Sabtu, 21 Februari 2026

Jumat

 “Dalam satu bulan Ramadan, selalu ada empat atau lima hari Jumat. Kalau puasa sudah ketemu hari Jumat, itu tandanya sebentar lagi Lebaran.”

Kalimat itu sering diucapkan almarhum bapak ketika saya masih kecil.

Sebagai anak-anak, tentu saja saya langsung senang saat itu. Rasanya seperti menemukan bocoran rahasia atau shortcut. Padahal Ramadan baru berjalan beberapa hari, tapi karena sudah bertemu Jumat, seolah-olah garis finish sudah terlihat. Lebaran terasa dekat. Waktu seperti berlari lebih cepat.

Dulu saya tidak pernah benar-benar memikirkan maksudnya. Saya hanya tahu satu hal: kalau sudah Jumat, berarti sebentar lagi baju baru dipakai, THR tebal dan kue-kue tersaji di meja.

Idenya Ai

Entah kenapa, kalimat sederhana itu tiba-tiba teringat lagi kemarin.

Mungkin karena suasananya sama: Jumat di bulan Ramadan.

Kemarin, saat duduk bersila di masjid untuk sholat Jumat, saya mendengarkan satu kisah yang cukup menggetarkan. Khatib bercerita tentang Malaikat Jibril. Katanya, Jibril pernah shalat satu rakaat yang lamanya puluhan ribu tahun. Puluhan ribu tahun!

Saya terdiam. Bukan ingin menghitungnya, tetapi mencoba membayangkan bagaimana mungkin satu rakaat selama itu.

Lalu sang khatib melanjutkan bahwa setelah ibadah yang begitu panjang, Allah menyampaikan bahwa ibadah seorang manusia — meski hanya sedikit — bisa lebih dicintai karena dilakukan atas perintah-Nya, di tengah segala ujian dan pilihan hidup.

Di situ saya mulai merenung.

Jibril adalah malaikat. Ia tidak pernah bermaksiat. Ia tidak pernah malas. Ia tidak pernah terdistraksi oleh urusan dunia. Ia taat karena memang diciptakan untuk taat.

Sedangkan kita?

Kita shalat sambil melawan kantuk. Kita menahan marah ketika emosi sedang tinggi. Kita memilih jujur ketika peluang untuk curang terbuka. Dan sering kali, kita merasa ibadah kita kecil.

Saya pun begitu.

Kadang merasa, “Ah, cuma dua rakaat.”

“Ah, cuma sedekah receh.”

“Ah, cuma istighfar sebentar.”

Padahal mungkin Allah tidak sedang membandingkan durasi, melainkan melihat perjuangan.

Malaikat tidak punya opsi untuk membangkang. Manusia punya. Dan ketika manusia memilih taat — padahal bisa saja tidak — di situlah letak nilainya.

Saya pulang dari masjid dengan satu pertanyaan sederhana: berapa kali saya hampir menyerah tetapi tetap mencoba berdiri? Berapa kali saya hampir lalai tetapi akhirnya kembali? Mungkin itu yang benar-benar dicatat.

Dan tiba-tiba saya memahami ucapan bapak dengan cara yang berbeda.

Mungkin beliau tidak sedang berbicara tentang cepatnya Lebaran.

Mungkin beliau sedang mengajarkan bahwa Ramadan itu singkat. Bahwa setiap Jumat adalah pengingat: waktu berjalan, kesempatan terbatas, dan yang membuat kita sampai pada “Lebaran” bukan seberapa panjang ibadah kita, tetapi seberapa sungguh kita menjalaninya.

Karena bisa jadi, di antara empat atau lima Jumat itu, ada satu Jumat yang benar-benar mengubah kita.

Dan mungkin, itulah Jumat yang membawa kita lebih dekat — bukan hanya ke Lebaran, tapi kepada-Nya. Edan!

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Jumat, 20 Februari 2026

Tidak Ada Ide untuk Menulis

Katanya saya tidak punya ide. Padahal Ramadan selalu punya caranya sendiri untuk membuat hari terasa penuh.

Sahur pertama biasanya berisik. Tabuhan beduk diarak remaja masjid, suara yang kadang mengganggu tidur tapi justru dirindukan setahun sekali. Tapi kemarin berbeda. Hujan turun deras sejak malam. Tidak ada arakan. Tidak ada tabuhan. Hanya suara air yang jatuh tanpa henti, bahkan sampai subuh dan sepanjang hari masih menyisakan rintik yang setia.

Ai, yang buatin.

Sahur ditemani bayam, telur dadar, dan beberapa frozen food khusus untuk anak-anak. Sederhana. Tidak mewah. Tapi cukup. Dan di Ramadan, “cukup” selalu terasa lebih dari cukup.

Sebenarnya kemarin ingin bermalas-malasan di rumah. Hari pertama puasa, hujan pula. Kombinasi yang sempurna untuk rebahan. Tapi hidup tidak selalu sejalan dengan niat santai kita. STNK yang tertinggal minggu lalu memaksa saya menerobos rintik hujan, membelah Jakarta dengan Transjakarta menuju Cessna Tower, Sudirman.

Ramadan hari pertama, di dalam bus, bersama orang-orang yang mungkin juga sedang menahan lapar dan dahaga. Tidak ada yang saling bicara, tapi rasanya ada kesepakatan diam-diam: kita sama-sama sedang berjuang hari ini.

Hujan masih turun saat perjalanan pulang. Dan entah kenapa, kaki ini memilih singgah ke makam Kober, Puri Beta. Bertemu almarhum bapak.

Ramadan memang sering membuat hati lebih lembut. Di antara rintik hujan dan tanah basah, rasa rindu itu datang tanpa izin. Diam. Tapi dalam.

Menjelang berbuka, dulu mungkin takjil adalah sesuatu yang harus diburu. Tapi sejak berumah tangga, takjil justru lahir dari dapur sendiri. Katanya lebih bersih. Dan mungkin benar, karena rasanya juga jauh lebih hangat.

Jagung rebus, irisan apel merah, somay, dan segelas air putih hangat. Tidak ada yang istimewa. Tapi justru itu istimewanya.

Maghrib berjamaah menjadi penutup hari, sebelum makan malam dan bersiap menyambut tarawih kedua Ramadan.

Lucu ya. Tulisan tentang “tidak ada ide” ini justru menjadi bukti bahwa selama kita hidup, berjalan, rindu, dan bersyukur—kita tidak pernah benar-benar kehabisan cerita.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Kamis, 19 Februari 2026

Masjidnya Tetap, Kita yang Berbeda

Semalam saya sholat tarawih.

Bukan tarawih biasa.

Saya kembali ke masjid tempat saya bertumbuh — dari bocah yang masih bingung membedakan rakaat, sampai dewasa yang kini berusaha terlihat lebih khusyuk.

Dibikinin AI

Masjid itu penuh. Sampai ke jalan. Saya pun sholat di aspal jalanan di sekitar masjid. Dulu, waktu kecil, sepanjang jalan ini dipasang tenda. Lampu di gantung sederhana. Anak-anak berlarian sebelum iqamah, kadang masih bercanda padahal sudah pakai peci. Semalam tidak ada tenda. Tapi entah kenapa, rasanya justru lebih penuh, mungkin karena saya tidak kecil lagi seperti dulu.

Urutan sholat tarawih masih sama. Setelah sholat isya, ada MC yang membuka rangkaian kegiatan dengan suara yang terdengar campuran antara percaya diri dan gugup. Lalu Bilal melantunkan bahasa arab, seperti sholawat. Setelah sholat tarawih, doa kamilin dibacakan — panjang, khusyuk, dan terasa sangat lama ketika kita masih kecil.

Dan di situlah saya tersenyum sendiri.

Karena dulu… saya pernah ada di posisi itu. Saya pernah ditugaskan panitia Ramadan menjadi MC. Berdiri di depan jamaah, dengan tangan dingin dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Pernah juga menjadi bilal. 

Bukan karena ingin tampil. Tapi karena diberi amanah. Dan setiap kali nama saya diumumkan dalam daftar petugas, ada rasa bangga sekaligus deg-degan yang sulit dijelaskan. Takut salah. Takut keliru. Tapi tetap ingin menjalankan dengan sebaik mungkin.

Bertemu teman kecil

Ramadan bukan cuma menguji lapar. Ia menguji ingatan. Yang bikin malam itu makin bermakna adalah bertemu teman-teman lama. Wajahnya sudah berubah, tapi tawanya masih persis seperti dulu. 

Kami tidak banyak bicara tentang pekerjaan. Tidak juga tentang pencapaian. Kami justru bernostalgia. Tentang siapa yang dulu suaranya gemetar saat membaca doa kamilin. Tentang siapa yang salah menyebutkan susunan acara. Tentang malam-malam Ramadan yang terasa begitu panjang, tapi justru ingin terus diulang.


Tiba-tiba saya sadar…

Ramadan bukan sekadar menahan lapar.

Ia adalah ruang untuk pulang.

Ke masjid.

Ke kenangan.

Ke versi diri yang lebih sederhana.


Masjidnya masih sama.

Adzannya masih sama.

Doa kamilinnya masih sepanjang dulu.


Yang berubah cuma kita.!


Dulu, ketika ditugaskan menjadi petugas Ramadan, kami merasa punya peran. Merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Merasa dipercaya.


Sekarang?

Sering kali kita terlalu sibuk untuk sekadar hadir lebih awal. Terlalu penuh jadwal untuk sekadar duduk lebih lama setelah salam.


Ramadan ternyata bukan cuma tentang menahan lapar dan haus.

Ia mengajak kita menahan ego.

Menahan merasa paling lelah.

Menahan lupa bahwa kita pernah begitu mencintai suasana ini.


Dan mungkin…

yang perlu kita hidupkan kembali bukan hanya semangat ibadahnya,

tetapi semangat menjadi bagian dari cerita.


Karena boleh jadi,

yang benar-benar kosong bukan perut kita—

melainkan kenangan yang tidak lagi kita rawat.


Itu yang EDAN.


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Apa sih EDAN itu?

Apa sih EDAN itu?

Tenang… ini bukan tentang kehilangan akal. Bukan juga tentang sesuatu yang berlebihan. “EDAN” dalam tulisan ini adalah cara saya memaknai Ramadhan.

Dibuat dengan AI

Karena buat saya, Ramadhan itu memang luar biasa. Ia datang bukan hanya untuk mengubah jadwal makan, tapi untuk mengubah cara kita melihat hidup. Dan sering kali, perubahan itu terasa… ya, seperti sesuatu yang “edan” — beda, kuat, dan mengguncang.

Di sini, EDAN adalah singkatan dari:

E – Evaluasi Diri

Ramadhan selalu punya cara membuat kita berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana saya berjalan? Apa yang perlu diperbaiki? Apa yang harus ditinggalkan?

D – Disiplin Ibadah

Bangun lebih pagi. Menahan diri lebih lama. Menjaga lisan lebih hati-hati. Ramadhan melatih kita bukan hanya kuat menahan lapar, tapi kuat menjaga sikap. Dan disiplin itu tidak datang begitu saja—ia dibangun setiap hari.

A – Aktivitas Bermakna

Ramadhan bukan bulan untuk bermalas-malasan. Justru di sinilah kita diuji: apakah aktivitas kita tetap bernilai? Apakah waktu kita diisi dengan hal yang memberi arti? Mengajar, bekerja, berbagi, berkegiatan sosial—semuanya bisa menjadi ibadah jika diniatkan dengan benar.

N – Nikmat yang Disadari

Yang paling sering terlupa: menyadari nikmat. Nafas yang masih gratis. Kesehatan yang masih ada. Keluarga yang masih lengkap. Kesempatan sujud yang masih Allah beri. Ramadhan membuat kita lebih peka terhadap hal-hal yang sebelumnya terasa biasa.

Tulisan “EDAN” ini bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang perjalanan. Tentang bagaimana saya menjalani Ramadhan dengan segala dinamika, jatuh bangun, niat yang kadang naik turun, dan usaha untuk tetap bertumbuh.

Dan mungkin, di antara cerita-cerita itu, ada bagian yang juga menjadi cermin bagi kita semua.

Karena siapa tahu…

Ramadhan tahun ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tapi momentum perubahan yang benar-benar “EDAN” dalam hidup kita.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow ðŸ˜‰

Senin, 26 Januari 2026

Emas dan Perak untuk Sekolah! Selamat Atas Prestasi Luar Biasa Tim Pencak Silat SDN Cipulir 05

JAKARTA – Senyum bahagia dan rasa bangga tengah menyelimuti keluarga besar SDN Cipulir 05. Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh siswa-siswi terbaik kita dalam ajang bela diri Universitas Budi Luhur Championship yang diselenggarakan pada Sabtu, 24 Januari 2026, di Universitas Budi Luhur. Perhelatan bergengsi ini pun terasa semakin istimewa karena mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Jakarta Selatan, serta Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Sinergi dari berbagai pihak ini menjadi panggung yang luar biasa bagi para atlet muda untuk menunjukkan bakat dan sportivitas mereka di tingkat yang lebih luas.

Daftar Juara Kebanggaan Sekolah

Keberhasilan ini diawali oleh penampilan luar biasa dari Juna Sakha Alfaqih, yang dengan performa meyakinkannya membuktikan bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati proses hingga ia sukses mengukuhkan diri sebagai yang terbaik dan meraih Medali Emas.

Semangat juang juga ditunjukkan oleh Ashalina Aisha Staczi Riyani, yang tampil penuh keberanian dan disiplin tinggi sebagai pengingat bahwa keteguhan hati adalah kunci untuk membawa pulang Medali Perak.

Tak ketinggalan, Mochammad Gibran pun memberikan pelajaran berharga tentang arti pantang menyerah melalui perjuangan sengitnya hingga detik terakhir demi menyumbangkan Medali Perak bagi sekolah. Ketiga pendekar muda ini telah membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat, setiap rintangan di arena bisa diubah menjadi prestasi yang membanggakan.

Kolaborasi Pelatih dan Manajemen Ekskul

Kesuksesan ini merupakan buah dari pembinaan yang matang. Kak Rifqi, selaku pelatih, menjadi sosok penting yang mengasah fisik dan teknik para siswa setiap minggunya. Di bawah arahan beliau, para siswa tidak hanya belajar cara bertanding, tetapi juga tentang sportivitas dan disiplin diri.

Dukungan operasional dan koordinasi yang apik juga datang dari Ibu Nunung selaku Penanggung Jawab Ekskul Pencak Silat. Beliau memastikan bahwa setiap kegiatan ekstrakurikuler berjalan dengan standar yang baik, sehingga bakat-bakat terpendam siswa dapat tersalurkan ke jalur prestasi yang tepat.

Dukungan Luar Biasa dari Orang Tua

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam kesuksesan ini adalah peran orang tua. Pihak sekolah menyadari bahwa di balik anak yang berprestasi, ada orang tua yang luar biasa hebatnya. Dukungan moral, tenaga, hingga waktu yang dikorbankan orang tua untuk mengantar jemput latihan dan mendampingi langsung di lokasi pertandingan adalah energi terbesar bagi anak-anak.

Sorakan semangat dari para orang tua di pinggir gelanggang menjadi tambahan tenaga bagi Juna, Ashalina, dan Gibran saat mereka mulai merasa lelah. Sinergi antara dukungan rumah dan pembinaan di sekolah inilah yang menciptakan mental juara pada diri siswa.

Apresiasi dari Kepala Sekolah

Kepala SDN Cipulir 05, Ibu Hartiningsih, menyampaikan apresiasi yang luar biasa atas kerja sama semua pihak yang terlibat. Beliau mengungkapkan rasa bangganya melihat sinergi yang harmonis antara pihak sekolah, pelatih, dan para orang tua yang telah memercayakan putra-putrinya untuk dibina di lingkungan SDN Cipulir 05. Menurut beliau, kemenangan ini bukan hanya milik para atlet, melainkan hasil dari dukungan kolektif yang kuat, membuktikan bahwa kolaborasi yang baik antara rumah dan sekolah akan selalu membuahkan hasil yang manis bagi perkembangan bakat siswa.

Menuju Prestasi yang Lebih Tinggi

Prestasi di Universitas Budi Luhur Championship ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk tantangan yang lebih besar di masa depan. Semoga semangat juang ini menular kepada seluruh siswa SDN Cipulir 05 lainnya untuk terus berprestasi, baik dalam bidang olahraga, seni, maupun akademik.

Selamat kepada para pemenang! Teruslah membumi, teruslah berlatih, dan jadilah inspirasi bagi sesama.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow ðŸ˜‰