Selasa, 03 November 2026

Kompak Menghijaukan Sekolah Bersama TIGABEE SDN Cipulir 05

Gerakan Go Green bukan sekadar slogan pelestarian alam, melainkan sebuah ikhtiar berkelanjutan untuk membangun kesadaran, pola hidup ramah lingkungan, dan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian bumi. Di lingkungan sekolah dasar, penanaman nilai kepedulian lingkungan tidak cukup hanya diajarkan sebatas teori di balik meja belajar. Anak-anak membutuhkan ruang eksplorasi nyata agar rasa cinta terhadap alam tumbuh langsung dari sentuhan tangan mereka pada tanah dan tanaman. Berangkat dari semangat tersebut, SDN Cipulir 05 menginisiasi program bertajuk “SDN CIPULIR 05, GO GREEN!” yang diselenggarakan pada Jumat, 29 Oktober 2026.



Sejak pagi hari, halaman dan selasar sekolah dipenuhi antusiasme seluruh warga sekolah. Agar kegiatan berjalan terarah dan memperluas wawasan keanekaragaman hayati, pihak sekolah merancang pembagian jenis tanaman yang berbeda untuk setiap jenjang kelas:


  • Kelas 1: Membawa tanaman hias tidak berbunga untuk memperteduh sudut-sudut koridor.

  • Kelas 2: Membawa tanaman hias berbunga aneka warna yang mempercantik taman sekolah.

  • Kelas 3: Membawa ragam bibit pohon buah sebagai sarana belajar jangka panjang tentang siklus pertumbuhan dan hasil bumi.

  • Kelas 4 dan Kelas 6: Membawa Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk melengkapi apotek hidup sekolah.

  • Kelas 5: Membawa tanaman sayur-mayur untuk mengenalkan konsep ketahanan pangan sederhana.


Alur kegiatan pun dirancang cermat melalui pembagian jadwal bertahap. Siswa Kelas 1 dan Kelas 3 mengawali kegiatan menanam pada pukul 06.30 hingga 09.00 WIB. Sementara itu, siswa Kelas 4, 5, dan 6 mengawali hari dengan pembelajaran di kelas, beristirahat, lalu melanjutkan aksi menanam pada pukul 09.30 hingga 11.00 WIB. Adapun siswa Kelas 2 mendapatkan giliran menanam pada pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Manajemen waktu ini memastikan seluruh rangkaian aksi berlangsung kondusif dan tertib.


Salah satu dinamika pembelajaran yang menarik terlihat di Kelas 3B. Seluruh peserta didik dibagi ke dalam kelompok kerja yang kompak dengan membawa bibit pohon buah pilihan yang beragam, yaitu:


  • Kelompok 1: Membawa bibit pohon jeruk nipis

  • Kelompok 2: Membawa bibit pohon jeruk

  • Kelompok 3: Membawa bibit pohon pepaya kalifornia

  • Kelompok 4: Membawa bibit pohon murbei

  • Kelompok 5: Membawa bibit pohon jambu kristal


Untuk mendukung kelancaran kegiatan, pot tanaman telah disediakan secara lengkap oleh pihak sekolah, sedangkan para siswa melengkapi diri dengan sarung tangan plastik serta media tanam cadangan.








Di bawah bimbingan guru kelas, anak-anak diajak mempraktikkan proses pemindahan bibit dari polybag ke dalam pot secara mandiri. Mereka belajar merasakan tekstur tanah, mengatur kepadatan media tanam, hingga menyiram tanaman dengan takaran air yang tepat tanpa takut kotor.


Tidak hanya mengasah keterampilan motorik dan kerja sama, kegiatan ini juga dipadukan dengan penguatan literasi dan keberanian berbicara di depan umum. Setiap kelompok menyiapkan kartu informasi sederhana berisi rangkuman menarik tentang bibit yang mereka bawa, mulai dari pengenalan tanaman (seperti segarnya jeruk nipis, manisnya pepaya kalifornia, hingga keunikan murbei dan jambu kristal), manfaat buah bagi kesehatan tubuh, tata cara penyiraman dan kebutuhan sinar matahari, hingga perkiraan masa berbuahnya. Anak-anak mempresentasikan hasil catatan tersebut secara bergantian dengan penuh percaya diri.



Melalui program SDN CIPULIR 05, GO GREEN!, sekolah tidak sekadar menambah deretan pot hijau di area pekarangan. Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan benih tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian lingkungan sejak usia dini. Dari bibit-bibit kecil yang ditanam hari ini, diharapkan tumbuh generasi penerus yang berkarakter, mandiri, dan senantiasa menjaga harmoni dengan alam sekitar.


Siapa Takut Vitamin Gigi? Oles Sekali, Senyum Sehat Terlindungi Sepanjang Hari!

Halo teman-teman hebat SDN Cipulir 05! Pernahkah kalian membayangkan gigi kalian punya "baju zirah" tak terlihat seperti pahlawan super? Baju zirah ini bertugas menangkis kuman jahat penyebab gigi berlubang.



Tepat pada hari Senin, 2 November 2026, teman-teman kita dari kelas 1, 2, dan 3 kedatangan tamu spesial dari Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama di ruang UKS lantai 1 SDN Cipulir 05. Mereka datang untuk memberikan perlindungan ekstra bagi gigi kita melalui kegiatan Topical Application Fluor (TAF) atau yang lebih akrab kita kenal sebagai pemberian vitamin gigi (imunisasi gigi).


Eits, Disuntik Nggak Ya?

Banyak yang penasaran dan sempat bertanya-tanya, "Imunisasi gigi itu disuntik ya, Bu Guru?"


Jawabannya: Sama sekali tidak disuntik!


Pemberian vitamin gigi ini sangat nyaman dan tidak sakit sama sekali. Dokter gigi dan tim kesehatan puskesmas memeriksa kondisi rongga mulut terlebih dahulu. Setelah giginya dipastikan bersih dan sehat, vitamin khusus dioleskan langsung ke permukaan gigi menggunakan kuas kecil. Rasanya sejuk dan menyenangkan!




Vitamin fluor ini bekerja menguatkan lapisan luar gigi (email gigi) agar kuman dari sisa makanan manis tidak mudah merusak gigi kita.

Serunya Rangkaian Kegiatan di Sekolah

Tepat pukul 08.00 kegiatan pemberian vitamin gigi dilakukan. Ibu Candra dan Ibu Lis mendampingi dua petugas dari puskesmas. Sesuai jadwal, kelas 1A yang dibersamai oleh Bu Juju mendapat giliran pertama, satu per satu anak diperiksa dan diberikan vitamin gigi dengan cara dioles.


Bu Candra yang kebetulan menjadi wali kelas 1B, langsung memanggil peserta didiknya agar baris dalam antrian. Kemudian, kegiatan dilanjutkan untuk kelas 1C yang didampingi oleh Bu Puput dan 1D didampingi oleh Bu Novi. Anak-anak sangat antusias dan penasaran dengan kegiatan ini, sehingga suasana di ruang UKS terlihat santai.




Setelah kelas 1, peserta didik kelas 2A, 2B, 2C, dan 2D berturut-turut masuk ke ruang UKS didampingi oleh guru kelasnya (Bu Nunung, Bu Reni, Bu Petty, dan Bu Isni). Sama seperti adik kelasnya, peserta didik kelas 2 jauh lebih tenang. Namun ada sedikit miskomunikasi terkait kelas 2C yang tidak bisa ikut dalam kegiatan pemberian vitamin gigi karena lupa mengisi link persetujuan.


Tepat pukul 10.30 peserta didik kelas 3A dan 3B sudah memadati teras UKS. Mereka tidak didampingi wali kelasnya, bukan karena sudah lebih besar dari adik-adiknya, melainkan karena Pak Maman dan Pak Indra selaku wali kelas 3 sedang ada jam mengajar Bahasa Inggris dan Koding di kelas lain.




Setelah semua peserta didik mendapatkan vitamin gigi, peserta didik kelas 1 dan 2 melanjutkan pembelajarannya. Sedangkan peserta didik kelas 3A dan 3B diberikan waktu untuk menunggu jam masuk sekolah di UKS sambil membaca koleksi buku yang ada di perpustakaan.


Rahasia Merawat "Baju Zirah" Gigi Setelah Dioles Vitamin

Setelah giginya selesai diberi vitamin, ada pantangan penting yang harus ditaati: tidak boleh langsung makan, minum, atau berkumur selama minimal 30 menit! Tujuannya agar vitamin meresap sempurna dan menempel kuat di permukaan gigi.


Jangan lupa juga pembiasaan baik setiap hari di rumah:


  • Menyikat gigi minimal dua kali sehari: pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

  • Mengurangi jajanan manis dan lengket seperti permen atau cokelat berlebih.

  • Rajin makan buah, sayur, dan minum air putih.

  • Rutin periksa ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.


Terima kasih banyak untuk tim medis Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama, bapak dan ibu guru pendamping, serta teman-teman yang sudah berani dan tertib mengikuti kegiatan ini. Yuk, terus tunjukkan senyum sehat, bersih, dan percaya diri setiap hari!


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai

see you tomorrow 😉

Rabu, 28 Oktober 2026

Guru Juga Manusia = Hentakan kaki, salah arti


Status resmi sebagai guru ternyata langsung diuji bahkan sebelum saya sempat menyentuh spidol dan papan tulis. Agenda pembuka yang harus saya lewati adalah RAKER alias Rapat Kerja, rutinitas tahunan yang digelar tepat satu minggu sebelum lonceng tahun ajaran baru resmi berdentang.



Sebagai karyawan baru—eh, maksud saya seorang guru baru—adaptasi menjadi harga mati. Apalagi dengan latar belakang murni dari dunia IT yang minim pengalaman pedagogis, saya merasa menjadi orang paling kosong di seantero ruangan itu. Kertas kosong yang benar-benar polos.


Pagi itu, kedisiplinan para pendidik langsung tampak nyata. Tiga puluh menit sebelum waktu yang ditentukan, seluruh guru sudah hadir dan berkumpul. Rapat dibuka dengan luwes oleh Ms. Irine sebagai moderator, sebelum kemudian panggung diserahkan kepada Kepala Sekolah selaku narasumber. Suasana sangat cair; rasa kekeluargaan dan kebersamaan begitu kental terasa di ruangan tersebut, meredakan ketegangan saya yang sejak pagi dilanda gugup.


Isi pembahasannya adalah cerita lain. Raker di lingkungan sekolah menyajikan dimensi yang sangat bertolak belakang dengan rapat perusahaan pada umumnya. Detailnya luar biasa padat. Mulai dari silabus yang sudah disiapkan pihak yayasan, penyampaian kalender akademik yang telah disusun Kepala Sekolah, hingga program kelas yang diserahkan kepada guru untuk diracik dalam bentuk lesson plan. Kepala saya mulai terasa penuh menyerap setiap peristilahan baru tersebut.


Di tengah raker, salah satu guru pria meminta izin untuk keluar ruangan sejenak. Menit demi menit berlalu tanpa tanda-tanda kembalinya sang rekan, sementara materi yang dipaparkan kian mendekati pokok pembahasan penting yang harus didengar seluruh karyawan. Saya yang kebetulan masih anak baru diberikan tugas untuk memanggil guru tersebut. Saya pun melaksanakannya dan beranjak meninggalkan ruangan.


Sekembalinya saya bersama guru yang dicari, suasana ruangan mendadak tidak bersahabat. Hening!


Ada apa ini? pikir saya.


"Maksud kamu apa, Ndra?!" ketus Kepala Sekolah memecah kesunyian.


Saya yang mendengar pertanyaan tersebut bingung bukan kepalang.


"Tidak suka saya suruh, kamu?!" lanjut Kepala Sekolah lagi.


Semakin bingung saya dibuatnya.


Tanpa menghiraukan kebingungan saya, Kepala Sekolah menambahkan dengan tegas:


"Setelah rapat ini, temui saya di kantor!"


Beliau langsung merapikan map berkas di mejanya dengan kasar, berdiri tanpa menoleh ke siapa pun, lalu melangkah lebar keluar dari ruang rapat. Pintu berderit menutup di belakangnya, meninggalkan keheningan yang makin berat menggantung di udara.


"Waduh," batin saya mencelos sambil melirik Ms. Wilda yang duduk tepat di sebelah saya.


"Kenapa sih lo?" bisik Ms. Wilda, seakan tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala saya.


Mendengar bisikan itu, saya malah makin bingung.


"Memang kenapa, Ms?" tanya saya pelan.


"Kaki lo tuh, Kepsek gak suka," balas Ms. Wilda singkat.


Asli, makin tidak masuk akal di kepala saya.


"Ke ruang Kepsek sana, sudah ditunggu," kata Ms. Wilda lagi membuyarkan lamunan saya.


Langkah kaki saya menyusuri koridor sekolah terasa jauh lebih berat dari biasanya. Jarak dari ruang rapat menuju ruang Kepala Sekolah sebenarnya tidak seberapa, tetapi sunyinya lorong dan dinginnya lantai keramik membuat langkah saya melambat, dipenuhi rasa waswas atas apa yang menanti di balik pintu.


Begitu sampai di depan pintu ruang pimpinan, saya menarik napas panjang, mengetuk pelan tiga kali, dan melangkah masuk.


Belum sempat pantat saya menyentuh kursi di hadapannya, cecaran kalimat bernada tinggi langsung menyambar.


"Maksud kamu apa, menghentakkan kaki keras-keras saat saya minta tolong?!" serang Kepala Sekolah tanpa basa-basi, tatapannya menghunus tajam.


Teka-teki yang sejak tadi menggantung akhirnya terang benderang. Beban di dada saya mendadak terangkat, digantikan rasa lega karena akar persoalannya ternyata murni kesalahpahaman belaka, bukan pembangkangan sikap.


Saya menegakkan bahu, menatap beliau dengan tenang, lalu berbicara sepelan mungkin, berusaha mengatur napas.


"Mohon maaf sekali, Bu, kalau langkah saya tadi berkesan salah di mata Ibu. Sungguh, saya tidak ada niat membantah sama sekali. Jujur, saya tadi kaget dan gugup pas diminta tolong di tengah forum. Karena panik ingin cepat-cepat manggil dan nggak mau bikin rapat tertunda, saya refleks buru-buru berdiri sampai langkah kaki saya jadi serampangan dan kedengaran menghentak. Benar-benar murni karena grogi, Bu."


Mendengar penjelasan yang jujur dan masuk akal itu, raut tegang di wajah Kepala Sekolah perlahan mulai mengendur.


Satu detik... dua detik... lalu pertahanan beliau runtuh total. Tawa renyah seketika meledak dari mulut Kepala Sekolah, membuat saya terkesiap keheranan.


Tepat saat tawa itu pecah, pintu ruangan di belakang saya terdorong terbuka. Seluruh warga sekolah—bapak dan ibu guru serta staf yang tadi memasang wajah dingin tanpa ekspresi di ruang rapat—kini berdiri berkerumun dengan senyum merekah dan tepuk tangan riuh.


"Selamat bergabung di sekolah kita, Pak Indra!" seru mereka bersahut-sahutan.


Kepanikan dan rasa bersalah yang sempat mencengkeram dada seketika buyar. Ternyata seluruh ketegangan ini adalah skenario sambutan yang sengaja dirancang untuk menguji mental anak baru. Sungguh sebuah sambutan hangat yang sama sekali tidak pernah saya duga, meski sukses membuat jantung serasa copot.


"Terima kasih semua..." ucap saya pelan dengan senyum haru yang tak bisa lagi saya sembunyikan.



Upacara Boleh Selesai, Praktik Sumpah Pemuda Tak Boleh Usai!

Pagi ini, 28 Oktober 2026, halaman SDN Cipulir 05 dipenuhi barisan rapi murid-murid kelas 4, 5, dan 6. Suasana hening dan khidmat mengiringi derap langkah tegap petugas upacara. Mereka adalah anak-anak pilihan yang telah melalui latihan intensif, disiapkan khusus untuk tampil percaya diri mengemban amanah di setiap peringatan hari besar nasional. Melihat kesungguhan langkah mereka saat mengibarkan Sang Merah Putih, ada rasa bangga yang diam-diam menyelinap di dada para guru yang berdiri mengawasi di tepi lapangan. 

Murid Hebat bersama Guru SDN Cipulir 05

Bertindak sebagai pembina upacara, Ibu Reni berdiri di podium membawa pesan yang begitu dekat dengan keseharian anak-anak. Beliau tidak berbicara dengan istilah sejarah yang rumit dan berat. Sejarah 1928 dibawanya mengalir menjadi sebuah cerita sederhana yang mudah dicerna murid-murid usia sekolah dasar.

Ibu Reni mengingatkan bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, anak-anak muda dari berbagai pulau—Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, hingga pemuda dari berbagai penjuru Nusantara—berkumpul di satu tempat. Mereka sadar bahwa perjuangan sendiri-sendiri tidak akan pernah membuahkan hasil. Maka, lahirlah ikrar legendaris: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Intinya sederhana: walau berbeda suku, logat, dan asal usul, mereka sepakat untuk tidak jalan sendiri-sendiri lagi.



"Hari ini adalah hari kita semua," tutur Ibu Reni lantang, menyapa anak-anak yang menyimak di bawah hangatnya matahari pagi.


Makna ikrar hampir seabad silam itu lalu ditarik ke masa kini. Menurut Ibu Reni, cinta tanah air bagi seorang murid SD bukanlah perkara maju ke medan perang, melainkan belajar dengan sungguh-sungguh dan merasa senang bersekolah di SDN Cipulir 05. Rasa memiliki sekolah ini menjadi wujud paling nyata dari mencintai tanah air tempat mereka berpijak hari ini.



Cinta bangsa juga ditekankan agar tertanam sejak dini. Ke mana pun langkah kaki membawa mereka kelak saat dewasa nanti, identitas sebagai anak Indonesia tidak boleh pudar. Cinta itu beriringan dengan komitmen menjaga lingkungan hidup—mulai dari memungut sampah di kelas, merawat kebersihan halaman rumah, hingga menjaga keharmonisan di lingkungan keluarga.



Pesan penutup yang tak kalah penting adalah tentang bahasa persatuan. Di sekolah, murid-murid datang dari berbagai latar belakang budaya. Keragaman itu justru disatukan oleh bahasa Indonesia. Ibu Reni mengajak anak-anak membiasakan diri bertutur kata yang baik, sopan, dan santun sesuai kaidah bahasa Indonesia, tanpa saling merendahkan atau mengejek perbedaan.


Upacara pun usai, barisan dibubarkan, dan anak-anak kembali masuk ke kelas masing-masing. Namun, catatan-catatan kecil dari podium pagi ini membekas hangat: bahwa Sumpah Pemuda bukan prasasti mati, melainkan napas hidup yang terus berlanjut di bangku-bangku sekolah kita.


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai

see you tomorrow 😉