Kemarin pagi sebenarnya biasa saja. Saya kembali ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung, niat mengajar sudah siap. Tapi perjalanan tidak selalu sejalan dengan rencana.
![]() |
| Masih AI yang sama |
Di halte Puri Beta, antreannya panjaaaaaang. Tidak biasa. Orang-orang berdiri dengan wajah setengah sabar, setengah pasrah. Busway belum juga datang. Setelah menunggu, barulah terdengar kabar: ada kecelakaan di jalan layang dekat halte Cipulir. Saya tidak tahu detailnya, tapi dalam hati semoga tidak ada korban jiwa.
Perjalanan jadi lebih lambat. Waktu terasa ikut tertahan di antara barisan orang yang menunggu.
Sampai di sekolah, suasana langsung berubah. Tidak ada waktu mengeluh. Deadline video sudah menunggu. Naskah yang kemarin saya ketik harus dijahit rapi dengan CapCut. Di sela-sela itu, saya tetap mengajar. Tetap masuk kelas. Tetap tersenyum. Lalu shooting sebentar. Edit lagi. Rapat koordinasi TKA menyusul menjelang waktu pulang.
Dan di tengah semua itu, lambung mulai berdendang.
Puasa memang menahan lapar. Tapi ternyata bukan hanya itu. Ia juga melatih kita menahan reaksi. Menahan keluhan. Menahan keinginan untuk berkata, “Aduh, capek banget.”
Ramadan tidak menghentikan pekerjaan. Tidak menghentikan macet. Tidak menghentikan deadline. Justru di situlah latihannya.
Bekerja dalam keadaan kenyang mungkin biasa.
Bekerja dalam keadaan lapar… itu latihan.
Latihan sabar saat antre panjang.
Latihan fokus saat energi menurun.
Latihan tetap profesional meski tubuh ingin rebahan.
Saya jadi sadar, puasa bagi orang yang bekerja itu bukan tentang memperlambat ritme. Tapi tentang menjaga kualitas di tengah keterbatasan. Tetap datang tepat waktu meski perjalanan terhambat. Tetap menyelesaikan tugas meski kepala mulai ringan. Tetap tersenyum di depan siswa meski perut sudah protes.
Karena mungkin nilai puasa bukan hanya pada seberapa kuat kita menahan lapar, tapi seberapa baik kita menjaga sikap saat lapar itu datang.
Menjelang berbuka, saya duduk sebentar. Nafas sudah lebih pelan. Lambung masih berdendang, tapi tidak lagi protes. Hari itu tidak berjalan mulus. Ada antrean panjang, ada kabar kecelakaan, ada deadline yang menunggu, ada rapat yang harus diikuti. Tapi semuanya tetap selesai.
Ramadan mengajarkan saya satu hal sederhana: bekerja saat lapar itu bukan soal kuat-kuatan. Ini soal menjaga niat. Bahwa yang kita lakukan tetap harus baik, meski tenaga tidak sedang penuh. Dan mungkin, justru di situ letak manisnya. Bukan pada menu berbukanya, tetapi pada rasa lega karena sudah menjalani hari dengan utuh.
#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai
see you tomorrow 😉






0 Comments:
Posting Komentar