri.
Tapi siapa sangka, di setiap langkah sunyi itu, ada langit yang mencatatnya. Tidak semua perjuangan harus diketahui manusia. Ada yang cukup diketahui Tuhan. Dan mungkin… itulah kenapa seorang guru tetap datang ke kelas, meski dunia tidak pernah bertepuk tangan.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Selasa, 24 Februari 2026
Hari yang Tidak Sepi
Kemarin pagi sebenarnya biasa saja. Saya kembali ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung, niat mengajar sudah siap. Tapi perjalanan tidak selalu sejalan dengan rencana.
![]() |
| Masih AI yang sama |
Di halte Puri Beta, antreannya panjaaaaaang. Tidak biasa. Orang-orang berdiri dengan wajah setengah sabar, setengah pasrah. Busway belum juga datang. Setelah menunggu, barulah terdengar kabar: ada kecelakaan di jalan layang dekat halte Cipulir. Saya tidak tahu detailnya, tapi dalam hati semoga tidak ada korban jiwa.
Perjalanan jadi lebih lambat. Waktu terasa ikut tertahan di antara barisan orang yang menunggu.
Sampai di sekolah, suasana langsung berubah. Tidak ada waktu mengeluh. Deadline video sudah menunggu. Naskah yang kemarin saya ketik harus dijahit rapi dengan CapCut. Di sela-sela itu, saya tetap mengajar. Tetap masuk kelas. Tetap tersenyum. Lalu shooting sebentar. Edit lagi. Rapat koordinasi TKA menyusul menjelang waktu pulang.
Dan di tengah semua itu, lambung mulai berdendang.
Puasa memang menahan lapar. Tapi ternyata bukan hanya itu. Ia juga melatih kita menahan reaksi. Menahan keluhan. Menahan keinginan untuk berkata, “Aduh, capek banget.”
Ramadan tidak menghentikan pekerjaan. Tidak menghentikan macet. Tidak menghentikan deadline. Justru di situlah latihannya.
Bekerja dalam keadaan kenyang mungkin biasa.
Bekerja dalam keadaan lapar… itu latihan.
Latihan sabar saat antre panjang.
Latihan fokus saat energi menurun.
Latihan tetap profesional meski tubuh ingin rebahan.
Saya jadi sadar, puasa bagi orang yang bekerja itu bukan tentang memperlambat ritme. Tapi tentang menjaga kualitas di tengah keterbatasan. Tetap datang tepat waktu meski perjalanan terhambat. Tetap menyelesaikan tugas meski kepala mulai ringan. Tetap tersenyum di depan siswa meski perut sudah protes.
Karena mungkin nilai puasa bukan hanya pada seberapa kuat kita menahan lapar, tapi seberapa baik kita menjaga sikap saat lapar itu datang.
Menjelang berbuka, saya duduk sebentar. Nafas sudah lebih pelan. Lambung masih berdendang, tapi tidak lagi protes. Hari itu tidak berjalan mulus. Ada antrean panjang, ada kabar kecelakaan, ada deadline yang menunggu, ada rapat yang harus diikuti. Tapi semuanya tetap selesai.
Ramadan mengajarkan saya satu hal sederhana: bekerja saat lapar itu bukan soal kuat-kuatan. Ini soal menjaga niat. Bahwa yang kita lakukan tetap harus baik, meski tenaga tidak sedang penuh. Dan mungkin, justru di situ letak manisnya. Bukan pada menu berbukanya, tetapi pada rasa lega karena sudah menjalani hari dengan utuh.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Senin, 23 Februari 2026
Jarinya satu ruas.
Malam Senin, selepas tarawih, saya duduk di saf yang tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang. Seperti biasa ada ceramah, dan yang mengisi malam itu adalah Ustadz Hasanuddin.
Beliau spesial.
Bukan hanya karena dakwahnya yang penuh tenaga dan mengalir deras tanpa teks. Tapi juga karena kondisi fisiknya. Kedua tangan beliau tidak memiliki jari yang utuh. Setiap jarinya hanya satu ruas. Saat beliau memegang mikrofon, saya sempat terdiam. Ada sesuatu yang menegur sebelum beliau mulai berbicara.
Beliau berceramah tentang Al-Qur’an.
Tentang bagaimana setiap Ramadan suasana selalu berubah. Masjid lebih ramai. Jadwal tidur berantakan. Undangan buka puasa berdatangan. Grup WhatsApp penuh doa dan ucapan. Semua terasa hidup.
Tapi pertanyaannya sederhana.
Apakah Al-Qur’an ikut hidup juga di rumah kita?
Atau ia hanya pindah posisi dari rak paling atas ke meja, lalu kembali lagi tanpa benar-benar dibaca?
Ramadan disebut sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Ayat itu sering kita dengar. Bahkan hafal. Tapi mungkin kita terlalu sering mendengar tanpa benar-benar merasa.
Kalau Ramadan adalah bulan cahaya, maka Al-Qur’an seharusnya bukan sekadar target khatam. Ia seharusnya jadi teman duduk. Teman diam. Teman berpikir.
Saya jadi malu sendiri.
Tangan saya lengkap. Jari saya utuh. Saya bisa membuka mushaf dengan mudah. Bisa menggulir aplikasi Al-Qur’an di ponsel tanpa hambatan. Tapi sering kali yang berat bukan membuka mushafnya.
Yang berat adalah meluangkan hati.
Beliau mengingatkan bahwa setiap huruf bernilai pahala. Dilipatgandakan lagi di bulan Ramadan. Tapi malam itu saya merasa yang lebih penting bukan angka pahalanya.
Melainkan sejauh mana ayat itu menyentuh.
Puasa membuat tubuh lelah. Aktivitas tetap jalan. Emosi kadang naik turun. Justru di situ Al-Qur’an seharusnya jadi penenang. Bukan hanya dibaca cepat-cepat setelah tarawih, tapi dihadirkan.
Mungkin bukan soal berapa juz yang selesai.
Mungkin soal berapa ayat yang benar-benar tinggal.
Karena bisa jadi satu ayat yang dipahami dan diamalkan jauh lebih berat timbangannya daripada halaman-halaman yang hanya lewat di mata.
Ramadan datang setiap tahun. Tapi kita tidak pernah tahu apakah kita akan bertemu lagi dengannya.
Dan malam itu, melihat seorang ustadz yang jari-jarinya tidak utuh namun begitu kuat menggenggam Al-Qur’an dalam hidupnya, saya merasa seperti sedang ditegur pelan.
Selama ini, siapa yang sebenarnya memiliki keterbatasan?
Kadang kita merasa tidak punya waktu, merasa lelah, merasa terlalu sibuk untuk membuka mushaf. Tapi mungkin yang kurang bukan waktunya atau tenaganya, melainkan kemauannya. Ramadan tidak meminta kita sempurna, hanya meminta kita mendekat. Dan jika tangan yang tidak utuh saja mampu menggenggam Al-Qur’an dengan begitu kuat, lalu saya yang jarinya lengkap ini masih
ingin beralasan apa?
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Minggu, 22 Februari 2026
Beberapa Menit, Seharian Penuh
Ia tidak selalu membuat kita melambat. Kadang justru ia mengajarkan bagaimana tetap maksimal, bahkan ketika tenaga sedang minimal. Dan di sela-sela rasa haus itu, saya sadar… tulisan ini bukan hanya tentang program literasi. Ia adalah tentang komitmen. Tentang tanggung jawab. Tentang membersamai tumbuhnya anak-anak, meski tubuh sendiri sedang belajar menahan.
JS One Award!
Kadang saya bertanya pada diri sendiri…
siapa sebenarnya guru terbaik itu?
Apakah mereka yang menguasai semua materi?Ataukah mereka yang selalu berdiri paling depan di kelas?Bagi saya… guru terbaik adalah mereka yang membersamai.Yang tidak hanya mengajar, tetapi hadir.Yang tidak hanya memberi tugas, tetapi memberi kepercayaan.Yang tidak hanya menilai hasil, tetapi menghargai proses belajar.Saya berdiri di sini hari ini karena pernah dibimbing oleh guru-guru seperti itu.Guru yang sabar menuntun saya ketika saya belum mengerti arah.Guru yang percaya pada saya, bahkan ketika saya sendiri meragukan kemampuan saya.Dan sejak saat itu, saya berkomitmen untuk terus berusaha menjadi guru seperti itu…bagi siswa-siswi saya.--------------------------------------------
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Perkenalkan, saya Muhammad Indra Wahyuddin, guru kelas 6 di SDN Cipulir 05.Melalui kesempatan ini, izinkan saya berbagi praktik baik yang saya lakukan bersama siswa-siswa saya dalam menumbuhkan budaya literasi di kelas.----------------------------------------------
Di kelas 6 SDN Cipulir 05, saya menemukan kenyataan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks.Ada anak-anak yang masih ragu menyuarakan pendapatnya.Ada yang mampu membaca, tetapi belum sepenuhnya memahami.Ada yang punya ide luar biasa, tetapi belum percaya diri untuk menuliskannya.Saat itulah saya sadar…anak-anak ini tidak hanya membutuhkan pembelajaran.Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh.Dari refleksi itulah lahir KLISE — Kegiatan Literasi Sekolah.
Namun bagi saya, KLISE bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis.KLISE adalah ruang belajar yang lebih bermakna.Di dalamnya, anak-anak tidak hanya menerima informasi,mereka diajak berpikir, merefleksi, dan mengaitkan bacaan dengan kehidupan mereka sendiri.Mereka belajar memahami, bukan sekadar menghafal.Mereka belajar mengolah gagasan, bukan sekadar menyalin.Di sanalah pembelajaran menjadi lebih mendalam —karena setiap anak diberi kesempatan untuk menemukan makna.Melalui LiterAKSI, mereka belajar berani memulai.Melalui LiterAKTIF, mereka belajar bertanggung jawab atas ide dan tulisannya.Melalui LiTERAMPIL, mereka belajar percaya diri dan menghargai pendapat teman.Dan melalui LiterAMPUH, mereka belajar memanfaatkan teknologi secara bijak untuk menyebarkan kebaikan.Tanpa mereka sadari, kebiasaan-kebiasaan kecil itu tumbuh perlahan.
Kebiasaan untuk disiplin membaca.Kebiasaan untuk berpikir sebelum berbicara.Kebiasaan untuk berkolaborasi dan saling menghargai.Kebiasaan untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.Kebiasaan untuk berani mencoba, meski belum sempurna.Dan ketika karya mereka berubah menjadi buku digital,ketika suara mereka terdengar kembali dalam rekaman podcast,mereka tidak hanya merasa bangga…Mereka belajar bahwa proses itu penting.Bahwa usaha itu bermakna.Bahwa mereka mampu memberi dampak.Di situlah saya memahami…literasi bukan sekadar kemampuan akademik.Literasi adalah jalan untuk membentuk karakter.Membentuk anak-anak yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zamannya.---------------------------------
Saya percaya perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.Perubahan bisa dimulai dari satu kelas kecil…dari satu guru yang mau refleksi…dan dari satu komitmen untuk terus membersamai.Dan jika langkah kecil ini dapat menginspirasi guru lain untuk terus berinovasi,maka saya yakin, kita sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar program.Kita sedang menumbuhkan generasi yang literat, berkarakter, dan siap menghadapi zamannya.
Karena pada akhirnya…guru terbaik bukanlah mereka yang paling banyak berbicara,melainkan mereka yang paling setia membersamai tumbuhnya anak-anak bangsa.Salam literasi, Semangat JS One AwardTop of Form
Wassalamualaikum.
Hari ini saya tidak sedang merasa hebat, saya hanya sedang belajar bertanggung jawab. Di tengah tenggorokan yang kering dan kepala penuh revisi, saya sadar: kita sering ingin hasil besar, tapi tidak siap dengan lelahnya proses. Ramadan ternyata bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Anak-anak saya belajar untuk tidak menyerah pada satu paragraf yang sulit, dan hari ini saya diuji oleh pelajaran yang sama — konsisten meski tidak ada yang melihat.
Bottom of Form
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Sabtu, 21 Februari 2026
Jumat
“Dalam satu bulan Ramadan, selalu ada empat atau lima hari Jumat. Kalau puasa sudah ketemu hari Jumat, itu tandanya sebentar lagi Lebaran.”
Kalimat itu sering diucapkan almarhum bapak ketika saya masih kecil.
Sebagai anak-anak, tentu saja saya langsung senang saat itu. Rasanya seperti menemukan bocoran rahasia atau shortcut. Padahal Ramadan baru berjalan beberapa hari, tapi karena sudah bertemu Jumat, seolah-olah garis finish sudah terlihat. Lebaran terasa dekat. Waktu seperti berlari lebih cepat.
Dulu saya tidak pernah benar-benar memikirkan maksudnya. Saya hanya tahu satu hal: kalau sudah Jumat, berarti sebentar lagi baju baru dipakai, THR tebal dan kue-kue tersaji di meja.
![]() |
| Idenya Ai |
Entah kenapa, kalimat sederhana itu tiba-tiba teringat lagi kemarin.
Mungkin karena suasananya sama: Jumat di bulan Ramadan.
Kemarin, saat duduk bersila di masjid untuk sholat Jumat, saya mendengarkan satu kisah yang cukup menggetarkan. Khatib bercerita tentang Malaikat Jibril. Katanya, Jibril pernah shalat satu rakaat yang lamanya puluhan ribu tahun. Puluhan ribu tahun!
Saya terdiam. Bukan ingin menghitungnya, tetapi mencoba membayangkan bagaimana mungkin satu rakaat selama itu.
Lalu sang khatib melanjutkan bahwa setelah ibadah yang begitu panjang, Allah menyampaikan bahwa ibadah seorang manusia — meski hanya sedikit — bisa lebih dicintai karena dilakukan atas perintah-Nya, di tengah segala ujian dan pilihan hidup.
Di situ saya mulai merenung.
Jibril adalah malaikat. Ia tidak pernah bermaksiat. Ia tidak pernah malas. Ia tidak pernah terdistraksi oleh urusan dunia. Ia taat karena memang diciptakan untuk taat.
Sedangkan kita?
Kita shalat sambil melawan kantuk. Kita menahan marah ketika emosi sedang tinggi. Kita memilih jujur ketika peluang untuk curang terbuka. Dan sering kali, kita merasa ibadah kita kecil.
Saya pun begitu.
Kadang merasa, “Ah, cuma dua rakaat.”
“Ah, cuma sedekah receh.”
“Ah, cuma istighfar sebentar.”
Padahal mungkin Allah tidak sedang membandingkan durasi, melainkan melihat perjuangan.
Malaikat tidak punya opsi untuk membangkang. Manusia punya. Dan ketika manusia memilih taat — padahal bisa saja tidak — di situlah letak nilainya.
Saya pulang dari masjid dengan satu pertanyaan sederhana: berapa kali saya hampir menyerah tetapi tetap mencoba berdiri? Berapa kali saya hampir lalai tetapi akhirnya kembali? Mungkin itu yang benar-benar dicatat.
Dan tiba-tiba saya memahami ucapan bapak dengan cara yang berbeda.
Mungkin beliau tidak sedang berbicara tentang cepatnya Lebaran.
Mungkin beliau sedang mengajarkan bahwa Ramadan itu singkat. Bahwa setiap Jumat adalah pengingat: waktu berjalan, kesempatan terbatas, dan yang membuat kita sampai pada “Lebaran” bukan seberapa panjang ibadah kita, tetapi seberapa sungguh kita menjalaninya.
Karena bisa jadi, di antara empat atau lima Jumat itu, ada satu Jumat yang benar-benar mengubah kita.
Dan mungkin, itulah Jumat yang membawa kita lebih dekat — bukan hanya ke Lebaran, tapi kepada-Nya. Edan!
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Jumat, 20 Februari 2026
Tidak Ada Ide untuk Menulis
Katanya saya tidak punya ide. Padahal Ramadan selalu punya caranya sendiri untuk membuat hari terasa penuh.
Sahur pertama biasanya berisik. Tabuhan beduk diarak remaja masjid, suara yang kadang mengganggu tidur tapi justru dirindukan setahun sekali. Tapi kemarin berbeda. Hujan turun deras sejak malam. Tidak ada arakan. Tidak ada tabuhan. Hanya suara air yang jatuh tanpa henti, bahkan sampai subuh dan sepanjang hari masih menyisakan rintik yang setia.
![]() |
| Ai, yang buatin. |
Sahur ditemani bayam, telur dadar, dan beberapa frozen food khusus untuk anak-anak. Sederhana. Tidak mewah. Tapi cukup. Dan di Ramadan, “cukup” selalu terasa lebih dari cukup.
Sebenarnya kemarin ingin bermalas-malasan di rumah. Hari pertama puasa, hujan pula. Kombinasi yang sempurna untuk rebahan. Tapi hidup tidak selalu sejalan dengan niat santai kita. STNK yang tertinggal minggu lalu memaksa saya menerobos rintik hujan, membelah Jakarta dengan Transjakarta menuju Cessna Tower, Sudirman.
Ramadan hari pertama, di dalam bus, bersama orang-orang yang mungkin juga sedang menahan lapar dan dahaga. Tidak ada yang saling bicara, tapi rasanya ada kesepakatan diam-diam: kita sama-sama sedang berjuang hari ini.
Hujan masih turun saat perjalanan pulang. Dan entah kenapa, kaki ini memilih singgah ke makam Kober, Puri Beta. Bertemu almarhum bapak.
Ramadan memang sering membuat hati lebih lembut. Di antara rintik hujan dan tanah basah, rasa rindu itu datang tanpa izin. Diam. Tapi dalam.
Menjelang berbuka, dulu mungkin takjil adalah sesuatu yang harus diburu. Tapi sejak berumah tangga, takjil justru lahir dari dapur sendiri. Katanya lebih bersih. Dan mungkin benar, karena rasanya juga jauh lebih hangat.
Jagung rebus, irisan apel merah, somay, dan segelas air putih hangat. Tidak ada yang istimewa. Tapi justru itu istimewanya.
Maghrib berjamaah menjadi penutup hari, sebelum makan malam dan bersiap menyambut tarawih kedua Ramadan.
Lucu ya. Tulisan tentang “tidak ada ide” ini justru menjadi bukti bahwa selama kita hidup, berjalan, rindu, dan bersyukur—kita tidak pernah benar-benar kehabisan cerita.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Kamis, 19 Februari 2026
Masjidnya Tetap, Kita yang Berbeda
Semalam saya sholat tarawih.
Bukan tarawih biasa.
Saya kembali ke masjid tempat saya bertumbuh — dari bocah yang masih bingung membedakan rakaat, sampai dewasa yang kini berusaha terlihat lebih khusyuk.
![]() |
| Dibikinin AI |
Masjid itu penuh. Sampai ke jalan. Saya pun sholat di aspal jalanan di sekitar masjid. Dulu, waktu kecil, sepanjang jalan ini dipasang tenda. Lampu di gantung sederhana. Anak-anak berlarian sebelum iqamah, kadang masih bercanda padahal sudah pakai peci. Semalam tidak ada tenda. Tapi entah kenapa, rasanya justru lebih penuh, mungkin karena saya tidak kecil lagi seperti dulu.
Urutan sholat tarawih masih sama. Setelah sholat isya, ada MC yang membuka rangkaian kegiatan dengan suara yang terdengar campuran antara percaya diri dan gugup. Lalu Bilal melantunkan bahasa arab, seperti sholawat. Setelah sholat tarawih, doa kamilin dibacakan — panjang, khusyuk, dan terasa sangat lama ketika kita masih kecil.
Dan di situlah saya tersenyum sendiri.
Karena dulu… saya pernah ada di posisi itu. Saya pernah ditugaskan panitia Ramadan menjadi MC. Berdiri di depan jamaah, dengan tangan dingin dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Pernah juga menjadi bilal.
Bukan karena ingin tampil. Tapi karena diberi amanah. Dan setiap kali nama saya diumumkan dalam daftar petugas, ada rasa bangga sekaligus deg-degan yang sulit dijelaskan. Takut salah. Takut keliru. Tapi tetap ingin menjalankan dengan sebaik mungkin.
Bertemu teman kecil
Ramadan bukan cuma menguji lapar. Ia menguji ingatan. Yang bikin malam itu makin bermakna adalah bertemu teman-teman lama. Wajahnya sudah berubah, tapi tawanya masih persis seperti dulu.
Kami tidak banyak bicara tentang pekerjaan. Tidak juga tentang pencapaian. Kami justru bernostalgia. Tentang siapa yang dulu suaranya gemetar saat membaca doa kamilin. Tentang siapa yang salah menyebutkan susunan acara. Tentang malam-malam Ramadan yang terasa begitu panjang, tapi justru ingin terus diulang.
Tiba-tiba saya sadar…
Ramadan bukan sekadar menahan lapar.
Ia adalah ruang untuk pulang.
Ke masjid.
Ke kenangan.
Ke versi diri yang lebih sederhana.
Masjidnya masih sama.
Adzannya masih sama.
Doa kamilinnya masih sepanjang dulu.
Yang berubah cuma kita.!
Dulu, ketika ditugaskan menjadi petugas Ramadan, kami merasa punya peran. Merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Merasa dipercaya.
Sekarang?
Sering kali kita terlalu sibuk untuk sekadar hadir lebih awal. Terlalu penuh jadwal untuk sekadar duduk lebih lama setelah salam.
Ramadan ternyata bukan cuma tentang menahan lapar dan haus.
Ia mengajak kita menahan ego.
Menahan merasa paling lelah.
Menahan lupa bahwa kita pernah begitu mencintai suasana ini.
Dan mungkin…
yang perlu kita hidupkan kembali bukan hanya semangat ibadahnya,
tetapi semangat menjadi bagian dari cerita.
Karena boleh jadi,
yang benar-benar kosong bukan perut kita—
melainkan kenangan yang tidak lagi kita rawat.
Itu yang EDAN.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Apa sih EDAN itu?
Apa sih EDAN itu?
Tenang… ini bukan tentang kehilangan akal. Bukan juga tentang sesuatu yang berlebihan. “EDAN” dalam tulisan ini adalah cara saya memaknai Ramadhan.
![]() |
| Dibuat dengan AI |
Karena buat saya, Ramadhan itu memang luar biasa. Ia datang bukan hanya untuk mengubah jadwal makan, tapi untuk mengubah cara kita melihat hidup. Dan sering kali, perubahan itu terasa… ya, seperti sesuatu yang “edan” — beda, kuat, dan mengguncang.
Di sini, EDAN adalah singkatan dari:
E – Evaluasi Diri
Ramadhan selalu punya cara membuat kita berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana saya berjalan? Apa yang perlu diperbaiki? Apa yang harus ditinggalkan?
D – Disiplin Ibadah
Bangun lebih pagi. Menahan diri lebih lama. Menjaga lisan lebih hati-hati. Ramadhan melatih kita bukan hanya kuat menahan lapar, tapi kuat menjaga sikap. Dan disiplin itu tidak datang begitu saja—ia dibangun setiap hari.
A – Aktivitas Bermakna
Ramadhan bukan bulan untuk bermalas-malasan. Justru di sinilah kita diuji: apakah aktivitas kita tetap bernilai? Apakah waktu kita diisi dengan hal yang memberi arti? Mengajar, bekerja, berbagi, berkegiatan sosial—semuanya bisa menjadi ibadah jika diniatkan dengan benar.
N – Nikmat yang Disadari
Yang paling sering terlupa: menyadari nikmat. Nafas yang masih gratis. Kesehatan yang masih ada. Keluarga yang masih lengkap. Kesempatan sujud yang masih Allah beri. Ramadhan membuat kita lebih peka terhadap hal-hal yang sebelumnya terasa biasa.
Tulisan “EDAN” ini bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang perjalanan. Tentang bagaimana saya menjalani Ramadhan dengan segala dinamika, jatuh bangun, niat yang kadang naik turun, dan usaha untuk tetap bertumbuh.
Dan mungkin, di antara cerita-cerita itu, ada bagian yang juga menjadi cermin bagi kita semua.
Karena siapa tahu…
Ramadhan tahun ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tapi momentum perubahan yang benar-benar “EDAN” dalam hidup kita.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉












