Sabtu, 28 Februari 2026
Di tengah puasa, Kita bertumbuh
Setup Panjang Menuju Punchline
Kamis, 26 Februari 2026
Di Antara Takjil dan Takdir
Setiap Ramadan, ada satu momen yang selalu dinanti: waktu berbuka.
Anak-anak menghitung menit. Orang dewasa melirik jam. Di pinggir jalan, penjual takjil berjejer. Kolak, es buah, gorengan, kurma, semuanya seperti punya magnet tersendiri. Kita memilih dengan antusias, seakan-akan berbuka adalah perayaan kecil setelah seharian menahan diri.
Ramadan sering terasa seperti itu—hangat, manis, penuh kebersamaan.
Namun minggu ini, di antara aroma kolak dan suara azan magrib, kabar duka datang silih berganti. Minggu ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabar duka datang silih berganti. Ibunda kepala sekolah berpulang. Teman sekolah saya waktu SD lebih dulu dipanggil. Ayahanda rekan operator juga kembali kepada-Nya. Dan mungkin, setiap hari ada hati yang berduka, meski dunia tetap berjalan seperti biasa.
Ramadan yang biasanya identik dengan cahaya, tarawih, dan lantunan Al-Qur’an, mendadak terasa lebih hening.
Dan sebenarnya, kehilangan bukanlah pengalaman baru bagi saya. Lima tahun lalu, Ayahanda saya telah lebih dahulu berpulang. Waktu memang berjalan. Aktivitas kembali seperti biasa. Tetapi rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah menjadi doa yang lebih sering dipanjatkan, terutama setiap Ramadan datang.
Lalu muncul pertanyaan yang sering kita dengar: benarkah meninggal di bulan Ramadan memiliki keutamaan?
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)
Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan besarnya kemuliaan bulan Ramadan. Bulan penuh ampunan dan rahmat. Namun, apakah otomatis seseorang yang wafat di bulan ini pasti mendapatkan keutamaan khusus?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله pernah ditanya tentang orang yang meninggal di bulan Ramadan. Beliau menjawab bahwa wafat di bulan Ramadan adalah tanda kebaikan jika disertai dengan amal saleh, namun yang menjadi ukuran utama tetaplah keadaan akhir kehidupannya (husnul khatimah), bukan semata-mata waktunya.
(Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 13/180)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari no. 6607)
Artinya, yang paling menentukan bukan di bulan apa seseorang meninggal, melainkan bagaimana ia hidup dan dalam keadaan apa ia menghadap Allah.
Ramadan memang bulan yang istimewa. Di dalamnya ada ampunan, ada pelipatgandaan pahala, ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka siapa pun yang wafat dalam keadaan beriman, dalam suasana penuh ibadah dan kebaikan, tentu itu adalah harapan yang indah.
Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa Ramadan bukan sekadar tentang bagaimana kita meninggal. Ramadan lebih banyak berbicara tentang bagaimana kita hidup.
Tentang bagaimana kita memperbaiki diri selagi masih diberi waktu.
Tentang bagaimana kita memohon ampun sebelum benar-benar dipanggil.
Tentang bagaimana kita menyiapkan bekal, bukan sekadar berharap pada momen.
Kabar-kabar duka minggu ini seperti pengingat yang lembut tapi tegas. Tidak ada yang tahu giliran siapa berikutnya. Tidak ada yang tahu Ramadan mana yang menjadi yang terakhir.
Dan setiap kali saya teringat Ayahanda, hati saya selalu berdoa: semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosanya, dan mempertemukan kami kembali dalam keadaan terbaik.
Pada akhirnya, mungkin benar bahwa wafat di bulan Ramadan adalah karunia jika Allah menghendaki. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap hari di luar Ramadan pun kita sedang berjalan menuju-Nya.
Karena pada akhirnya, Ramadan bukan membuat kematian menjadi istimewa. Ramadan mengingatkan kita bahwa hidup harus dipersiapkan.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Ini Hanya Tulisan Fiktif
“Karena menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan sunyi yang dikenal langit. 👍” Kalimat itu saya temukan ketika sedang berjalan-jalan di sebuah blog milik Pak D Susanto dari Musi Rawas. Entah kenapa, ia tidak hanya terbaca, tapi menetap. Seperti kalimat yang sudah lama saya tahu, hanya saja baru kali itu ada yang menuliskannya. Dari sana, sebuah cerita fiktif, pelan-pelan ingin dituliskan.
Namanya tidak pernah viral. Tidak punya kanal YouTube. Tidak punya penghargaan bertingkat-tingkat. Tapi ia punya papan tulis yang penuh coretan mimpi.
Ia sering berjalan melewati lorong sekolah yang masih sepi. Kadang hanya suara sapu petugas kebersihan yang menemaninya. Di tangannya ada buku-buku. Di kepalanya ada rencana. Di hatinya ada doa yang tak pernah ia umumkan.
Anak-anak mengenalnya biasa saja. Kadang bahkan mengeluh karena PR-nya. Kadang tidak sadar bahwa kalimat sederhana yang ia ucapkan bisa tinggal di kepala mereka bertahun-tahun. Guru itu tidak pernah tahu mana nasihat yang akan menjadi penentu arah hidup seseorang. Ia hanya menanam. Setiap hari. Tanpa tahu pohon mana yang akan tumbuh tinggi.
Suatu hari, salah satu muridnya hampir menyerah. Nilainya jelek. Di rumah tak ada yang peduli. Dunia terasa sempit. Tapi guru itu hanya berkata pelan, “Kamu mungkin belum bisa sekarang. Tapi bukan berarti tidak bisa selamanya.” Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis. Tidak ada musik latar.
Tapi bertahun-tahun kemudian, murid itu berdiri di tempat yang tak pernah ia bayangkan. Dan dalam satu wawancara kecil yang tidak viral, ia berkata, “Dulu ada guru yang percaya pada saya, bahkan saat saya tidak percaya pada diri sendiri.”
Guru itu mungkin tidak pernah mendengar kalimat itu. Ia mungkin sudah pindah sekolah. Atau tetap di sana, menulis lagi di papan tulis yang sama. Karena menjadi guru bukan tentang tepuk tangan. Bukan tentang panggung. Bukan tentang sorotan.
Ia adalah pekerjaan yang hasilnya sering tidak terlihat hari ini. Tapi diam-diam disimpan waktu. Dan mungkin benar, jalan ini sunyi. Kadang lelah. Kadang terasa seperti berjalan sendiri.
Tapi siapa sangka, di setiap langkah sunyi itu, ada langit yang mencatatnya. Tidak semua perjuangan harus diketahui manusia. Ada yang cukup diketahui Tuhan. Dan mungkin… itulah kenapa seorang guru tetap datang ke kelas, meski dunia tidak pernah bertepuk tangan.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉
Selasa, 24 Februari 2026
Hari yang Tidak Sepi
Kemarin pagi sebenarnya biasa saja. Saya kembali ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung, niat mengajar sudah siap. Tapi perjalanan tidak selalu sejalan dengan rencana.
![]() |
| Masih AI yang sama |
Di halte Puri Beta, antreannya panjaaaaaang. Tidak biasa. Orang-orang berdiri dengan wajah setengah sabar, setengah pasrah. Busway belum juga datang. Setelah menunggu, barulah terdengar kabar: ada kecelakaan di jalan layang dekat halte Cipulir. Saya tidak tahu detailnya, tapi dalam hati semoga tidak ada korban jiwa.
Perjalanan jadi lebih lambat. Waktu terasa ikut tertahan di antara barisan orang yang menunggu.
Sampai di sekolah, suasana langsung berubah. Tidak ada waktu mengeluh. Deadline video sudah menunggu. Naskah yang kemarin saya ketik harus dijahit rapi dengan CapCut. Di sela-sela itu, saya tetap mengajar. Tetap masuk kelas. Tetap tersenyum. Lalu shooting sebentar. Edit lagi. Rapat koordinasi TKA menyusul menjelang waktu pulang.
Dan di tengah semua itu, lambung mulai berdendang.
Puasa memang menahan lapar. Tapi ternyata bukan hanya itu. Ia juga melatih kita menahan reaksi. Menahan keluhan. Menahan keinginan untuk berkata, “Aduh, capek banget.”
Ramadan tidak menghentikan pekerjaan. Tidak menghentikan macet. Tidak menghentikan deadline. Justru di situlah latihannya.
Bekerja dalam keadaan kenyang mungkin biasa.
Bekerja dalam keadaan lapar… itu latihan.
Latihan sabar saat antre panjang.
Latihan fokus saat energi menurun.
Latihan tetap profesional meski tubuh ingin rebahan.
Saya jadi sadar, puasa bagi orang yang bekerja itu bukan tentang memperlambat ritme. Tapi tentang menjaga kualitas di tengah keterbatasan. Tetap datang tepat waktu meski perjalanan terhambat. Tetap menyelesaikan tugas meski kepala mulai ringan. Tetap tersenyum di depan siswa meski perut sudah protes.
Karena mungkin nilai puasa bukan hanya pada seberapa kuat kita menahan lapar, tapi seberapa baik kita menjaga sikap saat lapar itu datang.
Menjelang berbuka, saya duduk sebentar. Nafas sudah lebih pelan. Lambung masih berdendang, tapi tidak lagi protes. Hari itu tidak berjalan mulus. Ada antrean panjang, ada kabar kecelakaan, ada deadline yang menunggu, ada rapat yang harus diikuti. Tapi semuanya tetap selesai.
Ramadan mengajarkan saya satu hal sederhana: bekerja saat lapar itu bukan soal kuat-kuatan. Ini soal menjaga niat. Bahwa yang kita lakukan tetap harus baik, meski tenaga tidak sedang penuh. Dan mungkin, justru di situ letak manisnya. Bukan pada menu berbukanya, tetapi pada rasa lega karena sudah menjalani hari dengan utuh.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉







