Semalam saya sholat tarawih.
Bukan tarawih biasa.
Saya kembali ke masjid tempat saya bertumbuh — dari bocah yang masih bingung membedakan rakaat, sampai dewasa yang kini berusaha terlihat lebih khusyuk.
![]() |
| Dibikinin AI |
Masjid itu penuh. Sampai ke jalan. Saya pun sholat di aspal jalanan di sekitar masjid. Dulu, waktu kecil, sepanjang jalan ini dipasang tenda. Lampu di gantung sederhana. Anak-anak berlarian sebelum iqamah, kadang masih bercanda padahal sudah pakai peci. Semalam tidak ada tenda. Tapi entah kenapa, rasanya justru lebih penuh, mungkin karena saya tidak kecil lagi seperti dulu.
Urutan sholat tarawih masih sama. Setelah sholat isya, ada MC yang membuka rangkaian kegiatan dengan suara yang terdengar campuran antara percaya diri dan gugup. Lalu Bilal melantunkan bahasa arab, seperti sholawat. Setelah sholat tarawih, doa kamilin dibacakan — panjang, khusyuk, dan terasa sangat lama ketika kita masih kecil.
Dan di situlah saya tersenyum sendiri.
Karena dulu… saya pernah ada di posisi itu. Saya pernah ditugaskan panitia Ramadan menjadi MC. Berdiri di depan jamaah, dengan tangan dingin dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Pernah juga menjadi bilal.
Bukan karena ingin tampil. Tapi karena diberi amanah. Dan setiap kali nama saya diumumkan dalam daftar petugas, ada rasa bangga sekaligus deg-degan yang sulit dijelaskan. Takut salah. Takut keliru. Tapi tetap ingin menjalankan dengan sebaik mungkin.
Bertemu teman kecil
Ramadan bukan cuma menguji lapar. Ia menguji ingatan. Yang bikin malam itu makin bermakna adalah bertemu teman-teman lama. Wajahnya sudah berubah, tapi tawanya masih persis seperti dulu.
Kami tidak banyak bicara tentang pekerjaan. Tidak juga tentang pencapaian. Kami justru bernostalgia. Tentang siapa yang dulu suaranya gemetar saat membaca doa kamilin. Tentang siapa yang salah menyebutkan susunan acara. Tentang malam-malam Ramadan yang terasa begitu panjang, tapi justru ingin terus diulang.
Tiba-tiba saya sadar…
Ramadan bukan sekadar menahan lapar.
Ia adalah ruang untuk pulang.
Ke masjid.
Ke kenangan.
Ke versi diri yang lebih sederhana.
Masjidnya masih sama.
Adzannya masih sama.
Doa kamilinnya masih sepanjang dulu.
Yang berubah cuma kita.!
Dulu, ketika ditugaskan menjadi petugas Ramadan, kami merasa punya peran. Merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Merasa dipercaya.
Sekarang?
Sering kali kita terlalu sibuk untuk sekadar hadir lebih awal. Terlalu penuh jadwal untuk sekadar duduk lebih lama setelah salam.
Ramadan ternyata bukan cuma tentang menahan lapar dan haus.
Ia mengajak kita menahan ego.
Menahan merasa paling lelah.
Menahan lupa bahwa kita pernah begitu mencintai suasana ini.
Dan mungkin…
yang perlu kita hidupkan kembali bukan hanya semangat ibadahnya,
tetapi semangat menjadi bagian dari cerita.
Karena boleh jadi,
yang benar-benar kosong bukan perut kita—
melainkan kenangan yang tidak lagi kita rawat.
Itu yang EDAN.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉






