Status resmi sebagai guru ternyata langsung diuji bahkan sebelum saya sempat menyentuh spidol dan papan tulis. Agenda pembuka yang harus saya lewati adalah RAKER alias Rapat Kerja, rutinitas tahunan yang digelar tepat satu minggu sebelum lonceng tahun ajaran baru resmi berdentang.
Sebagai karyawan baru—eh, maksud saya seorang guru baru—adaptasi menjadi harga mati. Apalagi dengan latar belakang murni dari dunia IT yang minim pengalaman pedagogis, saya merasa menjadi orang paling kosong di seantero ruangan itu. Kertas kosong yang benar-benar polos.
Pagi itu, kedisiplinan para pendidik langsung tampak nyata. Tiga puluh menit sebelum waktu yang ditentukan, seluruh guru sudah hadir dan berkumpul. Rapat dibuka dengan luwes oleh Ms. Irine sebagai moderator, sebelum kemudian panggung diserahkan kepada Kepala Sekolah selaku narasumber. Suasana sangat cair; rasa kekeluargaan dan kebersamaan begitu kental terasa di ruangan tersebut, meredakan ketegangan saya yang sejak pagi dilanda gugup.
Isi pembahasannya adalah cerita lain. Raker di lingkungan sekolah menyajikan dimensi yang sangat bertolak belakang dengan rapat perusahaan pada umumnya. Detailnya luar biasa padat. Mulai dari silabus yang sudah disiapkan pihak yayasan, penyampaian kalender akademik yang telah disusun Kepala Sekolah, hingga program kelas yang diserahkan kepada guru untuk diracik dalam bentuk lesson plan. Kepala saya mulai terasa penuh menyerap setiap peristilahan baru tersebut.
Di tengah raker, salah satu guru pria meminta izin untuk keluar ruangan sejenak. Menit demi menit berlalu tanpa tanda-tanda kembalinya sang rekan, sementara materi yang dipaparkan kian mendekati pokok pembahasan penting yang harus didengar seluruh karyawan. Saya yang kebetulan masih anak baru diberikan tugas untuk memanggil guru tersebut. Saya pun melaksanakannya dan beranjak meninggalkan ruangan.
Sekembalinya saya bersama guru yang dicari, suasana ruangan mendadak tidak bersahabat. Hening!
Ada apa ini? pikir saya.
"Maksud kamu apa, Ndra?!" ketus Kepala Sekolah memecah kesunyian.
Saya yang mendengar pertanyaan tersebut bingung bukan kepalang.
"Tidak suka saya suruh, kamu?!" lanjut Kepala Sekolah lagi.
Semakin bingung saya dibuatnya.
Tanpa menghiraukan kebingungan saya, Kepala Sekolah menambahkan dengan tegas:
"Setelah rapat ini, temui saya di kantor!"
Beliau langsung merapikan map berkas di mejanya dengan kasar, berdiri tanpa menoleh ke siapa pun, lalu melangkah lebar keluar dari ruang rapat. Pintu berderit menutup di belakangnya, meninggalkan keheningan yang makin berat menggantung di udara.
"Waduh," batin saya mencelos sambil melirik Ms. Wilda yang duduk tepat di sebelah saya.
"Kenapa sih lo?" bisik Ms. Wilda, seakan tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala saya.
Mendengar bisikan itu, saya malah makin bingung.
"Memang kenapa, Ms?" tanya saya pelan.
"Kaki lo tuh, Kepsek gak suka," balas Ms. Wilda singkat.
Asli, makin tidak masuk akal di kepala saya.
"Ke ruang Kepsek sana, sudah ditunggu," kata Ms. Wilda lagi membuyarkan lamunan saya.
Langkah kaki saya menyusuri koridor sekolah terasa jauh lebih berat dari biasanya. Jarak dari ruang rapat menuju ruang Kepala Sekolah sebenarnya tidak seberapa, tetapi sunyinya lorong dan dinginnya lantai keramik membuat langkah saya melambat, dipenuhi rasa waswas atas apa yang menanti di balik pintu.
Begitu sampai di depan pintu ruang pimpinan, saya menarik napas panjang, mengetuk pelan tiga kali, dan melangkah masuk.
Belum sempat pantat saya menyentuh kursi di hadapannya, cecaran kalimat bernada tinggi langsung menyambar.
"Maksud kamu apa, menghentakkan kaki keras-keras saat saya minta tolong?!" serang Kepala Sekolah tanpa basa-basi, tatapannya menghunus tajam.
Teka-teki yang sejak tadi menggantung akhirnya terang benderang. Beban di dada saya mendadak terangkat, digantikan rasa lega karena akar persoalannya ternyata murni kesalahpahaman belaka, bukan pembangkangan sikap.
Saya menegakkan bahu, menatap beliau dengan tenang, lalu berbicara sepelan mungkin, berusaha mengatur napas.
"Mohon maaf sekali, Bu, kalau langkah saya tadi berkesan salah di mata Ibu. Sungguh, saya tidak ada niat membantah sama sekali. Jujur, saya tadi kaget dan gugup pas diminta tolong di tengah forum. Karena panik ingin cepat-cepat manggil dan nggak mau bikin rapat tertunda, saya refleks buru-buru berdiri sampai langkah kaki saya jadi serampangan dan kedengaran menghentak. Benar-benar murni karena grogi, Bu."
Mendengar penjelasan yang jujur dan masuk akal itu, raut tegang di wajah Kepala Sekolah perlahan mulai mengendur.
Satu detik... dua detik... lalu pertahanan beliau runtuh total. Tawa renyah seketika meledak dari mulut Kepala Sekolah, membuat saya terkesiap keheranan.
Tepat saat tawa itu pecah, pintu ruangan di belakang saya terdorong terbuka. Seluruh warga sekolah—bapak dan ibu guru serta staf yang tadi memasang wajah dingin tanpa ekspresi di ruang rapat—kini berdiri berkerumun dengan senyum merekah dan tepuk tangan riuh.
"Selamat bergabung di sekolah kita, Pak Indra!" seru mereka bersahut-sahutan.
Kepanikan dan rasa bersalah yang sempat mencengkeram dada seketika buyar. Ternyata seluruh ketegangan ini adalah skenario sambutan yang sengaja dirancang untuk menguji mental anak baru. Sungguh sebuah sambutan hangat yang sama sekali tidak pernah saya duga, meski sukses membuat jantung serasa copot.
"Terima kasih semua..." ucap saya pelan dengan senyum haru yang tak bisa lagi saya sembunyikan.









