Rabu, 04 Maret 2026
Ngabuburead
Yang Kamu Keluhkan, Bisa Jadi Cara Allah Menaikkanmu
Pagi ini saya membaca pesan di grup WA Guru Penggerak. Pak Yayan yang mempostingnya. “Yang lagi diuji, yakinlah itu bentuk cinta Allah SWT.” Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Sederhana. Singkat. Tapi di balik pesan itu ada cuplikan video yang entah kenapa menggetarkan hati saya: “Belajarlah mencintai ujianmu, karena yang mengujimu sedang mencintaimu.” Dari kalimat itulah saya mendapatkan ide untuk materi EDAN hari ini.
Awalnya saya terdiam. Karena jujur saja, siapa yang benar-benar suka diuji? Saat keadaan tidak sesuai rencana, saat usaha belum berbuah hasil, saat hati terasa lelah—rasanya sulit sekali menyebut itu sebagai cinta.
Lalu saya teringat: bukankah kita sedang berada di bulan ujian?
Puasa itu ujian yang kita jalani dengan sadar. Kita tahu akan lapar, akan haus, akan lelah. Kita tahu bangun sahur itu berat. Kita tahu menahan emosi itu tidak mudah. Tapi tetap kita jalani. Mengapa? Karena kita percaya ada nilai di baliknya. Ada pahala. Ada kedekatan dengan Allah. Ada pembentukan diri yang tidak selalu terlihat.
Jika lapar saja bisa kita terima sebagai bagian dari ibadah, mengapa ujian hidup sering kita tolak mentah-mentah?
Seorang guru memberi ujian untuk melihat kesiapan muridnya naik kelas. Ramadan pun seperti itu. Ia menguji kesabaran, menguji konsistensi, menguji keikhlasan. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. Bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk membersihkan.
Belajar mencintai ujian mungkin tidak berarti menikmati rasa laparnya. Tetapi menerima bahwa setiap rasa tidak nyaman itu sedang membentuk versi diri yang lebih baik. Bahwa setiap godaan yang berhasil ditahan adalah kemenangan kecil yang dicatat.
Dan mungkin benar, jika puasa adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya, maka ujian hidup pun demikian. Ia datang bukan untuk merusak, tetapi untuk merapikan. Bukan untuk menjauhkan, tetapi untuk mendekatkan.
Karena cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan. Kadang ia hadir dalam bentuk Ramadan—yang melatih kita bertahan, agar setelahnya kita naik kelas sebagai pribadi yang lebih matang.
Dan pertanyaannya sederhana:
kalau Ramadan saja kita jalani dengan sabar karena yakin ada pahala di ujungnya, mengapa ujian di luar Ramadan sering kita hadapi dengan prasangka?
Barangkali bukan ujiannya yang harus kita benci, tetapi versi lama diri kita yang harus kita tinggalkan.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Selasa, 03 Maret 2026
Tidak Semua Ibadah Itu Rebahan
Waktu kecil, saya pernah punya pengalaman yang menurut saya cerdas sekali—setidaknya menurut versi saya saat itu. Seusai tarawih, seorang ustaz berkata dalam ceramahnya, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Kalimat itu seperti menemukan tempat yang pas di kepala anak kecil yang sedang belajar menahan lapar. Besoknya, saya tidur hampir sepanjang hari. Dalam pikiran saya, ini strategi ibadah yang sangat efektif.
Sampai akhirnya suara bapak terdengar cukup keras. Zuhur terlewat. Asar hampir saja menyusul kalau tidak dibangunkan dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Hari itu saya belajar satu hal: ternyata tidak semua kalimat bisa dipahami sepotong-sepotong.
Kalimat “tidurnya orang puasa itu berpahala” memang sering kita dengar. Namun sebenarnya, yang membuatnya bernilai bukanlah tidurnya. Tidur tetaplah tidur. Tubuh memang butuh istirahat. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah keadaan kita saat itu—kita sedang berpuasa. Sejak subuh kita menahan diri. Menahan makan, minum, emosi, dan keinginan. Bahkan ketika kita terlelap, kita masih berada dalam bingkai ibadah itu.
Tidur bukan tujuan puasa. Ia hanya bagian kecil dari perjalanan. Jika diniatkan untuk menjaga tenaga agar tetap kuat beribadah, maka ia menjadi bagian dari kebaikan. Tetapi jika dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan meninggalkan kewajiban, tentu ruh puasanya berkurang.
Mungkin yang lebih tepat bukan “tidurnya berpahala”, melainkan “keadaan puasanya yang bernilai.” Dan dari omelan bapak waktu itu, saya paham bahwa puasa bukan tentang mencari cara paling nyaman, tetapi tentang menjaga kesadaran—bahkan saat kantuk datang.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Semangat Sahur, Kenapa Kendur?
Puasa sudah masuk hari ke-14. Mungkin karena sudah dewasa, puasa tidak lagi terasa seperti dulu waktu kecil. Dulu, setiap sahur seperti petualangan. Bangun tengah malam terasa seru. Sekarang? Alarm berbunyi saja sudah seperti ujian kesabaran.
Dan bukan hanya saya. Anak-anak yang di awal Ramadan begitu bersemangat—bahkan sampai membuat daftar menu sahur sendiri—perlahan mulai kehilangan ritme itu. Sayur bayam, kangkung, sawi putih, sop, capcay pernah tersaji bergantian. Opor ayam, telur dadar, rendang, ayam goreng pun sudah menjadi teman sahur. Buah-buahan berwarna-warni melengkapi meja makan: melon, semangka, jeruk, buah naga, jambu kristal, alpukat.
Semua terasa lengkap.
Namun malam ke-14, rasanya berbeda. Berat sekali membuka mata. Berat membangunkan anak-anak. Meja makan tetap ada. Menu tetap bisa disiapkan. Tetapi semangatnya tidak sekuat hari pertama.
Kenapa ya?
Mungkin karena tubuh mulai beradaptasi. Ritme tidur berubah. Energi terkuras aktivitas harian. Secara fisik, wajar jika rasa lelah datang di pertengahan Ramadan. Secara psikologis, semangat awal memang sering memuncak di hari-hari pertama, lalu perlahan menurun ketika rutinitas mulai terasa biasa.
Namun bisa juga karena ada yang mulai lalai kita jaga: niat.
Di awal Ramadan, semuanya terasa baru. Ada target. Ada harapan. Ada janji dalam hati. Tapi ketika hari berjalan, ibadah bisa berubah menjadi kebiasaan. Sahur bukan lagi momen syukur, tapi sekadar kewajiban yang terasa berat.
Padahal justru di pertengahan inilah ketulusan diuji.
Awal Ramadan itu seperti sprint—penuh tenaga. Akhir Ramadan adalah harapan—mengejar malam terbaik. Tetapi pertengahan Ramadan adalah konsistensi.
Di sinilah kita belajar bahwa ibadah bukan tentang ledakan semangat, melainkan tentang menjaga nyala kecil agar tetap hidup.
Kalau malas sahur, mungkin bukan hanya tubuh yang lelah, tapi hati yang butuh diingatkan. Solusinya sederhana, meski tidak selalu mudah: perbaiki pola tidur, kurangi begadang yang tidak perlu, niatkan sahur bukan sekadar makan, tetapi sebagai bagian dari sunnah dan sumber keberkahan. Bangunkan anak-anak bukan dengan perintah, tetapi dengan ajakan hangat. Jadikan meja sahur bukan hanya tempat makan, tetapi tempat berkumpul yang penuh cerita.
Karena sahur bukan sekadar mengisi perut. Ia mengisi niat.
Ramadan masih berjalan. Empat belas hari bukan akhir. Justru ini momentum untuk menata ulang ritme. Jika di awal kita berlari, di pertengahan kita belajar bertahan. Dan yang bertahan dengan konsisten, sering kali sampai pada akhir dengan lebih matang.
Barangkali bukan semangat yang harus dibesarkan, tetapi kesadaran yang harus diperbarui.
Masih ada waktu. Masih ada malam. Masih ada kesempatan untuk bangun sebelum fajar—bukan hanya untuk makan, tetapi untuk menguatkan hati.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Minggu, 01 Maret 2026
Yang bekerja diam-diam
Kemarin, saat saya membaca beberapa artikel dan menonton sebuah podcast. Ada tiga kata yang menurut saya menarik untuk dituliskan menjadi satu cerita EDAN kali ini. Ketiga. Kata tersebut adalah Kabisat, Hipotalamus dan Rahmah.
Apa menariknya ketiga kata tersebut, ternyata setelah saya cari referensi lebih mendalam, ketiga kata tersebut memiliki fungsi yang mirip.
Saya analogikan ya. Februari 2026 hanya ada 28 hari, tidak ada tanggal 29. Sekilas, semuanya terasa biasa saja. Hari-hari tetap berjalan. Kalender tetap berganti. Tidak ada yang tampak kurang. Padahal, sesekali waktu perlu “dirapikan” oleh sesuatu yang jarang kita perhatikan.
Setiap tahunnya perjalanan bumi tidak benar-benar pas 365 hari. Ada selisih kecil yang terus terkumpul setiap tahun. Karena itu, empat tahun sekali, Februari diberi tambahan satu hari. Kita menyebutnya tahun kabisat.
Tahun ini bukan tahun kabisat, namun penanggalan sedang melakukan penyeimbangan. Kabisat tidak selalu hadir. Ia tidak selalu dibicarakan. Namun tanpanya, hitungan waktu perlahan bisa melenceng.
Melenceng! Maksudnya!
Mari saya analogikan perlahan. Perjalanan bumi mengelilingi matahari tidak tepat 365 hari. Ada sisa hampir enam jam setiap tahunnya. Kecil, tetapi terus terkumpul. Empat tahun berjalan, ia menjadi satu hari penuh. Jika tidak ditambahkan, kalender perlahan akan bergeser dari perjalanan bumi yang sebenarnya.
Saya membayangkannya seperti jam yang setiap hari terlambat beberapa menit. Awalnya tak terasa. Namun jika tak pernah disesuaikan, lama-lama ia tak lagi menunjukkan waktu yang tepat. Tahun kabisat hadir seperti koreksi kecil—bukan untuk menambah waktu, tetapi untuk menjaga agar tetap selaras. Kabisat bekerja diam-diam.
Dari sana pikiran saya beralih pada tubuh manusia.
Jika kalender memiliki penyeimbangnya sendiri, mungkin tubuh pun demikian. Dalam sebuah obrolan Raditya Dika dan dr. Aisyah Dahlan tentang hipotalamus, saya memahami bahwa ada bagian kecil di otak yang tugasnya menjaga keseimbangan tubuh.
Hipotalamus ukurannya kecil, tetapi perannya besar. Ia mengatur suhu tubuh, rasa lapar, rasa haus. Ia seperti pengatur suhu otomatis di sebuah ruangan—ketika terlalu panas ia mendinginkan, ketika terlalu dingin ia menghangatkan kembali. Kita tidak pernah melihatnya bergerak, tetapi kita merasakan hasilnya: tubuh tetap nyaman.
Selama ia bekerja dengan baik, semuanya terasa wajar. Namun ketika ia terganggu, keseimbangan mudah goyah. Hipotalamus pun bekerja diam-diam.
Dan Ramadan tahun ini membuat saya menyadari satu hal lain.
Sepuluh hari pertama sering disebut sebagai fase rahmah. Mungkin bukan sekadar pembagian waktu, melainkan pengingat bahwa hati juga membutuhkan penyeimbang.
Rahmah tidak selalu datang dengan perubahan besar. Tidak selalu terasa luar biasa. Namun ia menenangkan ketika emosi meninggi. Ia melembutkan ketika ego mengeras. Ia mengingatkan ketika langkah mulai menjauh dari arah semula. Rahmah juga bekerja diam-diam.
Mungkin memang yang paling menentukan dalam hidup bukanlah yang paling terlihat. Kabisat hanya datang sesekali, tetapi tanpanya hitungan waktu bisa bergeser. Hipotalamus tersembunyi di bagian kecil otak, namun darinya tubuh tetap seimbang. Rahmah pun begitu. Ia tidak selalu terasa besar, tidak selalu dramatis, tetapi perlahan menenangkan yang bergejolak dan merapikan yang berlebihan.
Barangkali hidup memang dijaga oleh hal-hal yang bekerja diam-diam. Bukan yang ramai, bukan yang disorot, tetapi yang setia menjaga keseimbangan. Dan mungkin tugas kita bukan mencari yang besar-besar, melainkan belajar peka pada koreksi kecil yang Tuhan titipkan—agar waktu, tubuh, dan hati tetap selaras.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉





