Puasa sudah masuk hari ke-14. Mungkin karena sudah dewasa, puasa tidak lagi terasa seperti dulu waktu kecil. Dulu, setiap sahur seperti petualangan. Bangun tengah malam terasa seru. Sekarang? Alarm berbunyi saja sudah seperti ujian kesabaran.
Dan bukan hanya saya. Anak-anak yang di awal Ramadan begitu bersemangat—bahkan sampai membuat daftar menu sahur sendiri—perlahan mulai kehilangan ritme itu. Sayur bayam, kangkung, sawi putih, sop, capcay pernah tersaji bergantian. Opor ayam, telur dadar, rendang, ayam goreng pun sudah menjadi teman sahur. Buah-buahan berwarna-warni melengkapi meja makan: melon, semangka, jeruk, buah naga, jambu kristal, alpukat.
Semua terasa lengkap.
Namun malam ke-14, rasanya berbeda. Berat sekali membuka mata. Berat membangunkan anak-anak. Meja makan tetap ada. Menu tetap bisa disiapkan. Tetapi semangatnya tidak sekuat hari pertama.
Kenapa ya?
Mungkin karena tubuh mulai beradaptasi. Ritme tidur berubah. Energi terkuras aktivitas harian. Secara fisik, wajar jika rasa lelah datang di pertengahan Ramadan. Secara psikologis, semangat awal memang sering memuncak di hari-hari pertama, lalu perlahan menurun ketika rutinitas mulai terasa biasa.
Namun bisa juga karena ada yang mulai lalai kita jaga: niat.
Di awal Ramadan, semuanya terasa baru. Ada target. Ada harapan. Ada janji dalam hati. Tapi ketika hari berjalan, ibadah bisa berubah menjadi kebiasaan. Sahur bukan lagi momen syukur, tapi sekadar kewajiban yang terasa berat.
Padahal justru di pertengahan inilah ketulusan diuji.
Awal Ramadan itu seperti sprint—penuh tenaga. Akhir Ramadan adalah harapan—mengejar malam terbaik. Tetapi pertengahan Ramadan adalah konsistensi.
Di sinilah kita belajar bahwa ibadah bukan tentang ledakan semangat, melainkan tentang menjaga nyala kecil agar tetap hidup.
Kalau malas sahur, mungkin bukan hanya tubuh yang lelah, tapi hati yang butuh diingatkan. Solusinya sederhana, meski tidak selalu mudah: perbaiki pola tidur, kurangi begadang yang tidak perlu, niatkan sahur bukan sekadar makan, tetapi sebagai bagian dari sunnah dan sumber keberkahan. Bangunkan anak-anak bukan dengan perintah, tetapi dengan ajakan hangat. Jadikan meja sahur bukan hanya tempat makan, tetapi tempat berkumpul yang penuh cerita.
Karena sahur bukan sekadar mengisi perut. Ia mengisi niat.
Ramadan masih berjalan. Empat belas hari bukan akhir. Justru ini momentum untuk menata ulang ritme. Jika di awal kita berlari, di pertengahan kita belajar bertahan. Dan yang bertahan dengan konsisten, sering kali sampai pada akhir dengan lebih matang.
Barangkali bukan semangat yang harus dibesarkan, tetapi kesadaran yang harus diperbarui.
Masih ada waktu. Masih ada malam. Masih ada kesempatan untuk bangun sebelum fajar—bukan hanya untuk makan, tetapi untuk menguatkan hati.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉





0 Comments:
Posting Komentar