Pagi ini, 28 Oktober 2026, halaman SDN Cipulir 05 dipenuhi barisan rapi murid-murid kelas 4, 5, dan 6. Suasana hening dan khidmat mengiringi derap langkah tegap petugas upacara. Mereka adalah anak-anak pilihan yang telah melalui latihan intensif, disiapkan khusus untuk tampil percaya diri mengemban amanah di setiap peringatan hari besar nasional. Melihat kesungguhan langkah mereka saat mengibarkan Sang Merah Putih, ada rasa bangga yang diam-diam menyelinap di dada para guru yang berdiri mengawasi di tepi lapangan.
![]() |
| Murid Hebat bersama Guru SDN Cipulir 05 |
Bertindak sebagai pembina upacara, Ibu Reni berdiri di podium membawa pesan yang begitu dekat dengan keseharian anak-anak. Beliau tidak berbicara dengan istilah sejarah yang rumit dan berat. Sejarah 1928 dibawanya mengalir menjadi sebuah cerita sederhana yang mudah dicerna murid-murid usia sekolah dasar.
Ibu Reni mengingatkan bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, anak-anak muda dari berbagai pulau—Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, hingga pemuda dari berbagai penjuru Nusantara—berkumpul di satu tempat. Mereka sadar bahwa perjuangan sendiri-sendiri tidak akan pernah membuahkan hasil. Maka, lahirlah ikrar legendaris: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Intinya sederhana: walau berbeda suku, logat, dan asal usul, mereka sepakat untuk tidak jalan sendiri-sendiri lagi.
"Hari ini adalah hari kita semua," tutur Ibu Reni lantang, menyapa anak-anak yang menyimak di bawah hangatnya matahari pagi.
Makna ikrar hampir seabad silam itu lalu ditarik ke masa kini. Menurut Ibu Reni, cinta tanah air bagi seorang murid SD bukanlah perkara maju ke medan perang, melainkan belajar dengan sungguh-sungguh dan merasa senang bersekolah di SDN Cipulir 05. Rasa memiliki sekolah ini menjadi wujud paling nyata dari mencintai tanah air tempat mereka berpijak hari ini.
Cinta bangsa juga ditekankan agar tertanam sejak dini. Ke mana pun langkah kaki membawa mereka kelak saat dewasa nanti, identitas sebagai anak Indonesia tidak boleh pudar. Cinta itu beriringan dengan komitmen menjaga lingkungan hidup—mulai dari memungut sampah di kelas, merawat kebersihan halaman rumah, hingga menjaga keharmonisan di lingkungan keluarga.
Pesan penutup yang tak kalah penting adalah tentang bahasa persatuan. Di sekolah, murid-murid datang dari berbagai latar belakang budaya. Keragaman itu justru disatukan oleh bahasa Indonesia. Ibu Reni mengajak anak-anak membiasakan diri bertutur kata yang baik, sopan, dan santun sesuai kaidah bahasa Indonesia, tanpa saling merendahkan atau mengejek perbedaan.
Upacara pun usai, barisan dibubarkan, dan anak-anak kembali masuk ke kelas masing-masing. Namun, catatan-catatan kecil dari podium pagi ini membekas hangat: bahwa Sumpah Pemuda bukan prasasti mati, melainkan napas hidup yang terus berlanjut di bangku-bangku sekolah kita.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉









0 Comments:
Posting Komentar