Katanya saya tidak punya ide. Padahal Ramadan selalu punya caranya sendiri untuk membuat hari terasa penuh.
Sahur pertama biasanya berisik. Tabuhan beduk diarak remaja masjid, suara yang kadang mengganggu tidur tapi justru dirindukan setahun sekali. Tapi kemarin berbeda. Hujan turun deras sejak malam. Tidak ada arakan. Tidak ada tabuhan. Hanya suara air yang jatuh tanpa henti, bahkan sampai subuh dan sepanjang hari masih menyisakan rintik yang setia.
![]() |
| Ai, yang buatin. |
Sahur ditemani bayam, telur dadar, dan beberapa frozen food khusus untuk anak-anak. Sederhana. Tidak mewah. Tapi cukup. Dan di Ramadan, “cukup” selalu terasa lebih dari cukup.
Sebenarnya kemarin ingin bermalas-malasan di rumah. Hari pertama puasa, hujan pula. Kombinasi yang sempurna untuk rebahan. Tapi hidup tidak selalu sejalan dengan niat santai kita. STNK yang tertinggal minggu lalu memaksa saya menerobos rintik hujan, membelah Jakarta dengan Transjakarta menuju Cessna Tower, Sudirman.
Ramadan hari pertama, di dalam bus, bersama orang-orang yang mungkin juga sedang menahan lapar dan dahaga. Tidak ada yang saling bicara, tapi rasanya ada kesepakatan diam-diam: kita sama-sama sedang berjuang hari ini.
Hujan masih turun saat perjalanan pulang. Dan entah kenapa, kaki ini memilih singgah ke makam Kober, Puri Beta. Bertemu almarhum bapak.
Ramadan memang sering membuat hati lebih lembut. Di antara rintik hujan dan tanah basah, rasa rindu itu datang tanpa izin. Diam. Tapi dalam.
Menjelang berbuka, dulu mungkin takjil adalah sesuatu yang harus diburu. Tapi sejak berumah tangga, takjil justru lahir dari dapur sendiri. Katanya lebih bersih. Dan mungkin benar, karena rasanya juga jauh lebih hangat.
Jagung rebus, irisan apel merah, somay, dan segelas air putih hangat. Tidak ada yang istimewa. Tapi justru itu istimewanya.
Maghrib berjamaah menjadi penutup hari, sebelum makan malam dan bersiap menyambut tarawih kedua Ramadan.
Lucu ya. Tulisan tentang “tidak ada ide” ini justru menjadi bukti bahwa selama kita hidup, berjalan, rindu, dan bersyukur—kita tidak pernah benar-benar kehabisan cerita.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉






0 Comments:
Posting Komentar