Selasa, 10 Maret 2026

Bukber

Kadang yang mempertemukan kita bukan janji temu, tetapi adzan maghrib di bulan Ramadan. Ramadan selalu punya cara sederhana untuk mempertemukan orang-orang yang mungkin lama tidak duduk di meja yang sama.

Pada bulan Ramadan, buka puasa bersama hampir seperti tradisi yang selalu dinanti. Bukan hanya berbuka di rumah bersama keluarga inti, tetapi juga berbuka bersama kerabat, sahabat, rekan kerja, bahkan jamaah di masjid. Meja makan menjadi lebih panjang, kursi bertambah, dan suasana terasa lebih hangat. Buka puasa tidak lagi sekadar tentang makanan setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang pertemuan, cerita, dan tawa yang kembali dipertemukan oleh Ramadan.


Beberapa hari ini saya hampir selalu berbuka bersama. Dimulai pada minggu pertama Ramadan, kami sekeluarga berbuka di rumah Jidah. Di sana berkumpul kakek, Jidah, Amu, Aunty, Om, dan tentu saja keponakan kecil yang selalu berhasil mencairkan suasana dengan tingkah lucunya. Sederhana saja sebenarnya—menunggu adzan, menyantap hidangan, lalu berbincang santai. Namun justru dalam kesederhanaan itulah terasa hangatnya keluarga.

Pada Jumat kedua Ramadan, giliran seorang rekan sejawat di sekolah yang mengundang seluruh warga sekolah untuk berbuka puasa di rumahnya. Beliau bercerita bahwa undangan itu bukan sekadar acara biasa, melainkan bentuk syukur. Ada nazar yang ingin ia tunaikan setelah ibundanya diberikan kesembuhan. Di meja makan itu, bukan hanya hidangan yang disajikan, tetapi juga rasa syukur yang dibagikan kepada banyak orang.

Kami juga menyempatkan diri berbuka bersama Mbah Uti pada minggu kedua Ramadan. Saat itu Mbah Uti hanya sendiri di rumah, karena sebagian keluarga sedang menghadiri acara buka puasa di tempat lain. Tapi justru di situlah maknanya terasa. Setidaknya, malam itu beliau tidak berbuka sendirian. Ada kami yang datang, duduk bersama, dan menghidupkan rumah yang tadinya sunyi.

Terakhir, keluarga besar dari pihak istri mengadakan buka puasa bersama. Keluarganya memang besar sekali. Hidangan yang disajikan berlimpah, berbagai macam makanan terhidang sampai kadang membuat bingung harus mengambil yang mana dulu. Tapi di balik ramainya meja makan itu, yang paling terasa sebenarnya bukan banyaknya makanan, melainkan ramainya kebersamaan.

Ramadan kini mulai memasuki sepuluh hari terakhir. Namun keberkahannya seakan belum berhenti dibagikan. Setiap adzan maghrib masih membawa kesempatan baru—kesempatan untuk berkumpul, menyambung cerita, dan kembali membuka pintu silaturahmi yang mungkin sempat lama tertutup.

Bisa jadi masih ada undangan buka puasa berikutnya. Masih ada meja makan yang kembali dipenuhi tawa. Masih ada pertemuan-pertemuan kecil yang tanpa kita sadari menjadi jawaban dari doa-doa yang pernah dipanjatkan.

Semoga yang disemogakan benar-benar tersemogakan. Dipertemukan dengan kebersamaan, dilapangkan rezekinya, dan dihangatkan hatinya oleh keberkahan Ramadan yang terus mengalir hingga penghujung bulan.

Dari beberapa pertemuan itu saya mulai menyadari satu hal: buka puasa bersama ternyata bukan sekadar agenda makan setelah adzan maghrib. Ia adalah ruang untuk mempererat silaturahmi, berbagi rezeki, dan menguatkan kembali hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan.

Ramadan seakan memberi alasan yang indah bagi kita untuk kembali duduk bersama, saling menyapa, dan saling mengingatkan bahwa dalam perjalanan hidup ini, kita tidak pernah benar-benar sendiri.

Karena pada akhirnya, berbuka puasa bukan hanya tentang mengakhiri lapar. Ia tentang membuka hati.

Agar yang jauh kembali dekat.
Yang lama tetap hangat.
Dan yang sempat merasa sendiri, kembali menemukan kebersamaan.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai

see you tomorrow 😉



Kamis, 05 Maret 2026

Half Time

Setengah Jalan, Jangan Setengah Hati

Ramadan Bukan Sekadar Memulai, Tapi Menyelesaikan

Karena yang menentukan bukan babak pertama, tapi bagaimana kita menutup pertandingan.

Hari ini, Ramadan sudah memasuki malam ke-16. Tidak terasa, setengah perjalanan sudah kita lewati. Rasanya baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh semangat, menyusun target, membuat daftar amalan, berjanji ingin lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sudah banyak yang kita lakukan. Salat lima waktu lebih dijaga di awal waktu. Tadarus Al-Qur’an lebih sering terdengar dari bibir yang biasanya sibuk dengan urusan dunia. Sahur dan berbuka menjadi momen yang lebih bermakna. Malam-malam kita lebih hidup dengan tarawih dan witir. Siraman rohani lebih sering kita dengar, entah dari masjid, kajian, atau potongan video yang tiba-tiba terasa “kena”.

Lalu sekarang pertanyaannya bukan lagi, “Sudah apa yang kita lakukan?”

Tapi…

“Apa yang harus kita siapkan untuk setengah perjalanan berikutnya?”

Karena sering kali, tantangan terbesar bukan di awal. Tantangan terbesar ada di tengah. Di titik ketika semangat mulai biasa saja. Di saat tubuh mulai lelah. Di waktu target mulai terasa berat.

Setengah Ramadan yang tersisa bukan soal menambah daftar amalan, tapi menjaga api yang sudah menyala. Jangan sampai yang di awal membara, di akhir hanya jadi bara.

Mungkin yang perlu kita siapkan bukan hanya fisik, tapi niat yang diperbarui. Bukan hanya jadwal ibadah, tapi hati yang lebih hadir. Bukan hanya banyaknya bacaan, tapi dalamnya perenungan.

Karena separuh terakhir Ramadan adalah fase naik kelas. Di situlah ada malam-malam terbaik. Di situlah ada peluang yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Kalau separuh pertama tentang membangun kebiasaan, maka separuh kedua tentang menguatkan kesungguhan. Jangan sampai kita kuat di start, tapi melambat di finish. Jangan sampai kita ramai di awal, tapi sunyi di akhir.

Ramadan tidak butuh kita yang sempurna. Ia hanya butuh kita yang konsisten. Dan mungkin… malam ke-16 ini bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah pengingat halus bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, walaupun saya yakin jika kesempatan itu pasti datang kembali, namun entah kapan dan momen yang berbeda.

Masih ada setengah jalan. Masih ada ruang untuk memperbaiki. Masih ada waktu untuk lebih sungguh-sungguh. Karena bisa jadi… yang menentukan bukan bagaimana kita memulai Ramadan, tapi bagaimana kita mengakhirinya. 🔥🌙


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉


Sahur on the Road


Masih teringat suasana malam menjelang sahur. Malam itu Karang Taruna RW 08 Ciledug Indah bersama Remaja Masjid Daarussalam menginisiasi kegiatan sahur on the road. Puluhan remaja putra dan putri berkumpul di kantor RW untuk bersama-sama konvoi menuju Rumah Yatim Nurul Imaan di Petukangan, Jakarta Selatan.

Puluhan motor dan dua mobil berjalan beriringan. Jalanan lengang, karena waktu masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya, namun semangat anak-anak muda itu justru hangat. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, tetapi rasanya seperti perjalanan menuju sesuatu yang lebih dari sekadar berbagi makanan.

Sesampainya di lokasi, paket sahur berupa nasi box diturunkan untuk dinikmati bersama saudara-saudara yatim di sana. Kegiatan diawali dengan sambutan dari ketua karang taruna, ketua remaja masjid, dan pimpinan rumah yatim. Lalu suasana berubah menjadi lebih akrab. Duduk melingkar, menyantap sahur bersama, berbagi cerita sederhana, hingga akhirnya ditutup dengan salat Subuh berjamaah.

Di tengah udara dini hari yang masih sejuk itu, kebersamaan terasa berbeda. Ini bukan sekadar konvoi atau dokumentasi kegiatan, tetapi latihan kepedulian. Para remaja belajar bangun lebih awal bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menghadirkan kebahagiaan kecil bagi orang lain. Mereka belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang memahami rasa lapar yang mungkin setiap hari dirasakan sebagian orang.

Bagi adik-adik di rumah yatim, kehadiran rombongan sahur itu bukan hanya soal makanan. Ada rasa diperhatikan. Ada kebahagiaan karena sahur yang biasanya sunyi menjadi lebih hidup. Tawa kecil, doa bersama, dan kebersamaan sederhana itu menciptakan hangat yang sulit dijelaskan.

Namun mungkin yang paling bermakna justru terasa saat perjalanan pulang. Jalanan masih sepi, langit mulai berubah warna, dan hati terasa lebih lapang. Kita datang membawa makanan, tetapi pulang membawa kesadaran. Kesadaran bahwa berbagi tidak pernah membuat kita berkurang. Justru di situlah kita sering kali merasa lebih cukup.

Barangkali memang begitu hakikat sahur on the road. Bukan tentang ramainya iring-iringan kendaraan, tetapi tentang ramainya hati yang tergerak. Bukan tentang sejauh apa perjalanan ditempuh, tetapi tentang sejauh mana kepedulian tumbuh.

Karena pada akhirnya, sahur bukan hanya tentang mengisi perut sebelum fajar. Ia tentang mengisi hati sebelum cahaya datang. Dan mungkin, di antara gelapnya dini hari dan cahaya Subuh yang perlahan menyingsing, kita sedang belajar satu hal sederhana: kebaikan yang dilakukan dalam sunyi sering kali meninggalkan cahaya yang paling lama tinggal di hati.


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Rabu, 04 Maret 2026

Ngabuburead

Menjelang magrib, waktu sering terasa menggantung. Tidak cukup panjang untuk memulai sesuatu yang serius, tapi terlalu sayang kalau hanya dihabiskan dengan menunggu sambil melihat jam. Dari situlah saya terpikir satu istilah sederhana: ngabuburead.


Kalau ngabuburit biasanya diisi dengan jalan-jalan atau berburu takjil, kali ini saya ingin mencobanya dengan membaca. Tidak perlu lama. Tidak harus buku yang berat. Beberapa halaman saja. Satu artikel ringan. Atau beberapa ayat yang dibaca perlahan.

Aneh tapi terasa berbeda. Saat perut mulai kosong, suasana justru lebih tenang. Tidak banyak distraksi. Pikiran seperti lebih siap menerima. Waktu yang biasanya terasa lambat, tiba-tiba menjadi bermakna.

Ngabuburead bukan tentang menjadi rajin mendadak. Bukan juga tentang mengejar target bacaan. Ia hanya cara sederhana agar waktu menunggu tidak kosong. Agar sore hari tidak hanya berlalu, tetapi juga menambah isi.
Karena mungkin, di antara rasa lapar dan detik-detik menuju azan, ada ruang kecil yang bisa kita isi dengan ilmu. Dan siapa tahu, dari kebiasaan kecil itu, lahir kecintaan baru pada membaca.

Kalau menunggu magrib saja bisa kita isi dengan bacaan, mungkin pelan-pelan kita akan sadar: membaca tidak butuh waktu luang yang panjang. Ia hanya butuh kemauan untuk memulai.

Dan barangkali, suatu hari nanti, kita tidak lagi sekadar menunggu waktu berbuka—tetapi menunggu halaman berikutnya untuk dibuka.

Jadi, siap berapa buku yang akan diajak ngabuburead?

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉

Yang Kamu Keluhkan, Bisa Jadi Cara Allah Menaikkanmu

Pagi ini saya membaca pesan di grup WA Guru Penggerak. Pak Yayan yang mempostingnya. “Yang lagi diuji, yakinlah itu bentuk cinta Allah SWT.” Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Sederhana. Singkat. Tapi di balik pesan itu ada cuplikan video yang entah kenapa menggetarkan hati saya: “Belajarlah mencintai ujianmu, karena yang mengujimu sedang mencintaimu.” Dari kalimat itulah saya mendapatkan ide untuk materi EDAN hari ini.

Awalnya saya terdiam. Karena jujur saja, siapa yang benar-benar suka diuji? Saat keadaan tidak sesuai rencana, saat usaha belum berbuah hasil, saat hati terasa lelah—rasanya sulit sekali menyebut itu sebagai cinta.

Lalu saya teringat: bukankah kita sedang berada di bulan ujian?

Puasa itu ujian yang kita jalani dengan sadar. Kita tahu akan lapar, akan haus, akan lelah. Kita tahu bangun sahur itu berat. Kita tahu menahan emosi itu tidak mudah. Tapi tetap kita jalani. Mengapa? Karena kita percaya ada nilai di baliknya. Ada pahala. Ada kedekatan dengan Allah. Ada pembentukan diri yang tidak selalu terlihat.

Jika lapar saja bisa kita terima sebagai bagian dari ibadah, mengapa ujian hidup sering kita tolak mentah-mentah?

Seorang guru memberi ujian untuk melihat kesiapan muridnya naik kelas. Ramadan pun seperti itu. Ia menguji kesabaran, menguji konsistensi, menguji keikhlasan. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. Bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk membersihkan.

Belajar mencintai ujian mungkin tidak berarti menikmati rasa laparnya. Tetapi menerima bahwa setiap rasa tidak nyaman itu sedang membentuk versi diri yang lebih baik. Bahwa setiap godaan yang berhasil ditahan adalah kemenangan kecil yang dicatat.

Dan mungkin benar, jika puasa adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya, maka ujian hidup pun demikian. Ia datang bukan untuk merusak, tetapi untuk merapikan. Bukan untuk menjauhkan, tetapi untuk mendekatkan.

Karena cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan. Kadang ia hadir dalam bentuk Ramadan—yang melatih kita bertahan, agar setelahnya kita naik kelas sebagai pribadi yang lebih matang.

Dan pertanyaannya sederhana:
kalau Ramadan saja kita jalani dengan sabar karena yakin ada pahala di ujungnya, mengapa ujian di luar Ramadan sering kita hadapi dengan prasangka?

Barangkali bukan ujiannya yang harus kita benci, tetapi versi lama diri kita yang harus kita tinggalkan.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉