Minggu, 22 Februari 2026

Beberapa Menit, Seharian Penuh

Hari ini saya menulis bukan karena sedang punya banyak waktu.
Justru sebaliknya. Deadline sudah menunggu besok, tenggorokan mulai kering, dan kepala terasa penuh. Tapi entah kenapa, di tengah dahaga itu saya tetap memilih duduk, mengetik, memperbaiki, mengulang, memastikan semuanya layak untuk ditampilkan.


Mungkin beginilah Ramadan bekerja.

Ia tidak selalu membuat kita melambat. Kadang justru ia mengajarkan bagaimana tetap maksimal, bahkan ketika tenaga sedang minimal. Dan di sela-sela rasa haus itu, saya sadar… tulisan ini bukan hanya tentang program literasi. Ia adalah tentang komitmen. Tentang tanggung jawab. Tentang membersamai tumbuhnya anak-anak, meski tubuh sendiri sedang belajar menahan.

JS One Award!

Kadang saya bertanya pada diri sendiri…

siapa sebenarnya guru terbaik itu?

Apakah mereka yang menguasai semua materi?
Ataukah mereka yang selalu berdiri paling depan di kelas?

Bagi saya… guru terbaik adalah mereka yang membersamai.
Yang tidak hanya mengajar, tetapi hadir.
Yang tidak hanya memberi tugas, tetapi memberi kepercayaan.
Yang tidak hanya menilai hasil, tetapi menghargai proses belajar.

Saya berdiri di sini hari ini karena pernah dibimbing oleh guru-guru seperti itu.
Guru yang sabar menuntun saya ketika saya belum mengerti arah.
Guru yang percaya pada saya, bahkan ketika saya sendiri meragukan kemampuan saya.

Dan sejak saat itu, saya berkomitmen untuk terus berusaha menjadi guru seperti itu…
bagi siswa-siswi saya.

--------------------------------------------

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Perkenalkan, saya Muhammad Indra Wahyuddin, guru kelas 6 di SDN Cipulir 05.
Melalui kesempatan ini, izinkan saya berbagi praktik baik yang saya lakukan bersama siswa-siswa saya dalam menumbuhkan budaya literasi di kelas.

----------------------------------------------

Di kelas 6 SDN Cipulir 05, saya menemukan kenyataan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks.
Ada anak-anak yang masih ragu menyuarakan pendapatnya.
Ada yang mampu membaca, tetapi belum sepenuhnya memahami.
Ada yang punya ide luar biasa, tetapi belum percaya diri untuk menuliskannya.

Saat itulah saya sadar…
anak-anak ini tidak hanya membutuhkan pembelajaran.
Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh.

Dari refleksi itulah lahir KLISE — Kegiatan Literasi Sekolah.

Namun bagi saya, KLISE bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis.
KLISE adalah ruang belajar yang lebih bermakna.

Di dalamnya, anak-anak tidak hanya menerima informasi,
mereka diajak berpikir, merefleksi, dan mengaitkan bacaan dengan kehidupan mereka sendiri.

Mereka belajar memahami, bukan sekadar menghafal.
Mereka belajar mengolah gagasan, bukan sekadar menyalin.

Di sanalah pembelajaran menjadi lebih mendalam —
karena setiap anak diberi kesempatan untuk menemukan makna.

Melalui LiterAKSI, mereka belajar berani memulai.
Melalui LiterAKTIF, mereka belajar bertanggung jawab atas ide dan tulisannya.
Melalui LiTERAMPIL, mereka belajar percaya diri dan menghargai pendapat teman.
Dan melalui LiterAMPUH, mereka belajar memanfaatkan teknologi secara bijak untuk menyebarkan kebaikan.

Tanpa mereka sadari, kebiasaan-kebiasaan kecil itu tumbuh perlahan.

Kebiasaan untuk disiplin membaca.
Kebiasaan untuk berpikir sebelum berbicara.
Kebiasaan untuk berkolaborasi dan saling menghargai.
Kebiasaan untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.
Kebiasaan untuk berani mencoba, meski belum sempurna.

Dan ketika karya mereka berubah menjadi buku digital,
ketika suara mereka terdengar kembali dalam rekaman podcast,
mereka tidak hanya merasa bangga…

Mereka belajar bahwa proses itu penting.
Bahwa usaha itu bermakna.
Bahwa mereka mampu memberi dampak.

Di situlah saya memahami…
literasi bukan sekadar kemampuan akademik.

Literasi adalah jalan untuk membentuk karakter.
Membentuk anak-anak yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zamannya.

---------------------------------

Saya percaya perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Perubahan bisa dimulai dari satu kelas kecil…
dari satu guru yang mau refleksi…
dan dari satu komitmen untuk terus membersamai.

Dan jika langkah kecil ini dapat menginspirasi guru lain untuk terus berinovasi,
maka saya yakin, kita sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar program.

Kita sedang menumbuhkan generasi yang literat, berkarakter, dan siap menghadapi zamannya.

Karena pada akhirnya…
guru terbaik bukanlah mereka yang paling banyak berbicara,
melainkan mereka yang paling setia membersamai tumbuhnya anak-anak bangsa.

Salam literasi, Semangat JS One AwardTop of Form

Wassalamualaikum.

Hari ini saya tidak sedang merasa hebat, saya hanya sedang belajar bertanggung jawab. Di tengah tenggorokan yang kering dan kepala penuh revisi, saya sadar: kita sering ingin hasil besar, tapi tidak siap dengan lelahnya proses. Ramadan ternyata bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Anak-anak saya belajar untuk tidak menyerah pada satu paragraf yang sulit, dan hari ini saya diuji oleh pelajaran yang sama — konsisten meski tidak ada yang melihat.

Video ini mungkin hanya beberapa menit, tetapi prosesnya seharian penuh. Kita sering meminta anak-anak untuk bersungguh-sungguh. Pertanyaannya sederhana: sudahkah kita? Karakter tidak dibentuk saat nyaman, tetapi saat haus, lelah, dan dikejar waktu. Dan jika hari ini saya tetap menyelesaikannya, itu bukan karena saya kuat — tetapi karena saya tidak ingin anak-anak belajar dari guru yang menyerah. 

Bottom of Form

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow ðŸ˜‰

0 Comments:

Posting Komentar