Ini bukan sekedar IS!
Ada momen-momen kecil di dalam kelas yang sanggup menghentikan waktu secara mendadak. Tahun ini, aku mengajar bahasa Inggris untuk murid-murid kelas 1 dan 2 SD. Saat mengajar di kelas 1D, seorang murid bernama Jalal mendadak mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.
"Pak Guru, 'is' itu artinya apa?" tanyanya polos.
Saat itu, kami sedang mempraktikkan materi perkenalan nama pribadi lewat kalimat "What is your name?" dan "My name is Jalal". Pertanyaan polos Jalal yang hanya menanyakan satu kata kecil—"is"—seketika menghantam dadaku. Bukan karena aku bingung cara menjelaskan konteks materi perkenalan tersebut kepada anak usia tujuh tahun, melainkan karena dua huruf tersebut mendadak bergema dengan suara yang sangat kukenal—suara almarhum Bapak. Dalam sekejap, bisingnya ruang kelas memudar, menggiring ingatanku melompati ruang dan waktu.
Ingatanku melayang jauh ke belakang. Pernikahanku yang dimulai sejak tahun 2015 telah mengajarkanku banyak hal tentang dinamika hidup. Namun, ada satu momen yang tak akan pernah kulupakan. Di awal tahun 2019—beberapa waktu sebelum badai COVID-19 melanda dunia—di teras rumah yang tenang, dipayungi aroma teh hangat dan gestur tangannya yang selalu menenangkan, Bapak menatapku dalam-dalam. Beliau tidak menasihatiku tentang cara menjadi kaya atau bagaimana menundukkan ego pasangan. Beliau hanya menepuk bahuku lembut dan menitipkan wejangan yang kelak menjadi warisan terbesarnya:
"Kak, dalam hidup ini, pegang dua hal saja: Istighfar dan Sabar."
Kala itu, aku mengira pesan tersebut hanyalah bekal rutin untuk menjaga bahtera rumah tangga yang sudah kuarungi sejak 2015. Dan memang, saat badai kecil maupun besar datang dalam pernikahan—ketika perbedaan pendapat memicu emosi dan ego ingin menang sendiri—pesan Bapak selalu menjadi penyelamat. Istighfar hadir untuk menenangkan hatiku yang bergejolak, sementara Sabar memberiku kelapangan untuk bersikap bijaksana dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada.
Namun seiring berjalannya waktu—terutama setelah Bapak dipanggil berpulang ke Rahmatullah pada tahun 2020—aku makin menyadari betapa dalam visionernya nasihat beliau di awal 2019 itu. Dua kata tersebut ternyata adalah napas untuk menghadapi segala ujian dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam profesiku sebagai seorang guru.
Sebagai pendidik, tak jarang aku menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan begitu rapi dan detail dari rumah. Namun, begitu melangkah ke dalam kelas, situasi riil di lapangan—suasana hati anak-anak yang tak menentu, fokus yang terpecah, hingga beragam karakteristik murid yang unik—bisa seketika membuyarkan seluruh rencana idealis tersebut.
Di momen seperti itulah nasihat Bapak mengambil peran. Istighfar menyadarkanku untuk meredam kekecewaan dan menenangkan diri ketika ekspektasi tak sejalan dengan kenyataan. Sementara Sabar membimbingku agar tetap bijaksana mencari jalan keluar terbaik di tengah dinamika kelas, merangkul setiap keunikan murid tanpa harus tersulut emosi.
Tersadar dari lamunan, aku menatap mata polos Jalal yang masih menunggu jawaban. Aku tersenyum, berlutut menyetarakan pandangan dengannya, lalu menjawab dengan bahasa yang mudah ia pahami: "Jalal, kata 'is' di situ tugasnya merekatkan kalimat, supaya teman-teman tahu kalau namamu itu benar-benar Jalal. Tanpa kata 'is', kalimatnya jadi belum sempurna."
Mendengar penjelasanku, Jalal mengangguk-angguk puas lalu kembali tersenyum. Namun di dalam hatiku, jawaban itu bergema jauh lebih dalam. Tanpa kata "is", sebuah identitas dan kalimat perkenalan tidak akan tersampaikan secara utuh. Dan kini aku paham mengapa Bapak menekankan dua hal itu: tanpa Istighfar dan Sabar, keberadaanku sebagai manusia maupun pendidik tidak akan pernah utuh. Hidup akan dengan mudah goyah diterjang angin perubahan.
Sejak tahun 2020, Bapak telah tiada. Raga beliau sudah tidak lagi duduk di teras rumah tempat kami biasa berbincang. Beliau sudah pindah ke rumah barunya, walaupun kini hanya ada sebidang tanah dan sebuah papan bernamakan dirinya yang menjadi tempatku melepas rindu. Namun, beliau tidak benar-benar pergi. Setiap kali aku berdiri di depan kelas dan melihat kata "is" tertulis dalam setiap kalimat, dua huruf itu tak lagi sekadar materi bahasa di papan tulis.
Aku melihat senyum Bapak. Aku merasakan kehangatan tepukan tangannya di bahuku, seolah beliau sedang berbisik lembut: "Tetaplah beristighfar, dan teruslah bersabar, Kak."
Jawaban untuk Jalal hari itu mungkin hanya penjelasan sederhana tentang kalimat perkenalan. Namun bagiku, kata "is" dari Bapak adalah warisan terbaik—sebuah kompas kecil yang telah menjaga hidupku, dan akan terus menuntutku pulang menuju kedamaian dalam setiap hela napas.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉

.jpg)
.jpg)
.jpg)






