Masih teringat suasana malam menjelang sahur. Malam itu Karang Taruna RW 08 Ciledug Indah bersama Remaja Masjid Daarussalam menginisiasi kegiatan sahur on the road. Puluhan remaja putra dan putri berkumpul di kantor RW untuk bersama-sama konvoi menuju Rumah Yatim Nurul Imaan di Petukangan, Jakarta Selatan.
Puluhan motor dan dua mobil berjalan beriringan. Jalanan lengang, karena waktu masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya, namun semangat anak-anak muda itu justru hangat. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, tetapi rasanya seperti perjalanan menuju sesuatu yang lebih dari sekadar berbagi makanan.
Sesampainya di lokasi, paket sahur berupa nasi box diturunkan untuk dinikmati bersama saudara-saudara yatim di sana. Kegiatan diawali dengan sambutan dari ketua karang taruna, ketua remaja masjid, dan pimpinan rumah yatim. Lalu suasana berubah menjadi lebih akrab. Duduk melingkar, menyantap sahur bersama, berbagi cerita sederhana, hingga akhirnya ditutup dengan salat Subuh berjamaah.
Di tengah udara dini hari yang masih sejuk itu, kebersamaan terasa berbeda. Ini bukan sekadar konvoi atau dokumentasi kegiatan, tetapi latihan kepedulian. Para remaja belajar bangun lebih awal bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menghadirkan kebahagiaan kecil bagi orang lain. Mereka belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang memahami rasa lapar yang mungkin setiap hari dirasakan sebagian orang.
Bagi adik-adik di rumah yatim, kehadiran rombongan sahur itu bukan hanya soal makanan. Ada rasa diperhatikan. Ada kebahagiaan karena sahur yang biasanya sunyi menjadi lebih hidup. Tawa kecil, doa bersama, dan kebersamaan sederhana itu menciptakan hangat yang sulit dijelaskan.
Namun mungkin yang paling bermakna justru terasa saat perjalanan pulang. Jalanan masih sepi, langit mulai berubah warna, dan hati terasa lebih lapang. Kita datang membawa makanan, tetapi pulang membawa kesadaran. Kesadaran bahwa berbagi tidak pernah membuat kita berkurang. Justru di situlah kita sering kali merasa lebih cukup.
Barangkali memang begitu hakikat sahur on the road. Bukan tentang ramainya iring-iringan kendaraan, tetapi tentang ramainya hati yang tergerak. Bukan tentang sejauh apa perjalanan ditempuh, tetapi tentang sejauh mana kepedulian tumbuh.
Karena pada akhirnya, sahur bukan hanya tentang mengisi perut sebelum fajar. Ia tentang mengisi hati sebelum cahaya datang. Dan mungkin, di antara gelapnya dini hari dan cahaya Subuh yang perlahan menyingsing, kita sedang belajar satu hal sederhana: kebaikan yang dilakukan dalam sunyi sering kali meninggalkan cahaya yang paling lama tinggal di hati.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉





0 Comments:
Posting Komentar