Senin, 23 Februari 2026

Jarinya satu ruas.

 Malam Senin, selepas tarawih, saya duduk di saf yang tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang. Seperti biasa ada ceramah, dan yang mengisi malam itu adalah Ustadz Hasanuddin.

Beliau spesial.

Bukan hanya karena dakwahnya yang penuh tenaga dan mengalir deras tanpa teks. Tapi juga karena kondisi fisiknya. Kedua tangan beliau tidak memiliki jari yang utuh. Setiap jarinya hanya satu ruas. Saat beliau memegang mikrofon, saya sempat terdiam. Ada sesuatu yang menegur sebelum beliau mulai berbicara.

ai baik.

Beliau berceramah tentang Al-Qur’an.

Tentang bagaimana setiap Ramadan suasana selalu berubah. Masjid lebih ramai. Jadwal tidur berantakan. Undangan buka puasa berdatangan. Grup WhatsApp penuh doa dan ucapan. Semua terasa hidup.

Tapi pertanyaannya sederhana.

Apakah Al-Qur’an ikut hidup juga di rumah kita?

Atau ia hanya pindah posisi dari rak paling atas ke meja, lalu kembali lagi tanpa benar-benar dibaca?

Ramadan disebut sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Ayat itu sering kita dengar. Bahkan hafal. Tapi mungkin kita terlalu sering mendengar tanpa benar-benar merasa.

Kalau Ramadan adalah bulan cahaya, maka Al-Qur’an seharusnya bukan sekadar target khatam. Ia seharusnya jadi teman duduk. Teman diam. Teman berpikir.

Saya jadi malu sendiri.

Tangan saya lengkap. Jari saya utuh. Saya bisa membuka mushaf dengan mudah. Bisa menggulir aplikasi Al-Qur’an di ponsel tanpa hambatan. Tapi sering kali yang berat bukan membuka mushafnya.

Yang berat adalah meluangkan hati.

Beliau mengingatkan bahwa setiap huruf bernilai pahala. Dilipatgandakan lagi di bulan Ramadan. Tapi malam itu saya merasa yang lebih penting bukan angka pahalanya.

Melainkan sejauh mana ayat itu menyentuh.

Puasa membuat tubuh lelah. Aktivitas tetap jalan. Emosi kadang naik turun. Justru di situ Al-Qur’an seharusnya jadi penenang. Bukan hanya dibaca cepat-cepat setelah tarawih, tapi dihadirkan.

Mungkin bukan soal berapa juz yang selesai.

Mungkin soal berapa ayat yang benar-benar tinggal.

Karena bisa jadi satu ayat yang dipahami dan diamalkan jauh lebih berat timbangannya daripada halaman-halaman yang hanya lewat di mata.

Ramadan datang setiap tahun. Tapi kita tidak pernah tahu apakah kita akan bertemu lagi dengannya.

Dan malam itu, melihat seorang ustadz yang jari-jarinya tidak utuh namun begitu kuat menggenggam Al-Qur’an dalam hidupnya, saya merasa seperti sedang ditegur pelan.

Selama ini, siapa yang sebenarnya memiliki keterbatasan?

Kadang kita merasa tidak punya waktu, merasa lelah, merasa terlalu sibuk untuk membuka mushaf. Tapi mungkin yang kurang bukan waktunya atau tenaganya, melainkan kemauannya. Ramadan tidak meminta kita sempurna, hanya meminta kita mendekat. Dan jika tangan yang tidak utuh saja mampu menggenggam Al-Qur’an dengan begitu kuat, lalu saya yang jarinya lengkap ini masih 

ingin beralasan apa?

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow ðŸ˜‰

Minggu, 22 Februari 2026

Beberapa Menit, Seharian Penuh

Hari ini saya menulis bukan karena sedang punya banyak waktu.
Justru sebaliknya. Deadline sudah menunggu besok, tenggorokan mulai kering, dan kepala terasa penuh. Tapi entah kenapa, di tengah dahaga itu saya tetap memilih duduk, mengetik, memperbaiki, mengulang, memastikan semuanya layak untuk ditampilkan.


Mungkin beginilah Ramadan bekerja.

Ia tidak selalu membuat kita melambat. Kadang justru ia mengajarkan bagaimana tetap maksimal, bahkan ketika tenaga sedang minimal. Dan di sela-sela rasa haus itu, saya sadar… tulisan ini bukan hanya tentang program literasi. Ia adalah tentang komitmen. Tentang tanggung jawab. Tentang membersamai tumbuhnya anak-anak, meski tubuh sendiri sedang belajar menahan.

JS One Award!

Kadang saya bertanya pada diri sendiri…

siapa sebenarnya guru terbaik itu?

Apakah mereka yang menguasai semua materi?
Ataukah mereka yang selalu berdiri paling depan di kelas?

Bagi saya… guru terbaik adalah mereka yang membersamai.
Yang tidak hanya mengajar, tetapi hadir.
Yang tidak hanya memberi tugas, tetapi memberi kepercayaan.
Yang tidak hanya menilai hasil, tetapi menghargai proses belajar.

Saya berdiri di sini hari ini karena pernah dibimbing oleh guru-guru seperti itu.
Guru yang sabar menuntun saya ketika saya belum mengerti arah.
Guru yang percaya pada saya, bahkan ketika saya sendiri meragukan kemampuan saya.

Dan sejak saat itu, saya berkomitmen untuk terus berusaha menjadi guru seperti itu…
bagi siswa-siswi saya.

--------------------------------------------

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Perkenalkan, saya Muhammad Indra Wahyuddin, guru kelas 6 di SDN Cipulir 05.
Melalui kesempatan ini, izinkan saya berbagi praktik baik yang saya lakukan bersama siswa-siswa saya dalam menumbuhkan budaya literasi di kelas.

----------------------------------------------

Di kelas 6 SDN Cipulir 05, saya menemukan kenyataan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks.
Ada anak-anak yang masih ragu menyuarakan pendapatnya.
Ada yang mampu membaca, tetapi belum sepenuhnya memahami.
Ada yang punya ide luar biasa, tetapi belum percaya diri untuk menuliskannya.

Saat itulah saya sadar…
anak-anak ini tidak hanya membutuhkan pembelajaran.
Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh.

Dari refleksi itulah lahir KLISE — Kegiatan Literasi Sekolah.

Namun bagi saya, KLISE bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis.
KLISE adalah ruang belajar yang lebih bermakna.

Di dalamnya, anak-anak tidak hanya menerima informasi,
mereka diajak berpikir, merefleksi, dan mengaitkan bacaan dengan kehidupan mereka sendiri.

Mereka belajar memahami, bukan sekadar menghafal.
Mereka belajar mengolah gagasan, bukan sekadar menyalin.

Di sanalah pembelajaran menjadi lebih mendalam —
karena setiap anak diberi kesempatan untuk menemukan makna.

Melalui LiterAKSI, mereka belajar berani memulai.
Melalui LiterAKTIF, mereka belajar bertanggung jawab atas ide dan tulisannya.
Melalui LiTERAMPIL, mereka belajar percaya diri dan menghargai pendapat teman.
Dan melalui LiterAMPUH, mereka belajar memanfaatkan teknologi secara bijak untuk menyebarkan kebaikan.

Tanpa mereka sadari, kebiasaan-kebiasaan kecil itu tumbuh perlahan.

Kebiasaan untuk disiplin membaca.
Kebiasaan untuk berpikir sebelum berbicara.
Kebiasaan untuk berkolaborasi dan saling menghargai.
Kebiasaan untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.
Kebiasaan untuk berani mencoba, meski belum sempurna.

Dan ketika karya mereka berubah menjadi buku digital,
ketika suara mereka terdengar kembali dalam rekaman podcast,
mereka tidak hanya merasa bangga…

Mereka belajar bahwa proses itu penting.
Bahwa usaha itu bermakna.
Bahwa mereka mampu memberi dampak.

Di situlah saya memahami…
literasi bukan sekadar kemampuan akademik.

Literasi adalah jalan untuk membentuk karakter.
Membentuk anak-anak yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zamannya.

---------------------------------

Saya percaya perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Perubahan bisa dimulai dari satu kelas kecil…
dari satu guru yang mau refleksi…
dan dari satu komitmen untuk terus membersamai.

Dan jika langkah kecil ini dapat menginspirasi guru lain untuk terus berinovasi,
maka saya yakin, kita sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar program.

Kita sedang menumbuhkan generasi yang literat, berkarakter, dan siap menghadapi zamannya.

Karena pada akhirnya…
guru terbaik bukanlah mereka yang paling banyak berbicara,
melainkan mereka yang paling setia membersamai tumbuhnya anak-anak bangsa.

Salam literasi, Semangat JS One AwardTop of Form

Wassalamualaikum.

Hari ini saya tidak sedang merasa hebat, saya hanya sedang belajar bertanggung jawab. Di tengah tenggorokan yang kering dan kepala penuh revisi, saya sadar: kita sering ingin hasil besar, tapi tidak siap dengan lelahnya proses. Ramadan ternyata bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Anak-anak saya belajar untuk tidak menyerah pada satu paragraf yang sulit, dan hari ini saya diuji oleh pelajaran yang sama — konsisten meski tidak ada yang melihat.

Video ini mungkin hanya beberapa menit, tetapi prosesnya seharian penuh. Kita sering meminta anak-anak untuk bersungguh-sungguh. Pertanyaannya sederhana: sudahkah kita? Karakter tidak dibentuk saat nyaman, tetapi saat haus, lelah, dan dikejar waktu. Dan jika hari ini saya tetap menyelesaikannya, itu bukan karena saya kuat — tetapi karena saya tidak ingin anak-anak belajar dari guru yang menyerah. 

Bottom of Form

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow ðŸ˜‰

Sabtu, 21 Februari 2026

Jumat

 “Dalam satu bulan Ramadan, selalu ada empat atau lima hari Jumat. Kalau puasa sudah ketemu hari Jumat, itu tandanya sebentar lagi Lebaran.”

Kalimat itu sering diucapkan almarhum bapak ketika saya masih kecil.

Sebagai anak-anak, tentu saja saya langsung senang saat itu. Rasanya seperti menemukan bocoran rahasia atau shortcut. Padahal Ramadan baru berjalan beberapa hari, tapi karena sudah bertemu Jumat, seolah-olah garis finish sudah terlihat. Lebaran terasa dekat. Waktu seperti berlari lebih cepat.

Dulu saya tidak pernah benar-benar memikirkan maksudnya. Saya hanya tahu satu hal: kalau sudah Jumat, berarti sebentar lagi baju baru dipakai, THR tebal dan kue-kue tersaji di meja.

Idenya Ai

Entah kenapa, kalimat sederhana itu tiba-tiba teringat lagi kemarin.

Mungkin karena suasananya sama: Jumat di bulan Ramadan.

Kemarin, saat duduk bersila di masjid untuk sholat Jumat, saya mendengarkan satu kisah yang cukup menggetarkan. Khatib bercerita tentang Malaikat Jibril. Katanya, Jibril pernah shalat satu rakaat yang lamanya puluhan ribu tahun. Puluhan ribu tahun!

Saya terdiam. Bukan ingin menghitungnya, tetapi mencoba membayangkan bagaimana mungkin satu rakaat selama itu.

Lalu sang khatib melanjutkan bahwa setelah ibadah yang begitu panjang, Allah menyampaikan bahwa ibadah seorang manusia — meski hanya sedikit — bisa lebih dicintai karena dilakukan atas perintah-Nya, di tengah segala ujian dan pilihan hidup.

Di situ saya mulai merenung.

Jibril adalah malaikat. Ia tidak pernah bermaksiat. Ia tidak pernah malas. Ia tidak pernah terdistraksi oleh urusan dunia. Ia taat karena memang diciptakan untuk taat.

Sedangkan kita?

Kita shalat sambil melawan kantuk. Kita menahan marah ketika emosi sedang tinggi. Kita memilih jujur ketika peluang untuk curang terbuka. Dan sering kali, kita merasa ibadah kita kecil.

Saya pun begitu.

Kadang merasa, “Ah, cuma dua rakaat.”

“Ah, cuma sedekah receh.”

“Ah, cuma istighfar sebentar.”

Padahal mungkin Allah tidak sedang membandingkan durasi, melainkan melihat perjuangan.

Malaikat tidak punya opsi untuk membangkang. Manusia punya. Dan ketika manusia memilih taat — padahal bisa saja tidak — di situlah letak nilainya.

Saya pulang dari masjid dengan satu pertanyaan sederhana: berapa kali saya hampir menyerah tetapi tetap mencoba berdiri? Berapa kali saya hampir lalai tetapi akhirnya kembali? Mungkin itu yang benar-benar dicatat.

Dan tiba-tiba saya memahami ucapan bapak dengan cara yang berbeda.

Mungkin beliau tidak sedang berbicara tentang cepatnya Lebaran.

Mungkin beliau sedang mengajarkan bahwa Ramadan itu singkat. Bahwa setiap Jumat adalah pengingat: waktu berjalan, kesempatan terbatas, dan yang membuat kita sampai pada “Lebaran” bukan seberapa panjang ibadah kita, tetapi seberapa sungguh kita menjalaninya.

Karena bisa jadi, di antara empat atau lima Jumat itu, ada satu Jumat yang benar-benar mengubah kita.

Dan mungkin, itulah Jumat yang membawa kita lebih dekat — bukan hanya ke Lebaran, tapi kepada-Nya. Edan!

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Jumat, 20 Februari 2026

Tidak Ada Ide untuk Menulis

Katanya saya tidak punya ide. Padahal Ramadan selalu punya caranya sendiri untuk membuat hari terasa penuh.

Sahur pertama biasanya berisik. Tabuhan beduk diarak remaja masjid, suara yang kadang mengganggu tidur tapi justru dirindukan setahun sekali. Tapi kemarin berbeda. Hujan turun deras sejak malam. Tidak ada arakan. Tidak ada tabuhan. Hanya suara air yang jatuh tanpa henti, bahkan sampai subuh dan sepanjang hari masih menyisakan rintik yang setia.

Ai, yang buatin.

Sahur ditemani bayam, telur dadar, dan beberapa frozen food khusus untuk anak-anak. Sederhana. Tidak mewah. Tapi cukup. Dan di Ramadan, “cukup” selalu terasa lebih dari cukup.

Sebenarnya kemarin ingin bermalas-malasan di rumah. Hari pertama puasa, hujan pula. Kombinasi yang sempurna untuk rebahan. Tapi hidup tidak selalu sejalan dengan niat santai kita. STNK yang tertinggal minggu lalu memaksa saya menerobos rintik hujan, membelah Jakarta dengan Transjakarta menuju Cessna Tower, Sudirman.

Ramadan hari pertama, di dalam bus, bersama orang-orang yang mungkin juga sedang menahan lapar dan dahaga. Tidak ada yang saling bicara, tapi rasanya ada kesepakatan diam-diam: kita sama-sama sedang berjuang hari ini.

Hujan masih turun saat perjalanan pulang. Dan entah kenapa, kaki ini memilih singgah ke makam Kober, Puri Beta. Bertemu almarhum bapak.

Ramadan memang sering membuat hati lebih lembut. Di antara rintik hujan dan tanah basah, rasa rindu itu datang tanpa izin. Diam. Tapi dalam.

Menjelang berbuka, dulu mungkin takjil adalah sesuatu yang harus diburu. Tapi sejak berumah tangga, takjil justru lahir dari dapur sendiri. Katanya lebih bersih. Dan mungkin benar, karena rasanya juga jauh lebih hangat.

Jagung rebus, irisan apel merah, somay, dan segelas air putih hangat. Tidak ada yang istimewa. Tapi justru itu istimewanya.

Maghrib berjamaah menjadi penutup hari, sebelum makan malam dan bersiap menyambut tarawih kedua Ramadan.

Lucu ya. Tulisan tentang “tidak ada ide” ini justru menjadi bukti bahwa selama kita hidup, berjalan, rindu, dan bersyukur—kita tidak pernah benar-benar kehabisan cerita.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Kamis, 19 Februari 2026

Masjidnya Tetap, Kita yang Berbeda

Semalam saya sholat tarawih.

Bukan tarawih biasa.

Saya kembali ke masjid tempat saya bertumbuh — dari bocah yang masih bingung membedakan rakaat, sampai dewasa yang kini berusaha terlihat lebih khusyuk.

Dibikinin AI

Masjid itu penuh. Sampai ke jalan. Saya pun sholat di aspal jalanan di sekitar masjid. Dulu, waktu kecil, sepanjang jalan ini dipasang tenda. Lampu di gantung sederhana. Anak-anak berlarian sebelum iqamah, kadang masih bercanda padahal sudah pakai peci. Semalam tidak ada tenda. Tapi entah kenapa, rasanya justru lebih penuh, mungkin karena saya tidak kecil lagi seperti dulu.

Urutan sholat tarawih masih sama. Setelah sholat isya, ada MC yang membuka rangkaian kegiatan dengan suara yang terdengar campuran antara percaya diri dan gugup. Lalu Bilal melantunkan bahasa arab, seperti sholawat. Setelah sholat tarawih, doa kamilin dibacakan — panjang, khusyuk, dan terasa sangat lama ketika kita masih kecil.

Dan di situlah saya tersenyum sendiri.

Karena dulu… saya pernah ada di posisi itu. Saya pernah ditugaskan panitia Ramadan menjadi MC. Berdiri di depan jamaah, dengan tangan dingin dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Pernah juga menjadi bilal. 

Bukan karena ingin tampil. Tapi karena diberi amanah. Dan setiap kali nama saya diumumkan dalam daftar petugas, ada rasa bangga sekaligus deg-degan yang sulit dijelaskan. Takut salah. Takut keliru. Tapi tetap ingin menjalankan dengan sebaik mungkin.

Bertemu teman kecil

Ramadan bukan cuma menguji lapar. Ia menguji ingatan. Yang bikin malam itu makin bermakna adalah bertemu teman-teman lama. Wajahnya sudah berubah, tapi tawanya masih persis seperti dulu. 

Kami tidak banyak bicara tentang pekerjaan. Tidak juga tentang pencapaian. Kami justru bernostalgia. Tentang siapa yang dulu suaranya gemetar saat membaca doa kamilin. Tentang siapa yang salah menyebutkan susunan acara. Tentang malam-malam Ramadan yang terasa begitu panjang, tapi justru ingin terus diulang.


Tiba-tiba saya sadar…

Ramadan bukan sekadar menahan lapar.

Ia adalah ruang untuk pulang.

Ke masjid.

Ke kenangan.

Ke versi diri yang lebih sederhana.


Masjidnya masih sama.

Adzannya masih sama.

Doa kamilinnya masih sepanjang dulu.


Yang berubah cuma kita.!


Dulu, ketika ditugaskan menjadi petugas Ramadan, kami merasa punya peran. Merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Merasa dipercaya.


Sekarang?

Sering kali kita terlalu sibuk untuk sekadar hadir lebih awal. Terlalu penuh jadwal untuk sekadar duduk lebih lama setelah salam.


Ramadan ternyata bukan cuma tentang menahan lapar dan haus.

Ia mengajak kita menahan ego.

Menahan merasa paling lelah.

Menahan lupa bahwa kita pernah begitu mencintai suasana ini.


Dan mungkin…

yang perlu kita hidupkan kembali bukan hanya semangat ibadahnya,

tetapi semangat menjadi bagian dari cerita.


Karena boleh jadi,

yang benar-benar kosong bukan perut kita—

melainkan kenangan yang tidak lagi kita rawat.


Itu yang EDAN.


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉