Selasa, 03 Maret 2026

Tidak Semua Ibadah Itu Rebahan

Waktu kecil, saya pernah punya pengalaman yang menurut saya cerdas sekali—setidaknya menurut versi saya saat itu. Seusai tarawih, seorang ustaz berkata dalam ceramahnya, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Kalimat itu seperti menemukan tempat yang pas di kepala anak kecil yang sedang belajar menahan lapar. Besoknya, saya tidur hampir sepanjang hari. Dalam pikiran saya, ini strategi ibadah yang sangat efektif.

Sampai akhirnya suara bapak terdengar cukup keras. Zuhur terlewat. Asar hampir saja menyusul kalau tidak dibangunkan dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Hari itu saya belajar satu hal: ternyata tidak semua kalimat bisa dipahami sepotong-sepotong.

Kalimat “tidurnya orang puasa itu berpahala” memang sering kita dengar. Namun sebenarnya, yang membuatnya bernilai bukanlah tidurnya. Tidur tetaplah tidur. Tubuh memang butuh istirahat. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah keadaan kita saat itu—kita sedang berpuasa. Sejak subuh kita menahan diri. Menahan makan, minum, emosi, dan keinginan. Bahkan ketika kita terlelap, kita masih berada dalam bingkai ibadah itu.

Tidur bukan tujuan puasa. Ia hanya bagian kecil dari perjalanan. Jika diniatkan untuk menjaga tenaga agar tetap kuat beribadah, maka ia menjadi bagian dari kebaikan. Tetapi jika dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan meninggalkan kewajiban, tentu ruh puasanya berkurang.

Mungkin yang lebih tepat bukan “tidurnya berpahala”, melainkan “keadaan puasanya yang bernilai.” Dan dari omelan bapak waktu itu, saya paham bahwa puasa bukan tentang mencari cara paling nyaman, tetapi tentang menjaga kesadaran—bahkan saat kantuk datang.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

0 Comments:

Posting Komentar