Kamis, 04 November 2021

Mudahnya membuat jejak digital

Letakkan kaki atau sentuh dengan tangan Anda, maka jadilah jejak Anda di dunia nyata, tidak percaya silahkan dicoba, gratis! Namun perlu diingat jejak Anda di dunia nyata akan hilang dengan perubahan lingkungan sekitarnya. Perlu diingat juga, jejak Anda akan sulit ditemukan walaupun tidak hilang, karena jejak yang Anda tinggalkan hanya tersirat bukan tersurat. Sulitnya mencari jejak di dunia nyata, sampai harus membentuk tim  khusus untuk memecahkan jejak tersebut, biasanya disebut detektif. hehehee....

Kini dengan kecanggihan teknologi yang segala sesuatunya tinggal touch memungkinkan kita menemukan sesuatu lebih dekat, tepat dan cepat. Luangkan waktu sebentar, bermanja-manja dengan gawai, tulis/ucapkan yang ingin ditemukan, maka mesin pencari akan menyediakan apa yang akan Anda butuhkan. Gokil kan! 

Paman Besut berbagi rahasia

Siapa Paman Besut? Sstttt... terus baca hingga selesai, nanti Anda akan tahu siapa Paman Besut, ok!

Kemarin sore hujan deras sekali, air hujan seakan tidak memberi celah kepada diri ini untuk menghindar walau setetes. Saking adilnya semua air hujan membasahi tubuh ini, yang pada akhirnya sebuah materi harus terlewati. Yaa, materi GMLD harus saya lewati karena saya harus berteduh lama sekali. Namun, jejak digital baik sekali, saya bisa mendapatkan ilmu hebat dengan cara memanjat grup WA di pagi hari. Kini saatnya jemari merangkai kata membuat resume yang siap dinikmati. 😊

Ngemeng-ngemeng tentang jejak digital narasumber semalam sangat lugas memberikan contoh tentang jejak digital. Contoh yang diberikan narsum sangat kontekstual dan real (no tipu-tipu). "yg mau kenal lebih jauh tentang saya silahkan googling nama saya" sebuah kalimat yang saya copy dari obrolan di WA grup. Hasilnya, taaa.... daaaa....

Setelah googling saya mendapatkan banyak informasi tentang beliau. Kok bisa banyak yaaa, hasil pencariannya. Wajah Pak Dedi bisa banyak seperti itu di google karena, beliau sudah berkecimpung di dunia digital sejak 2005. Instagram, Youtube hingga Podcast beliau aktif di dalamnya. Ada hal yang menarik ketika saya menemukan Pak Dedi Dwitagama di dunia maya tepatnya podcast. Ternyata menyampaikan ide dengan suara saja bisa menjadi sebuah jejak digital, seperti tokoh Paman Besut yang diperankan oleh Pak Dedi Dwitagama.


Jadi sekarang sudah tahu yaa Paman Besut itu siapa. Yupp... beliau adalah narsum GMDL semalam (Rabu, 3 November 2021)

Siapa lagi yang memiliki jejak digital?

Bukan Paman Besut namanya (Upss) Pak Dedi maksud saya, jika tidak membuat interaksi dalam setiap penyampaian materinya, Semalam Pak Dedi mecari relawan yang mendapatkan tugas untuk menjawab pertanyaan darinya. "Sepanjang Anda sekolah dari TK sampai perguruan tinggi bahkan S3, adalah nama seorang guru atau dosen yang Anda kenang?" 

Tentunya respon dari peserta GMDL sangat antusias. Keantusiasan para peserta terekam dengan jejak digital di bawah ini yang sudah saya rangkum untuk Anda.

Menurut Pak Dedi, jika kita belum terekam dalam mesin pencarian google maka anda bukanlah siapa-siapa karena ketika seseorang ingin mencari tahu tentang sesuatu, kini dapat kita temukan dengan mudah melalui google. Namun ada beberapa pahlawan jaman dahulu seperti Ki Hajar Dewantara, Cut Nyak Dien, Nabi Muhammad, Sidarta Gautama yang meski pada jaman mereka dahulu tidak memiliki akses internet namun dengan mudah kita dapat menemukan informasi tentang mereka di google karena kisah tentang mereka telah diarsipkan oleh orang lain. 

Bagaimana membuat Jejak Digital

Perlu kita cermati bersama bahwa jejak digital adalah jejak data yang diperoleh ketika seseorang menggunakan internet. Jejak digital bisa berasal dari unggahan foto, aktivitas berbagi pesan, aktivitas perbankan, meninggalkan komentar, dll. Lalu timbul pertanyaan bagaimana membuat jejak digital. Hmmm.. rasanya cukup mudah untuk menjawabnya yaa. 😋

Bukan rahasia lagi bahwa penggunaan media social sudah menjadi kebutuhan. Asalkan memiliki akun di plaform google kita sudah bisa melalukan banyak hal di dunia maya. Caranya juga mudah banget (pakai s) bangets. Posting/unggah itu cara kita untuk membuat jejak digital di dunia maya/internet. Gampang kan!

Mengelola jejak digital

Nah.. ini dia PR untuk kita sebagai pengguna media sosial. Membuat jejak digital yang kita tinggalkan tetap aman dan tidak disalahgunakan oleh orang lain. Bagaimana cara mengelolanya yaa?

  1. Membuat konten positif dengan menyertakan nama diri Anda.
  2. Pastikan konten yang Anda upload mengandung unsur kebaikan bukan kebalikannya
  3. Pilihlah ruang media sosial yang membuat Anda nyaman (misalkan : Instagram, Facebook, Youtube, Twitter, Podcast atau Blog)
  4. Sering-seringlah mengubah password media sosial demi keamanan.

Perlu diketahui juga ketika kita sudah masuk kedalam dunia maya dan meninggalkan jejak digital, maka kita harus siap dengan tanggpan dari netizen. Sama seperti kita saat membuat konten di media sosial. Kita boleh memposting/unggah apapun yang kita suka, netizen pun boleh memberikan tanggapan sesuai apa yang mereka rasakan. Tanggapan yang datang bisa positif atau negatif.

Jika yang kita dapatkan adalah tanggapan negatif, maka tidak perlu ragu dan takut untuk membuat jejak digital. Kuncinya, jika ada  yang komentar negatif balas dengan santun, tidak perlu marah. Jika takut foto disalah gunakan, buat jejak digital berupa tulisan, beri nama jelas dan tidak perlu memasang foto. Menulis atau membuat konten apa saja, yang penting positif, kita semua tidak tahu jika suatu saat tulisan atau konten yang kita buat digemari banyak orang.

***

Di era teknologi yang terus berkembang, tentunya para pengguna dunia maya akan memiliki jejak digital yang ditinggalkan. Apapun media yang digunakan, jejak digital akan dapat ditemukan. Maka bijaklah dalam memposting/mengunggah konten yang ingin ditinggalkan. Siapa yang bisa memilah konten yang ingin dibagikan? sang pemilik jempollah yang akan mempertanggung jawabkan. So, hati-hati dengan jempolmu, karena jempolmu adalah harimaumu. (Hauuummm)

Siap meninggalkan sesuatu yang positif di masa yang akan datang. Yukkk... bijak bermedia sosial agar jejak digital yang ditinggalkan akan bermanfaat untuk Anda, kalian, mereka dan semua yang membutuhkan.

Salam Kenal
Salam Literasi
Salam Indrakeren
See You Tomorrow 😉

Rabu, 03 November 2021

Mari hancurkan Writing Block

Kebuntuan menulis adalah sebuah keadaan ketika penulis merasa kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya. Kehilangan kemampuan menulis dan membuat karya tulis baru tidaklah disebabkan oleh masalah komitmen atau kecakapan menulis.

Tulisan pada paragraf tersebut saya temukan saat saya berkunjung ke wikipedia. Wikipedia menjelaskan bahwa writing block merupakan sebuah keadaan ketika penulis merasa kehilangan kemampuan menulis. Terus terang saya pernah mengalami hal tersebut, bagaimana dengan kamu, anda dan kalian yang sedang berkunjung ke blog sederhana ini? Apakah pernah merasakan writing block?

Ini adalah bukti

Bulan september dan oktober merupakan bulan kelabu dalam kegiatan menulis saya. Kelabu karena mungkin saya sedang terkena sindrom writing block, itu mungkin loh! Hal tersebut bisa dikatakan benar jika melihat kegiatan menulis saya di blog ini. Menurut rekam digital yang ada di blog ini, pada bulan september dan oktober saya hanya menulis 7 artikel, dikit bangetkan! Mungkin saya terkena writing block saat itu. Sekarang saatnya saya bangkit, semoga!

Writing block semoga hancur

Terus terang artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul mental kepenulisan dari Ibu Ditta semalam. Sebenarnya saya mau sabar menunggu materi lanjutan dari Ibu Ditta, namun setelah saya melihat sesi tanya jawab sepertinya writing block sudah bisa dihancurkan.

Oleh sebab itu pertanyaan dan jawaban dalam diskusi di WIMP semalam saya resumekan kembali. Semoga resume ini akan membantu menghancurkan writing block yang hinggap pada diri saya di dua bulan terakhir. Lagi-lagi saya ucapkan semoga!

1. Writing block pada anak

Kegiatan menulis memang sudah kita kenal sejak usia dini. Tulisan pada tembok menjadi satu sejarah dalam hidup masa kecil kebanyakan anak di dunia. Nah, PR orangtua adalah ketika harus memindahkan coretan pada tembok ke dalam buku. Sering anak mengalami penolakan akan hal tersebut. Solusinya hanya satu, orangtua harus mengenali penyebabnya terlebih dahulu

Jangan terburu-buru mengajak anak dalam kegiatan menulis, bairkan anak merefresh hati dan otaknya terlebih dahulu. Selain itu bisa juga diajak jalan-jalan atau melihat foto sesuai tema yang ingin ditulis. Yang tidak kalah penting terus berikan motivasi membangun, agar anak semakin percaya diri dalam kegiatan menulis.

2. Mental menulis tidak siap

Menurut Ibu Ditta tidak ada kata tidak siap dalam menulis, tapi lebih tepatnya belum siap untuk menulis. Cara untuk siap menulis adalah mulai menulis, karena dengan menulis kita dapat tahu kekurangan dan kelebihan diri. Denang mulai menulis juga kita dapat mendapatkan koreksi dari komunitas atau orang yang membaca tulisan kita. Tujuannya tentu agar pada masa yang akan datang, tulisan kita menjadi lebih baik.

Tidak perlu terburu-buru untuk menulis. Tingkatkan sedikit demi sedikit, tingkatkan kemampuan dengan perlahan. Seperti kata guru blogger Indonesia, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang akan terjadi. 

3. Akibat menunda, ide menghilang

Tulis garis besarnya atau bisa dikatakan tulis point-pointnya dalam bentuk mind map. Kalau pada pelajaran bahasa Indonesia biasa disebut kerangka pikiran. Lebih bagus lagi jika sudah dituliskan dalam bentuk daftar isi. Dengan adanya kerangka pikiran, insyaallah dapat lebih mudah untuk menyelesaikan tulisannya.

4. Malas membaca, itu juga writing block

Saya pernah membaca buku berjudul menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi yang ditulis oleh Om Jay. Dalam salah satu judul dalam bukunya ada yang menarik perhatian saya. Judul tersebut tertulis membaca adalah makanan utamaku, menulis adalah minuman pelepas dahagaku. Membaca tulisan tersebut memberi saya bukti bahwa membaca adalah jodohnya menulis.

Analogi Ibu Ditta lebih menarik lagi. Sebuah teko hanya bisa mengucurkan air bila berisi air kan ya? Begitu pula kaitan antara menulis dan membaca. Akan semakin mudah bagi penulis untuk menulis, ketika ia rajin membaca. Dengan membaca bisa menambah kosakata, menambah wawasan dan bisa mengetahui gaya tulisan. 

Membaca tak terbatas pada membaca buku saja. Membaca blog, koran, majalah, bahkan membaca "lingkungan" pun bisa jadi bahan inspirasi kita untuk menulis. Jika kita bertanya pada penulis hebat, yakinlah kita akan temukan bahwa mereka (para penulis hebat) adalah para pembaca ulung.

5. Bosan

Bosan adalah salah satu penyebab kita terserang Writer's Block. Bosan bisa jadi pertanda juga bahwa otak kita sedang lelah. Jadi, kalau saya sedang bosan sih ya rehat dulu sejenak. Lakukan hal-hal yang kita sukai. Membaca novel, menonton film, jalan-jalan, dan kulineran. Bisa jadi kan saat jalan-jalan kita justru dapat inspirasi baru. Akhrnya menulis lagi deh.

6. Pesimis pada kemampuan diri

Rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau ya, fren? Tapi, kalau terus sibuk memerhatikan rumput tetangga, kapan dong kita rawat rumput sendiri? Yang ada, kalau terus sibuk memerhatikan punya orang, apa yang kita miliki malah tak akan tumbuh dengan baik.

Solusi yang diberikan Ibu Ditta cukup simple. Menurut beliau kita pasti punya teman dekat bukan? Nah, coba deh share tulisan kita ke orang-orang terdekat dulu. Atau ke orang-orang yang punya passion sama. Misalnya dalam kelas menulis. Hal tersebut bisa memupuk basic dari rasa percaya diri kita. Yakin bahwa tulisan kita akan bermanfaat paling tidak untuk orang-orang yang kita sayangi. Asalkan rajin menulis dan semangat belajar, insya Allah lama lama tulisan kita pun akan enak dibaca.

7. Sibuk

Ini yang sering saya rasakan, kesibukan menglalihkan dunia menulisku (halaah). Namun memang tidak bisa dihindari, kesibukan merupakan tantangan yang nyata dalam dunia kepenulisan. Sering kali kegiatan menulis yang menjadi korban penundaan. 

Hal yang disarankan Ibu Ditta untuk mengurai kesibukan adalah dengan membuat schedule board. Schedule board digunakan untuk pengingat akan tanggung jawab yang sudah ditetapkan. 

8. Diserang Kritik

Kritik, takuuuuuut! Bukan takut untuk membaca atau mendengarnya, namun takut untuk memulainya kembali. Ibu Ditta mengambil kalimat motivasi dari Mahatma Gandhi. Mahatma Gandhi pernah berkata, "Tak ada yang bisa menyakiti diri kita selain kita sendiri."

Jadi, apakah sebuah kritikan bisa membuat down atau justru pemicu semangat tergantung pada orang yang mendapat kritikan. Seberapa cepat ia mampu untuk memilih bangkit kembali dari keterpurukan akibat sebuah kritikan.

Ibu Ditta juga memberikan tips, untuk menghadapi tips. Saat mendapat kritik, tenangkan diri (bisa dengan wudhu misalnya bagi yang muslim, berjalan-jalan, dsb). Yakinlah bahwa pelaut ulung selalu bersahabat dengan ombak besar. Pikirkan kembali apa isi kritikan tersebut. Evaluasi diri apakah kita memang harus berbenah atau kritikan tersebut hanya karena tidak suka? Mari bijak memilih mana kritik yang bisa kita abaikan dan mana yang sebaiknya kita pertimbangkan.

***

Tulisan ini tidak memuaskan, tulisan ini juga semoga masih banyak kurangnya. Namun, paling tidak writing block sudah bisa dicba untuk dihancurkan. Mari hancurkan writing block bersama, agar semakin produktif dalam berliterasi.

Salam Kenal
Salam Literasi
Salam Indrakeren
See You Tumorrow 😉

Selasa, 02 November 2021

Mental Kepenulisan dari Ibu Ditta

"Baiklah Bapak/Ibu, Malam ini, izinkan saya membersamai Narasumber cantik nan cerdas asal kota Subang. Sang peraih Penghargaan Bupati Subang (2020), pula peraih Penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang sebagai guru berprestasi (2021). Prestasi literasinya yang membanggakan hingga karyanya yang mampu menembus Penerbit Mayor, memberikan jejak prestasi  literasi yang baik bagi tanah Subang. Beliau gemilang dengan karya di masa muda yang membahana, semangat literasi yang luarbiasa memikat hati para pembaca. Beliau adalah perempuan  cerdas bernama Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr."

Begitulah moderator yang bernama pena Maydearly memperkenalkan narasumber pada malam ini. Sebenarnya ada kalimat lain yang saya suka pada pembukaan materi writing block dan mental penulisan pada malam ini. Mau tau gak? "Sebelum pada materi, coba kita cek apakah Narsum cantik kita sudah hadir?" itu kalimat pembuka dari moderator yang tidak kalah cantiknya dengan sang narasumber. Awal yang cantik untuk mengawali pembelajaran pada malam ini. Siapkan energi untuk menyimak resume cantik ini dari penulis blog sederhana yang selalu keren. (narsis... uweek) 😎

Mengapa Writer's Block dan Mental Kepenulisan itu penting?

Menurut narsum cantik, menulis ... apa pun genrenya, tentu akan memiliki tantangan tersendiri. Inilah mengapa seorang penulis harus memiliki mental yang juga kuat dan sehat agar tetap produktif. Lalu apa yang harus kita siapkan agar memiliki mental yang kuat? 


Mind map di atas merupakan mental yang harus dimiliki seorang penulis. Kelima mind map tersebut siap dibahas secara tuntas pada resume sederhana ini. So, disimak hingga titik terakhir yaaa. 😉

1. Siap Konsisten

Menurut Ibu Ditta konsisten bisa diartikan luas. Target konsisten pun bisa disesuaikan masing-masing. Lebih bagus bila sudah seperti Omjay yang meski berada di lautan kesibukan, beliau mampu menulis setiap hari di blog. Narasumber sendiri sudah kenal blog sejak kuliah. Sekitar tahun 2010. Namun ternyata, jauh sebelum itu, narsum sudah senang menulis. Rutin menulis walau di buku diary. Kegitan menulis yang digeluti sejak SD, SMP, SMA hingga kuliah, tetap konsisten hingga kini saat sudah menjadi guru, hanya saja media yang digunakan bukan lagi menulis di atas kertas, namun kini menulis pada media blog.

Di kelas menulis Omjay, Ibu Ditta berkesempatan menjadi salah satu penulis bersama Prof. Eko (angkatan pertama), Hal tersebut mengantarkan beliau menjadi salah satu guru di Kab. Subang yang mendapat penghargaan dari bupati. Kini, di tengah kesibukan sebagai Pengajar Praktik (PP) Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP), saya juga masih konsisten menulis. Di jurnal pendampingan, laporan lokakarya, dan sesekali di blog

Menulis versi dulu dan sekarang tentu berbeda. Dulu kebebasan berpendapat sulit didapat. Alih-alih penghargaan, jika tak tepat penjara malah jadi sasaran. Sekarang, menulis semakin mudah. Di blog pribadi maupun keroyokan. Kita bisa menulis. menerbitkan buku ke penerbit mayor atau Indi juga bisa. Jadi, mengapa masih tak menulis?

2. Siap Dikritik

Siapa di sini yang pernah mendapat kritik pedas atas tulisannya? ☝🏻😄

Atau masih belum menulis karena takut dikritik? Takut dibilang nggak bagus? Takut masih banyak salahnya? dsb

Pada point kedua ini, banyak hal yang dapat dicontoh dari pengalaman Ibu Ditta. 

[Pada saat ikut lomba mahasiswa berprestasi yang salah satunya harus membuat karya tulis, saya dengar bahwa ada dosen yang mengatakan "tidak ada yang layak jadi karya tulis". Waduuh... bikin baper nggak sih kalimat seperti itu????] 

Lalu apa yang dilakukan Ibu Ditta saat mendapatkan kritikan tersebut? mundurkah atau menjadikan hal tersebut pelajaran berharga? Ternyata pilihan Ibu Ditta jatuh kepada, 

[Tapi ... Saya memilih menjadikan itu sebagai pelecut semangat. Saya katakan pada diri sendiri, membuat afirmasi positif bahwa suatu saat akan saya buktikan bahwa saya bisa membuat karya tulis yang baik."]

Apa yang dipilih Ibu Ditta merupakan jalan yang sudah ditentukan oleh Allah swt. Persis seperti kalimat yang Ibu Ditta tulis pada akhir point kedua ini. "Ketika kita sungguh-sungguh telah berusaha, maka apa pun hasilnya insya Allah tak kan membuat kita kecewa". 😊

Kritik itu akan selalu ada. Tinggal bagaiamana kita menyikapinya. Garam akan tetap asin. Tergantung seluas apa wadah yang kita siapkan. Jika hati kita sekecil gelas, tentulah ketika ditambah garam akan terasa asin. Namun jika kita mau meluaskan hati. Ibarat garam yang dimasukkan ke danau. Insya Allah akan tetap terasa segar airnya.

3. Siap Belajar

"Kita selalu bisa belajar dari siapa pun, kapan pun dan dimana pun. Bahkan dari seorang pencuri, kita bisa belajar bahwa hal tersebut merugikan orang lain. Sehingga kita bisa belajar bersikap menjadi pribadi yang lebih baik. Tak ada tua muda dalam belajar. Setiap orang berhak dan mampu belajar. Kehadiran Bapak/Ibu membuktikan bahwa peserta di grup ini adalah sosok-sosok pembelajar sejati. Insya Allah." tulis Ibu Ditta pada point ketiga ini.

4. Siap Ditolak

Sakit kalo ditolak, iya gak sih. hehehe... itu menurut saya. Lalu bagaimana menurut Ibu Ditta? Mau tau ilmu ditolak dari Ibu Ditta? baca terus resume sederhana ini sampai habis. 😉

Ditolak juri lomba, ditolak penerbit, ditolak tolak lainnya. Ibu Ditta menganalogikan tentang JK Rowling penulis best seller novel Harry Potter? Bukankah ia ditolak belasan penerbit sebelum akhirnya bukunya mendunia?

Nikmati prosesnya, tentunya akan nikmat pada waktunya. Seperti penolakan, merupakan proses yang tentunya harus dilewati dalam kegiatan menulis. Namun, pada akhirnya penolakan-penolakan tersebut yang menjadikan kita menjadi pribadi yang semakin baik, jika kita belajar dari penolakan tersebut.

5. Siap menjadi unik

Setiap orang terlahir dengan keunikannya masing-masing. Namun, terkadang keunikan tersebut dijadikan alasan untuk tidak bertumbuh menjadi hal yang baik. Padahal tidak ada yang sia-sia dalam setiap penciptaan. 

Sepertti yang Ibu Ditta sampaikan, Last but not least, hal yang termasuk unsur paling penting bagi seorang penulis adalah ... Just be yourself (jadilah diri sendiri). Tiap orang memiliki keunikan tersendiri. Seperti para pemateri sebelumnya. Masing-masing menjadi spesialis kepenulisan 😊. Paling mudah untuk menjadi unik adalah ... Tulis sesuai dengan apa yang kita sukai dan kuasai.

"Teruslah memberi arti bagi setiap orang yang kau temui,
dalam setiap hal yang kau lalui dan untuk setiap waktu yang kamu miliki"

Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr

Materi Writing Block-nya dipending agar tambah penasaran!!! Kapan akan disampaikan? tunggu saja tanggal mainnya... 😁

Salam Kenal
Salam Literasi
Salam Indrakeren
See You Tomorrow 😉 

Membangun "Jempol" digital space yang aman untuk Anak

Jempolmu harimaumu (haaauuumm), seberapa keras jempolmu mengaum, seberapa lincah jempolmu berpindah dari layar satu ke layar yang lain. Tahukan jempolmu akan sesuatu yang "ia" tuju pada setiap informasi yang ada pada gawaimu. Mengertikah jempolmu akan hal tersebut! Apakah kamu yakin jika jempolmu tahu dan mengerti akan hal tersebut? tentunya tidakkan! Jadi siapa yang harus tahu dan mengerti atas jejak digital yang kamu tinggalkan? So, iya kamu 😉, Setiap jejak digital yang kamu lalui, tentunya akan berbanding lurus dengan tanggung jawab diri akan hal tersebut.  

Lalu bagaimana jika pengguna jempol adalah seorang anak yang masih perlu bimbingan orangtua? Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap jejak digital yang dilalui jempolnya? Hayoo ... siapa? atau adakah petunjuk/bimbingan/guideline untuk memahami penggunaan jempol di dunia digital untuk anak? 

Jawaban dari semua tanya pada paragraf di atas akan terjawab dalam resume sederhana ini. Resume dari pelatihan Guru Motivator Literasi Digital hari Senin, 1 November 2021. Pelatihan yang mendatangkan narasumber hebat dibidang literasi, yaitu Guru Blogger Indonesia atau yang biasa disapa Om Jay. Beliau membawakan materi hebat berjudul Membangun Digital Space yang aman untuk Anak. Mari simak resume sederhana ini 😊

Om Jay membawakan materi yang sangat bermanfaat bagi pada pengguna digital. Materi yang telah memberikan wawasan dan keilmuan mengenai pemanfaatan media digital yang bijak dan aman bagi anak. Karena peningkatan dunia tekhnologi digital tidak dipungkiri akan berdampak pada kebiasaan  anak, dan menjadi peran orang tua serta guru untuk bijak menyikapi dan memberikan arahan.

Berdasarkan pertemuan semalam, ada 4 hal dalam literasi digital yang harus kita kuasai, sehingga kita bisa menyampaikannya kepada peserta didik kita, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital dan keamanan digital. Arti keempat hal literasi digital tersebut dapat pada gambar di bawah ini?


Kemudian bagaimana kita membangunnya? Om Jay menjelaskan untuk membangun Digital Space yang aman untuk anak ada beberapa cara diantarana : 

Pertama kita mengajak anak untuk memahami perkembangan dunia digital yang terus berkembang. Kedua kita  harus memahami psikologi anak dan perkembangannya dalam dunia digital. Ketiga, Kita harus menyadarkan anak tentang apa saja resiko kejahatan pada anak dan keempat bagaimana cara aman dan nyaman beriunternet bersama keluarga tercinta.

Sangat menarik keempat cara yang diberikan Om Jay dalam membangun digital space yang aman untuk anak. Mengapa sangat menarik? karena kedekatan anak pada gedjet tampaknya lebih dekat daripada ke ayah bundanya. Oleh karena itu peran orangtua dalam membangun Digital Space yang aman untuk anak sangat penting!

Anak-anak kita adalah anak-anak kelompok yang rentan terhadap berbagai kejahatan digital. Tidak semua orang baik ada dalam dunia digital kita. Salah satunya adalah jangan biarkan anak-anak kita mengumbar data pribadi di media digital atau media sosial.

Ketidaktahuan dan ketidakmampuan menggunakan media digital dengan baik dan benar, membuat mereka menjadi korban kejahatan media digital. Bahkan banyak juga orang dewasa yang menjadi korbannya. Kita harus mulai belajar di media digital serta mencari banyak informasi tentang hal tersebut.

Orangtua adalah garda terdepan

Banyak orang saat ini tidak memahami bahkan tidak peduli akan bahaya yang dapat mengancam anak-anak kita. Itulah mengapa kami membuka kelas GMLD, walaupun kominfo juga telah melaksanakan berbagai webinar literasi digita secara masif di setiap kota dan kabupaten setiap hari di internet. Kominfo melakukan, dan kita bantu supaya makin banyak yang faham betapa penting MELEK Literasi Digital...

Kita terkadang dengan mudah saling berbagi informasi termasuk data yang sifatnya pribadi kepada orang yang baru dikenal. Akibatnya data privasi dapat disalahgunakan oleh pihak yangtidak bertanggung jawab. Apalagi bila mereka masih anak-anak. Data privasi kita dengan mudah diperjual belikan oleh mereka yang tdk bertanggung jawab di media digital

Dari hasil survey Google bersama Trust dan Safety research pada bula Februari 2021, ada 51% orang tua di Indonesia merasa khawatir tentang keamanan digital anak. Bahkan ada 42% orangtua mengkhawatirkan 3 hal yaitu keamanan informasi anak, anak-anak menerima konten yang tdk pantas, dan anak-anak menerima perhatian dari orang yang tdk dikenalnya. Jika orangtua tidak waspada, masa depan anak bisa hancur lebur. Oleh karena itu mari berliterasi digital, agar semakin bannyak orang Indonesia yang melek teknologi digital.

Tips digital space aman untuk anak

Tips dari Om Jay tentang digital space yang aman untuk anak dapat dipelajari memulai kiat-kiat berikut ini :
  1. be Smart, tidak menyebarkan informasi sensitif seperti nomor telepon, passport/KTP, password, dan alamat rumah
  2. be Alert, jangan mudah percaya dengan hal yang tidak masuk akal, jauhi phising dengan tidak meng-klik link sembarangan
  3. be Strong, gunakan password yang sulit agar tidak mudah diretas baik untuk akun maupun gawai, biasakan menggunakan two step authentication
  4. be Kind, sadari aktivitas online yang kita lakukan, untuk mencegah terbentuknya rekam jejak yang membuatb kita rawan jadi target kejahatan digital.
  5. be Brave, kenali dan cegah bentuk-bentuk kejahatan di ruang digital.

Oleh karena itu agar aman berinternet bersama anak, orangtua harus dapat menjaga komunikasi dengan anak, bekali diri dan terus belajar. Gunakan fitur dan aplikasi untuk menjaga keamaanan anak di internet. Buat aturan bersama dan terapkan konsekuensinya. Menjadi teman, ikuti anak di media sosial dan jangan berlebihan. Jelajahi, berbagi dan bermain bersama anak. Jadilah teladan digital yang baik sehingga anak akan menjadikan orangtuanya rule model, agar anak akan mencontoh hal baik yang ada pada diri orangtuanya. Mari menjadi orangtua yang peduli terdahap dunia digital space anak.

Salam Kenal
Salam Literasi
Salam Indrakeren
See You Tomorrow 😉

Senin, 01 November 2021

Magnet bikin nempel

Selamat pagi anak-anak cerdas. Sudah lama yaa tidak belajar di blog sederhana ini. Hari ini Pak Indra akan mengajak kalian semua untuk mengenal sebuah benda ajaib. Namun sebelum kalian tahu lebih banyak, mari kita baca doa belajar dulu ya (berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing). Jangan lupa ucapkan tolong bila minta bantuan, ucapkan maaf apabila melakukan kesalahan, dan ucapkan terima kasih setelah mendapatkan bantuan! 

Yukk, kita mulai belajar sekarang, kira-kira benda ajaib apa yang akan kita pelajari hari ini yaa. Hmm.. makin penasarankan! Ok, sekarang Pak Indra kasih tahu benda ajaib tersebut, benda tersebut bernama magnet. Yeess, siapa yang pernah melihat/memegang/memiliki magnet di rumah kalian? Yaaa, tentunya Pak Indra yakin, banyak dari kalian yang sudah pernah melihat/memegang/memiliki magnet. Namun, tidak ada salahnya kita menambah pengetahuan tentang benda yang dapat menempel ini. Yukk.. baca terus tulisan pada paragraf selanjutnya. check it out!

Sejarah Magnet

Anak-anak keren 2000 tahun yang lalu, magnet pertama kali ditemukan di sebuah wilayah Magnesia Yunani. Magnet adalah suatu benda yang dapat menarik benda lain yang terbuat dari logam besi yang memiliki dua buah kutub yaitu kutub utara dan Kutub Selatan.

Magnet dapat menghasilkan sebuah gaya yang disebut dengan gaya magnet. Gaya magnet tersebut dihasilkan oleh tarikan atau dorongan dari benda magnet. Gaya magnet terkuat berada pada kedua kutubnya. Sedangkan gaya magnet paling lemah berada pada bagian tengah magnet.

Jenis-jenis magnet

1. Berdasarkan proses pembuatannya

Perlu kalian ketahui, berdasarkan proses pembuatannya magnet dibagi menjadi dua, yaitu magnet alami dan magnet buatan. Magnet alami adalah magnet yang terbentuk secara alami atau ada dengan sendirinya di alam, artinya sifat kemagnetannya tidak akan hilang. Contohnya Gunung Ida di Magnesia, Yunani dan Jabal Magnet, Arab Saudi.

Sedangkan magnet buatan, sesuai dengan namanya magnet buatan adalah magnet yang dibuat oleh manusia. Anak-anak hebat, kalian tahu tidak siapa yang pertama kali membuat magnet buatan? 

Orang pertama yang membuat magnet buatan adalah William Gilbert tahun 1544 - 1603. Beliau merupakan seorang dokter kelahiran Inggris yang membuat magnet buatan pertama kali.

Macam-macam magnet buatan

Anak-anak yang masih semangat belajar magnet hari ini. Kalian perlu ketahui ada 7 (tujuh) macam magnet yang perlu kalian ketahui.

2. Berdasarkan sifat kemagnetannya

Kita lanjutkan lagi pembalajaran hari ini. Anak-anak setelah kalian mengetahui tentang macam-macam magnet, sekarang kita akan melanjutkan materi magnet berdasarkan sifat kemagnetannya. Berdasarkan sifat kemagnetannya, magnet dibagi menjadi dua, yaitu magnet tetap dan magnet sementara.

Magnet tetap adalah magnet yang dibuat dengan cara mendekatkan bahan yang memiliki sifat magnet yang kuat dengan medan magnet yang sangat kuat, sehingga sifat kemagnetannya tetap bertahan.

Magnet sementara adalah magnet yang dibuat dengan cara mendekatkan bahan magnetis dengan medan magnet yang kuat, sehingga jika dijauhkan sifat kemagnetannya akan menghilang.

3. Berdasarkan sifar bahan kemagnetannya

Terakhir sebelum kita akhiri pelajaran hari ini, Pak Indra akan menjelaskan materi magnet berdasarkan sifat bahan kemagnetannya. Berdasarkan sifat bahan kemagnetannya, magnet dibagi manjadi dua macam, yaitu :

a. Bahan magnetik

Disebut juga dengan istilah Feromagnetik, artinya bahan yang dapat ditarik kuat oleh magnet. Contoh : baja, besi, nikel, kobalt.

 


b. Bahan non magnetik

Bahan non magnetik dibagi menjadi dua yaitu :

Paramagnetik, artinya dapat ditarik lemah oleh magnet. Contoh : alumunium, tembaga, platina dan lain-lain. 

Diamagnetik, artinya sama sekali tidak dapat ditarik oleh magnet. Contoh : emas, seng, merkuri, kayu, karet, batu, kain dan lain-lain. 


Nah, anak-anak keren dengan berakhirnya materi tentang magnet berdasarkan sifat bahan kemagnetannya, maka berakhir pula pertemuan kita hari ini. Terimakasih sudah belajar hari ini, semoga apa yang kalian pelajari hari ini dapat memberikan manfaat di masa yang akan datang. 

Salam Kenal
Salam Literasi
Salam Indrakeren
See You Tomorrow 😉