Kamis, 15 Oktober 2026

Mengubah Cara Belajar Jadi Makin Seru: Cerita Pengalamanku Mengulik AI untuk Kelas Sekolah Dasar

Jujur saja, perkembangan teknologi akhir-akhir ini rasanya cepat banget, ya? Apalagi semenjak kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) makin populer di mana-mana. Sebagai seorang guru yang mengajar di era serba digital ini, tantangan terbesar kita sebenarnya bukan lagi cuma sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pelajaran. Tantangan yang paling berkesan justru bagaimana cara kita membuat atmosfer belajar jadi hidup, relevan, dan bikin anak-anak penasaran untuk belajar sendiri tanpa perlu dipaksa. Berangkat dari rasa penasaran itulah, saya memutuskan untuk ikut dalam kegiatan Pelatihan Integrasi Kecerdasan Artifisial (AI) dalam Kegiatan Pembelajaran Guru SD dan SMP Wilayah Jakarta Selatan.




Ngomong-ngomong soal pelatihannya, acara ini berlangsung dari tanggal 12 sampai 16 Oktober 2026. Pelatihan seru ini diadakan oleh P4 Jakarta Selatan yang berkolaborasi dengan SEAMEO SEAMOLEC . Yang bikin betah, format pelatihannya dikemas fleksibel dan ramah jadwal: gabungan antara sesi daring, belajar mandiri, hingga tatap muka luring . Selama lima hari, kami didampingi oleh narasumber yang sangat inspiratif, Ibu Daniah . Beliau membimbing kami melintasi dunia AI—bukan cuma teori gantung, tapi langsung praktik menyulap berbagai tools AI kekinian menjadi media pembelajaran yang siap pakai di kelas .


Nah, pembaca mungkin penasaran, memangnya seperti apa bentuk konkret dari pemanfaatan AI dalam kelas SD? 


Selama pelatihan, fokus utama kami adalah meracik berbagai platform AI agar bisa menyatu secara natural dalam kegiatan belajar sehari-hari . Sebagai contoh nyata, saya mencoba merancang kelas Bahasa Inggris untuk siswa kelas 2 di SDN Cipulir 05 . Topik yang diangkat adalah pengenalan alat tulis sekolah (stationery) sekaligus memahami pola kalimat "There Is" dan "There Are" . Dari satu materi ini saja, ternyata ada banyak sekali produk digital keren berbasis AI yang berhasil saya kembangkan! 


Langkah pertama yang saya rapikan tentu saja urusan administrasi dan alur mengajar . Untuk urusan ini, saya memanfaatkan AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude dengan jurus RACE Prompting (Role, Action, Context, Expectation) . Hasilnya? Penyusunan Modul Ajar Kurikulum Merdeka jadi jauh lebih cepat, presisi, dan terstruktur rapi . Di dalamnya sudah lengkap ada pertanyaan pemantik, skenario kegiatan belajar berbasis teknologi, rubrik penilaian yang adil, sampai lembar refleksi untuk saya dan para murid .




Setelah alur mengajar siap, pertanyaan berikutnya adalah: gimana caranya bikin materi ini kelihatan menarik di mata anak-anak? 


Di sinilah NotebookLM mengambil peran . Dengan bantuan platform ini, tumpukan materi ajar yang tadinya cuma teks biasa bisa diolah jadi slide presentasi yang mendetail dan infografis visual yang menyegarkan mata . Untuk anak-anak usia SD, visualisasi sederhana yang cerah ini sangat membantu mereka memahami konsep materi tanpa perlu pusing membayangkan hal-hal yang abstrak.


Tapi tunggu dulu, tidak semua anak suka membaca atau melihat gambar, kan? Ada juga murid yang tipe belajar audionya sangat kuat .


Masih menggunakan NotebookLM, materi ajaran tadi disulap lagi menjadi bentuk Audio Overview alias podcast belajar interaktif!  Bayangkan, anak-anak bisa mendengarkan obrolan santai yang membahas materi pelajaran seperti sedang mendengarkan siaran radio favorit . Materi yang tadinya kaku pun berubah jadi lebih akrab di telinga mereka .


Bicara soal audio, rasanya kurang afdal kalau belum mengajak anak-anak bernyanyi, bukan? 


Siapa yang menyangka, berkat Suno AI, saya bisa bikin lagu edukasi sendiri yang terdengar sangat profesional!  Lagu bergenre upbeat children's pop ini saya beri judul "One Book, Two Pens" . Lewat nada yang ceria dan lirik yang gampang dihafal, anak-anak bisa membedakan kapan harus pakai There is (buat 1 benda) dan kapan harus pakai There are (buat benda yang lebih dari 1) sambil bernyanyi gembira .


Nah, selain lewat lagu, cara paling ampuh untuk melekatkan pemahaman anak-anak adalah dengan mengajak mereka bermain .


Lewat fitur Gemini Canvas, saya berhasil membuat sebuah game interaktif berbasis HTML yang judulnya "Petualangan Alat Tulis: There Is & There Are" . Di game ini, ada 10 tantangan seru yang menggunakan mekanisme drag and drop . Siswa bisa mengumpulkan skor secara real-time, mendapatkan bintang emas, dan begitu selesai, laporan hasilnya bisa langsung dicetak atau disalin untuk dikirim ke guru . Belajar serasa sedang mabar game di HP! 


Lantas, bagaimana caranya kita mengevaluasi pemahaman mereka di akhir sesi pembelajaran tanpa membuat mereka merasa tertekan oleh ujian? 


Jawabannya adalah gamifikasi asesmen menggunakan Gimkit . Saya menyiapkan 10 butir soal kuis interaktif yang dikemas dalam bentuk permainan kompetitif yang sehat . Suasana kelas yang tadinya tegang saat sesi kuis biasa, berubah total jadi riuh dan penuh semangat karena semua anak ingin mencoba menjawab dengan benar .


Pengalaman belajar selama lima hari ini benar-benar membuka mata saya . Menguliti berbagai tools AI memberikan lompatan besar bagi cara saya memandang media pembelajaran . AI sama sekali bukan hadir untuk menggantikan peran guru di dalam kelas, melainkan hadir sebagai "asisten cerdas" yang siap membantu kita menyiapkan bahan ajar serba cepat dan bervariasi .




Ketika materi disajikan lewat berbagai jalur—mulai dari cerita audio, lagu ceria, gambar visual, hingga game interaktif—anak-anak jadi tidak gampang bosan dan jauh lebih aktif terlibat . Untuk rekan-rekan sesama pendidik, yuk jangan ragu untuk mulai mencoba dan mengeksplorasi AI!  Percayalah, saat kita menikmati proses belajarnya, anak-anak di kelas pun akan merasakan keseruan yang sama . Selamat mencoba! 


Hasil selama pelatihan : https://docs.google.com/document/d/1LCJEXI-sGRPP3M3yEPoPfTTv9UxyvSP6/edit?usp=sharing&ouid=112238289904608105270&rtpof=true&sd=true


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai

see you tomorrow 😉

0 Comments:

Posting Komentar