Kamis, 26 Februari 2026

Ini Hanya Tulisan Fiktif

 “Karena menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan sunyi yang dikenal langit. πŸ‘” Kalimat itu saya temukan ketika sedang berjalan-jalan di sebuah blog milik Pak D Susanto dari Musi Rawas. Entah kenapa, ia tidak hanya terbaca, tapi menetap. Seperti kalimat yang sudah lama saya tahu, hanya saja baru kali itu ada yang menuliskannya. Dari sana, sebuah cerita fiktif, pelan-pelan ingin dituliskan.

Konon, di sebuah sekolah kecil yang tidak pernah masuk berita, ada seorang guru yang setiap pagi datang lebih awal dari suara bel berbunyi.

Namanya tidak pernah viral. Tidak punya kanal YouTube. Tidak punya penghargaan bertingkat-tingkat. Tapi ia punya papan tulis yang penuh coretan mimpi.

Ia sering berjalan melewati lorong sekolah yang masih sepi. Kadang hanya suara sapu petugas kebersihan yang menemaninya. Di tangannya ada buku-buku. Di kepalanya ada rencana. Di hatinya ada doa yang tak pernah ia umumkan.

Anak-anak mengenalnya biasa saja. Kadang bahkan mengeluh karena PR-nya. Kadang tidak sadar bahwa kalimat sederhana yang ia ucapkan bisa tinggal di kepala mereka bertahun-tahun. Guru itu tidak pernah tahu mana nasihat yang akan menjadi penentu arah hidup seseorang. Ia hanya menanam. Setiap hari. Tanpa tahu pohon mana yang akan tumbuh tinggi.

Suatu hari, salah satu muridnya hampir menyerah. Nilainya jelek. Di rumah tak ada yang peduli. Dunia terasa sempit. Tapi guru itu hanya berkata pelan, “Kamu mungkin belum bisa sekarang. Tapi bukan berarti tidak bisa selamanya.” Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis. Tidak ada musik latar.

Tapi bertahun-tahun kemudian, murid itu berdiri di tempat yang tak pernah ia bayangkan. Dan dalam satu wawancara kecil yang tidak viral, ia berkata, “Dulu ada guru yang percaya pada saya, bahkan saat saya tidak percaya pada diri sendiri.”

Guru itu mungkin tidak pernah mendengar kalimat itu. Ia mungkin sudah pindah sekolah. Atau tetap di sana, menulis lagi di papan tulis yang sama. Karena menjadi guru bukan tentang tepuk tangan. Bukan tentang panggung. Bukan tentang sorotan.

Ia adalah pekerjaan yang hasilnya sering tidak terlihat hari ini. Tapi diam-diam disimpan waktu. Dan mungkin benar, jalan ini sunyi. Kadang lelah. Kadang terasa seperti berjalan sendiri.

Tapi siapa sangka, di setiap langkah sunyi itu, ada langit yang mencatatnya. Tidak semua perjuangan harus diketahui manusia. Ada yang cukup diketahui Tuhan. Dan mungkin… itulah kenapa seorang guru tetap datang ke kelas, meski dunia tidak pernah bertepuk tangan.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow πŸ˜‰

0 Comments:

Posting Komentar