“Dalam satu bulan Ramadan, selalu ada empat atau lima hari Jumat. Kalau puasa sudah ketemu hari Jumat, itu tandanya sebentar lagi Lebaran.”
Kalimat itu sering diucapkan almarhum bapak ketika saya masih kecil.
Sebagai anak-anak, tentu saja saya langsung senang saat itu. Rasanya seperti menemukan bocoran rahasia atau shortcut. Padahal Ramadan baru berjalan beberapa hari, tapi karena sudah bertemu Jumat, seolah-olah garis finish sudah terlihat. Lebaran terasa dekat. Waktu seperti berlari lebih cepat.
Dulu saya tidak pernah benar-benar memikirkan maksudnya. Saya hanya tahu satu hal: kalau sudah Jumat, berarti sebentar lagi baju baru dipakai, THR tebal dan kue-kue tersaji di meja.
![]() |
| Idenya Ai |
Entah kenapa, kalimat sederhana itu tiba-tiba teringat lagi kemarin.
Mungkin karena suasananya sama: Jumat di bulan Ramadan.
Kemarin, saat duduk bersila di masjid untuk sholat Jumat, saya mendengarkan satu kisah yang cukup menggetarkan. Khatib bercerita tentang Malaikat Jibril. Katanya, Jibril pernah shalat satu rakaat yang lamanya puluhan ribu tahun. Puluhan ribu tahun!
Saya terdiam. Bukan ingin menghitungnya, tetapi mencoba membayangkan bagaimana mungkin satu rakaat selama itu.
Lalu sang khatib melanjutkan bahwa setelah ibadah yang begitu panjang, Allah menyampaikan bahwa ibadah seorang manusia — meski hanya sedikit — bisa lebih dicintai karena dilakukan atas perintah-Nya, di tengah segala ujian dan pilihan hidup.
Di situ saya mulai merenung.
Jibril adalah malaikat. Ia tidak pernah bermaksiat. Ia tidak pernah malas. Ia tidak pernah terdistraksi oleh urusan dunia. Ia taat karena memang diciptakan untuk taat.
Sedangkan kita?
Kita shalat sambil melawan kantuk. Kita menahan marah ketika emosi sedang tinggi. Kita memilih jujur ketika peluang untuk curang terbuka. Dan sering kali, kita merasa ibadah kita kecil.
Saya pun begitu.
Kadang merasa, “Ah, cuma dua rakaat.”
“Ah, cuma sedekah receh.”
“Ah, cuma istighfar sebentar.”
Padahal mungkin Allah tidak sedang membandingkan durasi, melainkan melihat perjuangan.
Malaikat tidak punya opsi untuk membangkang. Manusia punya. Dan ketika manusia memilih taat — padahal bisa saja tidak — di situlah letak nilainya.
Saya pulang dari masjid dengan satu pertanyaan sederhana: berapa kali saya hampir menyerah tetapi tetap mencoba berdiri? Berapa kali saya hampir lalai tetapi akhirnya kembali? Mungkin itu yang benar-benar dicatat.
Dan tiba-tiba saya memahami ucapan bapak dengan cara yang berbeda.
Mungkin beliau tidak sedang berbicara tentang cepatnya Lebaran.
Mungkin beliau sedang mengajarkan bahwa Ramadan itu singkat. Bahwa setiap Jumat adalah pengingat: waktu berjalan, kesempatan terbatas, dan yang membuat kita sampai pada “Lebaran” bukan seberapa panjang ibadah kita, tetapi seberapa sungguh kita menjalaninya.
Karena bisa jadi, di antara empat atau lima Jumat itu, ada satu Jumat yang benar-benar mengubah kita.
Dan mungkin, itulah Jumat yang membawa kita lebih dekat — bukan hanya ke Lebaran, tapi kepada-Nya. Edan!
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉









