Malam Senin, selepas tarawih, saya duduk di saf yang tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang. Seperti biasa ada ceramah, dan yang mengisi malam itu adalah Ustadz Hasanuddin.
Beliau spesial.
Bukan hanya karena dakwahnya yang penuh tenaga dan mengalir deras tanpa teks. Tapi juga karena kondisi fisiknya. Kedua tangan beliau tidak memiliki jari yang utuh. Setiap jarinya hanya satu ruas. Saat beliau memegang mikrofon, saya sempat terdiam. Ada sesuatu yang menegur sebelum beliau mulai berbicara.
Beliau berceramah tentang Al-Qur’an.
Tentang bagaimana setiap Ramadan suasana selalu berubah. Masjid lebih ramai. Jadwal tidur berantakan. Undangan buka puasa berdatangan. Grup WhatsApp penuh doa dan ucapan. Semua terasa hidup.
Tapi pertanyaannya sederhana.
Apakah Al-Qur’an ikut hidup juga di rumah kita?
Atau ia hanya pindah posisi dari rak paling atas ke meja, lalu kembali lagi tanpa benar-benar dibaca?
Ramadan disebut sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Ayat itu sering kita dengar. Bahkan hafal. Tapi mungkin kita terlalu sering mendengar tanpa benar-benar merasa.
Kalau Ramadan adalah bulan cahaya, maka Al-Qur’an seharusnya bukan sekadar target khatam. Ia seharusnya jadi teman duduk. Teman diam. Teman berpikir.
Saya jadi malu sendiri.
Tangan saya lengkap. Jari saya utuh. Saya bisa membuka mushaf dengan mudah. Bisa menggulir aplikasi Al-Qur’an di ponsel tanpa hambatan. Tapi sering kali yang berat bukan membuka mushafnya.
Yang berat adalah meluangkan hati.
Beliau mengingatkan bahwa setiap huruf bernilai pahala. Dilipatgandakan lagi di bulan Ramadan. Tapi malam itu saya merasa yang lebih penting bukan angka pahalanya.
Melainkan sejauh mana ayat itu menyentuh.
Puasa membuat tubuh lelah. Aktivitas tetap jalan. Emosi kadang naik turun. Justru di situ Al-Qur’an seharusnya jadi penenang. Bukan hanya dibaca cepat-cepat setelah tarawih, tapi dihadirkan.
Mungkin bukan soal berapa juz yang selesai.
Mungkin soal berapa ayat yang benar-benar tinggal.
Karena bisa jadi satu ayat yang dipahami dan diamalkan jauh lebih berat timbangannya daripada halaman-halaman yang hanya lewat di mata.
Ramadan datang setiap tahun. Tapi kita tidak pernah tahu apakah kita akan bertemu lagi dengannya.
Dan malam itu, melihat seorang ustadz yang jari-jarinya tidak utuh namun begitu kuat menggenggam Al-Qur’an dalam hidupnya, saya merasa seperti sedang ditegur pelan.
Selama ini, siapa yang sebenarnya memiliki keterbatasan?
Kadang kita merasa tidak punya waktu, merasa lelah, merasa terlalu sibuk untuk membuka mushaf. Tapi mungkin yang kurang bukan waktunya atau tenaganya, melainkan kemauannya. Ramadan tidak meminta kita sempurna, hanya meminta kita mendekat. Dan jika tangan yang tidak utuh saja mampu menggenggam Al-Qur’an dengan begitu kuat, lalu saya yang jarinya lengkap ini masih
ingin beralasan apa?
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉








