Kamis, 05 Maret 2026

Half Time

Setengah Jalan, Jangan Setengah Hati

Ramadan Bukan Sekadar Memulai, Tapi Menyelesaikan

Karena yang menentukan bukan babak pertama, tapi bagaimana kita menutup pertandingan.

Hari ini, Ramadan sudah memasuki malam ke-16. Tidak terasa, setengah perjalanan sudah kita lewati. Rasanya baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh semangat, menyusun target, membuat daftar amalan, berjanji ingin lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sudah banyak yang kita lakukan. Salat lima waktu lebih dijaga di awal waktu. Tadarus Al-Qur’an lebih sering terdengar dari bibir yang biasanya sibuk dengan urusan dunia. Sahur dan berbuka menjadi momen yang lebih bermakna. Malam-malam kita lebih hidup dengan tarawih dan witir. Siraman rohani lebih sering kita dengar, entah dari masjid, kajian, atau potongan video yang tiba-tiba terasa “kena”.

Lalu sekarang pertanyaannya bukan lagi, “Sudah apa yang kita lakukan?”

Tapi…

“Apa yang harus kita siapkan untuk setengah perjalanan berikutnya?”

Karena sering kali, tantangan terbesar bukan di awal. Tantangan terbesar ada di tengah. Di titik ketika semangat mulai biasa saja. Di saat tubuh mulai lelah. Di waktu target mulai terasa berat.

Setengah Ramadan yang tersisa bukan soal menambah daftar amalan, tapi menjaga api yang sudah menyala. Jangan sampai yang di awal membara, di akhir hanya jadi bara.

Mungkin yang perlu kita siapkan bukan hanya fisik, tapi niat yang diperbarui. Bukan hanya jadwal ibadah, tapi hati yang lebih hadir. Bukan hanya banyaknya bacaan, tapi dalamnya perenungan.

Karena separuh terakhir Ramadan adalah fase naik kelas. Di situlah ada malam-malam terbaik. Di situlah ada peluang yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Kalau separuh pertama tentang membangun kebiasaan, maka separuh kedua tentang menguatkan kesungguhan. Jangan sampai kita kuat di start, tapi melambat di finish. Jangan sampai kita ramai di awal, tapi sunyi di akhir.

Ramadan tidak butuh kita yang sempurna. Ia hanya butuh kita yang konsisten. Dan mungkin… malam ke-16 ini bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah pengingat halus bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, walaupun saya yakin jika kesempatan itu pasti datang kembali, namun entah kapan dan momen yang berbeda.

Masih ada setengah jalan. Masih ada ruang untuk memperbaiki. Masih ada waktu untuk lebih sungguh-sungguh. Karena bisa jadi… yang menentukan bukan bagaimana kita memulai Ramadan, tapi bagaimana kita mengakhirinya. 🔥🌙


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉


Sahur on the Road


Masih teringat suasana malam menjelang sahur. Malam itu Karang Taruna RW 08 Ciledug Indah bersama Remaja Masjid Daarussalam menginisiasi kegiatan sahur on the road. Puluhan remaja putra dan putri berkumpul di kantor RW untuk bersama-sama konvoi menuju Rumah Yatim Nurul Imaan di Petukangan, Jakarta Selatan.

Puluhan motor dan dua mobil berjalan beriringan. Jalanan lengang, karena waktu masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya, namun semangat anak-anak muda itu justru hangat. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, tetapi rasanya seperti perjalanan menuju sesuatu yang lebih dari sekadar berbagi makanan.

Sesampainya di lokasi, paket sahur berupa nasi box diturunkan untuk dinikmati bersama saudara-saudara yatim di sana. Kegiatan diawali dengan sambutan dari ketua karang taruna, ketua remaja masjid, dan pimpinan rumah yatim. Lalu suasana berubah menjadi lebih akrab. Duduk melingkar, menyantap sahur bersama, berbagi cerita sederhana, hingga akhirnya ditutup dengan salat Subuh berjamaah.

Di tengah udara dini hari yang masih sejuk itu, kebersamaan terasa berbeda. Ini bukan sekadar konvoi atau dokumentasi kegiatan, tetapi latihan kepedulian. Para remaja belajar bangun lebih awal bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menghadirkan kebahagiaan kecil bagi orang lain. Mereka belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang memahami rasa lapar yang mungkin setiap hari dirasakan sebagian orang.

Bagi adik-adik di rumah yatim, kehadiran rombongan sahur itu bukan hanya soal makanan. Ada rasa diperhatikan. Ada kebahagiaan karena sahur yang biasanya sunyi menjadi lebih hidup. Tawa kecil, doa bersama, dan kebersamaan sederhana itu menciptakan hangat yang sulit dijelaskan.

Namun mungkin yang paling bermakna justru terasa saat perjalanan pulang. Jalanan masih sepi, langit mulai berubah warna, dan hati terasa lebih lapang. Kita datang membawa makanan, tetapi pulang membawa kesadaran. Kesadaran bahwa berbagi tidak pernah membuat kita berkurang. Justru di situlah kita sering kali merasa lebih cukup.

Barangkali memang begitu hakikat sahur on the road. Bukan tentang ramainya iring-iringan kendaraan, tetapi tentang ramainya hati yang tergerak. Bukan tentang sejauh apa perjalanan ditempuh, tetapi tentang sejauh mana kepedulian tumbuh.

Karena pada akhirnya, sahur bukan hanya tentang mengisi perut sebelum fajar. Ia tentang mengisi hati sebelum cahaya datang. Dan mungkin, di antara gelapnya dini hari dan cahaya Subuh yang perlahan menyingsing, kita sedang belajar satu hal sederhana: kebaikan yang dilakukan dalam sunyi sering kali meninggalkan cahaya yang paling lama tinggal di hati.


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Rabu, 04 Maret 2026

Ngabuburead

Menjelang magrib, waktu sering terasa menggantung. Tidak cukup panjang untuk memulai sesuatu yang serius, tapi terlalu sayang kalau hanya dihabiskan dengan menunggu sambil melihat jam. Dari situlah saya terpikir satu istilah sederhana: ngabuburead.


Kalau ngabuburit biasanya diisi dengan jalan-jalan atau berburu takjil, kali ini saya ingin mencobanya dengan membaca. Tidak perlu lama. Tidak harus buku yang berat. Beberapa halaman saja. Satu artikel ringan. Atau beberapa ayat yang dibaca perlahan.

Aneh tapi terasa berbeda. Saat perut mulai kosong, suasana justru lebih tenang. Tidak banyak distraksi. Pikiran seperti lebih siap menerima. Waktu yang biasanya terasa lambat, tiba-tiba menjadi bermakna.

Ngabuburead bukan tentang menjadi rajin mendadak. Bukan juga tentang mengejar target bacaan. Ia hanya cara sederhana agar waktu menunggu tidak kosong. Agar sore hari tidak hanya berlalu, tetapi juga menambah isi.
Karena mungkin, di antara rasa lapar dan detik-detik menuju azan, ada ruang kecil yang bisa kita isi dengan ilmu. Dan siapa tahu, dari kebiasaan kecil itu, lahir kecintaan baru pada membaca.

Kalau menunggu magrib saja bisa kita isi dengan bacaan, mungkin pelan-pelan kita akan sadar: membaca tidak butuh waktu luang yang panjang. Ia hanya butuh kemauan untuk memulai.

Dan barangkali, suatu hari nanti, kita tidak lagi sekadar menunggu waktu berbuka—tetapi menunggu halaman berikutnya untuk dibuka.

Jadi, siap berapa buku yang akan diajak ngabuburead?

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉

Yang Kamu Keluhkan, Bisa Jadi Cara Allah Menaikkanmu

Pagi ini saya membaca pesan di grup WA Guru Penggerak. Pak Yayan yang mempostingnya. “Yang lagi diuji, yakinlah itu bentuk cinta Allah SWT.” Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Sederhana. Singkat. Tapi di balik pesan itu ada cuplikan video yang entah kenapa menggetarkan hati saya: “Belajarlah mencintai ujianmu, karena yang mengujimu sedang mencintaimu.” Dari kalimat itulah saya mendapatkan ide untuk materi EDAN hari ini.

Awalnya saya terdiam. Karena jujur saja, siapa yang benar-benar suka diuji? Saat keadaan tidak sesuai rencana, saat usaha belum berbuah hasil, saat hati terasa lelah—rasanya sulit sekali menyebut itu sebagai cinta.

Lalu saya teringat: bukankah kita sedang berada di bulan ujian?

Puasa itu ujian yang kita jalani dengan sadar. Kita tahu akan lapar, akan haus, akan lelah. Kita tahu bangun sahur itu berat. Kita tahu menahan emosi itu tidak mudah. Tapi tetap kita jalani. Mengapa? Karena kita percaya ada nilai di baliknya. Ada pahala. Ada kedekatan dengan Allah. Ada pembentukan diri yang tidak selalu terlihat.

Jika lapar saja bisa kita terima sebagai bagian dari ibadah, mengapa ujian hidup sering kita tolak mentah-mentah?

Seorang guru memberi ujian untuk melihat kesiapan muridnya naik kelas. Ramadan pun seperti itu. Ia menguji kesabaran, menguji konsistensi, menguji keikhlasan. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. Bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk membersihkan.

Belajar mencintai ujian mungkin tidak berarti menikmati rasa laparnya. Tetapi menerima bahwa setiap rasa tidak nyaman itu sedang membentuk versi diri yang lebih baik. Bahwa setiap godaan yang berhasil ditahan adalah kemenangan kecil yang dicatat.

Dan mungkin benar, jika puasa adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya, maka ujian hidup pun demikian. Ia datang bukan untuk merusak, tetapi untuk merapikan. Bukan untuk menjauhkan, tetapi untuk mendekatkan.

Karena cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan. Kadang ia hadir dalam bentuk Ramadan—yang melatih kita bertahan, agar setelahnya kita naik kelas sebagai pribadi yang lebih matang.

Dan pertanyaannya sederhana:
kalau Ramadan saja kita jalani dengan sabar karena yakin ada pahala di ujungnya, mengapa ujian di luar Ramadan sering kita hadapi dengan prasangka?

Barangkali bukan ujiannya yang harus kita benci, tetapi versi lama diri kita yang harus kita tinggalkan.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Selasa, 03 Maret 2026

Tidak Semua Ibadah Itu Rebahan

Waktu kecil, saya pernah punya pengalaman yang menurut saya cerdas sekali—setidaknya menurut versi saya saat itu. Seusai tarawih, seorang ustaz berkata dalam ceramahnya, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Kalimat itu seperti menemukan tempat yang pas di kepala anak kecil yang sedang belajar menahan lapar. Besoknya, saya tidur hampir sepanjang hari. Dalam pikiran saya, ini strategi ibadah yang sangat efektif.

Sampai akhirnya suara bapak terdengar cukup keras. Zuhur terlewat. Asar hampir saja menyusul kalau tidak dibangunkan dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Hari itu saya belajar satu hal: ternyata tidak semua kalimat bisa dipahami sepotong-sepotong.

Kalimat “tidurnya orang puasa itu berpahala” memang sering kita dengar. Namun sebenarnya, yang membuatnya bernilai bukanlah tidurnya. Tidur tetaplah tidur. Tubuh memang butuh istirahat. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah keadaan kita saat itu—kita sedang berpuasa. Sejak subuh kita menahan diri. Menahan makan, minum, emosi, dan keinginan. Bahkan ketika kita terlelap, kita masih berada dalam bingkai ibadah itu.

Tidur bukan tujuan puasa. Ia hanya bagian kecil dari perjalanan. Jika diniatkan untuk menjaga tenaga agar tetap kuat beribadah, maka ia menjadi bagian dari kebaikan. Tetapi jika dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan meninggalkan kewajiban, tentu ruh puasanya berkurang.

Mungkin yang lebih tepat bukan “tidurnya berpahala”, melainkan “keadaan puasanya yang bernilai.” Dan dari omelan bapak waktu itu, saya paham bahwa puasa bukan tentang mencari cara paling nyaman, tetapi tentang menjaga kesadaran—bahkan saat kantuk datang.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉