Empat belas tahun yang lalu, motivasi saya sebenarnya tidak muluk-muluk, apalagi heroik. Tidak ada bisikan nurani adiluhung1 soal mencerdaskan anak bangsa atau memajukan peradaban negeri. Saya hanya seorang sarjana IT muda yang lelah.
Setelah beberapa tahun bergulat di berbagai perusahaan teknologi—menghadapi server rewel tengah malam, tenggat waktu proyek yang ugal-ugalan, dan jam kerja shifting yang membuat konsep siang dan malam menjadi bias—keinginan saya cuma satu: ritme hidup yang waras. Saya merindukan pola hidup sederhana milik orang kebanyakan. Bekerja di hari kerja, pulang sebelum larut, dan yang paling penting: menikmati hari Sabtu dan Minggu tanpa teror panggilan telepon kantor.
Pilihan logis yang terlintas saat itu adalah sekolah. Institusi pendidikan tampak seperti tempat perlindungan paling ideal dengan jam operasional yang tertib.
Pucuk dicinta ulam tiba, seorang kawan dari Bapak mengabarkan bahwa sekolah tempatnya bernaung sedang kekurangan tenaga operator. Posisi itu terdengar sangat masuk akal bagi seorang lulusan IT. Mengurus data, mengecek jaringan, memelihara perangkat lunak—secara teknis, ini wilayah aman saya. Tugas-tugas yang semestinya bisa saya selesaikan sambil memejamkan mata sebelah.
Hari wawancara pun tiba. Duduk berhadapan dengan pewawancara, saya menyusuri rentetan pertanyaan standar. Semua berjalan mulus sesuai naskah; jawaban-jawaban normatif mengalir lancar, membedah kompetensi teknis yang memang sudah menjadi makanan sehari-hari. Peluang terbuka lebar.
Hingga keputusan akhir dijatuhkan: saya dinyatakan diterima.
Namun, pengumuman kelolosan itu dibarengi sebuah plot twist yang membuyarkan bayangan awal saya. Bukan di balik meja sunyi ruang operator, melainkan di depan kelas. Saya ditawari menjadi guru.
Loh, kok bisa?
Ternyata, dinamika sekolah bergerak lebih cepat dari yang saya duga. Ada seorang guru yang mengambil cuti melahirkan mendadak, meninggalkan kekosongan ruang kelas yang harus segera diisi. Mengetahui latar belakang saya, pihak sekolah langsung berinisiatif menambah sesi: wawancara lanjutan sebagai calon pendidik.
Kejutan belum selesai. Sesi lanjutan itu langsung berlanjut ke tahap microteaching dadakan. Saya diminta berdiri di dalam kelas nyata, di hadapan anak-anak yang menatap dengan rasa ingin tahu bercampur iseng, diawasi langsung oleh Kepala Sekolah dari bangku paling belakang.
Di menit-menit pertama, ada rasa canggung yang luar biasa. Berbicara di depan mesin dan deretan kode sangat berbeda dengan menatap puluhan pasang mata manusia yang menaruh atensi penuh. Namun, entah dari mana datangnya, rasa canggung itu pelan-pelan mencair. Penjelasan teknis yang biasanya kaku saya bungkus dengan cara yang lebih hidup. Anak-anak mulai merespons, tertawa, dan terlibat aktif.
Ujian dadakan itu berakhir dengan senyum puas dari Kepala Sekolah.
Hari itu, rencana saya untuk sekadar bersembunyi di balik bilik operator resmi berbelok tajam. Bukan deretan kabel LAN atau tumpukan berkas digital yang menjadi kawan harian, melainkan riuh rendah suara anak-anak dan papan tulis yang menuntut kehadiran utuh seorang manusia.
Dengan tarikan napas panjang dan satu kata bismillah, perjalanan empat belas tahun yang kelak mengubah cara pandang saya tentang hidup pun dimulai.
(1. niat yang sangat mulia)








.jpg)
.jpg)
.jpg)




