Kemarin, saat saya membaca beberapa artikel dan menonton sebuah podcast. Ada tiga kata yang menurut saya menarik untuk dituliskan menjadi satu cerita EDAN kali ini. Ketiga. Kata tersebut adalah Kabisat, Hipotalamus dan Rahmah.
Apa menariknya ketiga kata tersebut, ternyata setelah saya cari referensi lebih mendalam, ketiga kata tersebut memiliki fungsi yang mirip.
Saya analogikan ya. Februari 2026 hanya ada 28 hari, tidak ada tanggal 29. Sekilas, semuanya terasa biasa saja. Hari-hari tetap berjalan. Kalender tetap berganti. Tidak ada yang tampak kurang. Padahal, sesekali waktu perlu “dirapikan” oleh sesuatu yang jarang kita perhatikan.
Setiap tahunnya perjalanan bumi tidak benar-benar pas 365 hari. Ada selisih kecil yang terus terkumpul setiap tahun. Karena itu, empat tahun sekali, Februari diberi tambahan satu hari. Kita menyebutnya tahun kabisat.
Tahun ini bukan tahun kabisat, namun penanggalan sedang melakukan penyeimbangan. Kabisat tidak selalu hadir. Ia tidak selalu dibicarakan. Namun tanpanya, hitungan waktu perlahan bisa melenceng.
Melenceng! Maksudnya!
Mari saya analogikan perlahan. Perjalanan bumi mengelilingi matahari tidak tepat 365 hari. Ada sisa hampir enam jam setiap tahunnya. Kecil, tetapi terus terkumpul. Empat tahun berjalan, ia menjadi satu hari penuh. Jika tidak ditambahkan, kalender perlahan akan bergeser dari perjalanan bumi yang sebenarnya.
Saya membayangkannya seperti jam yang setiap hari terlambat beberapa menit. Awalnya tak terasa. Namun jika tak pernah disesuaikan, lama-lama ia tak lagi menunjukkan waktu yang tepat. Tahun kabisat hadir seperti koreksi kecil—bukan untuk menambah waktu, tetapi untuk menjaga agar tetap selaras. Kabisat bekerja diam-diam.
Dari sana pikiran saya beralih pada tubuh manusia.
Jika kalender memiliki penyeimbangnya sendiri, mungkin tubuh pun demikian. Dalam sebuah obrolan Raditya Dika dan dr. Aisyah Dahlan tentang hipotalamus, saya memahami bahwa ada bagian kecil di otak yang tugasnya menjaga keseimbangan tubuh.
Hipotalamus ukurannya kecil, tetapi perannya besar. Ia mengatur suhu tubuh, rasa lapar, rasa haus. Ia seperti pengatur suhu otomatis di sebuah ruangan—ketika terlalu panas ia mendinginkan, ketika terlalu dingin ia menghangatkan kembali. Kita tidak pernah melihatnya bergerak, tetapi kita merasakan hasilnya: tubuh tetap nyaman.
Selama ia bekerja dengan baik, semuanya terasa wajar. Namun ketika ia terganggu, keseimbangan mudah goyah. Hipotalamus pun bekerja diam-diam.
Dan Ramadan tahun ini membuat saya menyadari satu hal lain.
Sepuluh hari pertama sering disebut sebagai fase rahmah. Mungkin bukan sekadar pembagian waktu, melainkan pengingat bahwa hati juga membutuhkan penyeimbang.
Rahmah tidak selalu datang dengan perubahan besar. Tidak selalu terasa luar biasa. Namun ia menenangkan ketika emosi meninggi. Ia melembutkan ketika ego mengeras. Ia mengingatkan ketika langkah mulai menjauh dari arah semula. Rahmah juga bekerja diam-diam.
Mungkin memang yang paling menentukan dalam hidup bukanlah yang paling terlihat. Kabisat hanya datang sesekali, tetapi tanpanya hitungan waktu bisa bergeser. Hipotalamus tersembunyi di bagian kecil otak, namun darinya tubuh tetap seimbang. Rahmah pun begitu. Ia tidak selalu terasa besar, tidak selalu dramatis, tetapi perlahan menenangkan yang bergejolak dan merapikan yang berlebihan.
Barangkali hidup memang dijaga oleh hal-hal yang bekerja diam-diam. Bukan yang ramai, bukan yang disorot, tetapi yang setia menjaga keseimbangan. Dan mungkin tugas kita bukan mencari yang besar-besar, melainkan belajar peka pada koreksi kecil yang Tuhan titipkan—agar waktu, tubuh, dan hati tetap selaras.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉





0 Comments:
Posting Komentar