Kamis, 26 Februari 2026

Di Antara Takjil dan Takdir

Setiap Ramadan, ada satu momen yang selalu dinanti: waktu berbuka.

Anak-anak menghitung menit. Orang dewasa melirik jam. Di pinggir jalan, penjual takjil berjejer. Kolak, es buah, gorengan, kurma, semuanya seperti punya magnet tersendiri. Kita memilih dengan antusias, seakan-akan berbuka adalah perayaan kecil setelah seharian menahan diri.

Ramadan sering terasa seperti itu—hangat, manis, penuh kebersamaan.



Namun minggu ini, di antara aroma kolak dan suara azan magrib, kabar duka datang silih berganti. Minggu ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabar duka datang silih berganti. Ibunda kepala sekolah berpulang. Teman sekolah saya waktu SD lebih dulu dipanggil. Ayahanda rekan operator juga kembali kepada-Nya. Dan mungkin, setiap hari ada hati yang berduka, meski dunia tetap berjalan seperti biasa.

Ramadan yang biasanya identik dengan cahaya, tarawih, dan lantunan Al-Qur’an, mendadak terasa lebih hening.

Dan sebenarnya, kehilangan bukanlah pengalaman baru bagi saya. Lima tahun lalu, Ayahanda saya telah lebih dahulu berpulang. Waktu memang berjalan. Aktivitas kembali seperti biasa. Tetapi rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah menjadi doa yang lebih sering dipanjatkan, terutama setiap Ramadan datang.

Lalu muncul pertanyaan yang sering kita dengar: benarkah meninggal di bulan Ramadan memiliki keutamaan?

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”

(HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)

Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan besarnya kemuliaan bulan Ramadan. Bulan penuh ampunan dan rahmat. Namun, apakah otomatis seseorang yang wafat di bulan ini pasti mendapatkan keutamaan khusus?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله pernah ditanya tentang orang yang meninggal di bulan Ramadan. Beliau menjawab bahwa wafat di bulan Ramadan adalah tanda kebaikan jika disertai dengan amal saleh, namun yang menjadi ukuran utama tetaplah keadaan akhir kehidupannya (husnul khatimah), bukan semata-mata waktunya.

(Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 13/180)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada penutupnya.”

(HR. Bukhari no. 6607)

Artinya, yang paling menentukan bukan di bulan apa seseorang meninggal, melainkan bagaimana ia hidup dan dalam keadaan apa ia menghadap Allah.

Ramadan memang bulan yang istimewa. Di dalamnya ada ampunan, ada pelipatgandaan pahala, ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka siapa pun yang wafat dalam keadaan beriman, dalam suasana penuh ibadah dan kebaikan, tentu itu adalah harapan yang indah.

Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa Ramadan bukan sekadar tentang bagaimana kita meninggal. Ramadan lebih banyak berbicara tentang bagaimana kita hidup.

Tentang bagaimana kita memperbaiki diri selagi masih diberi waktu.

Tentang bagaimana kita memohon ampun sebelum benar-benar dipanggil.

Tentang bagaimana kita menyiapkan bekal, bukan sekadar berharap pada momen.

Kabar-kabar duka minggu ini seperti pengingat yang lembut tapi tegas. Tidak ada yang tahu giliran siapa berikutnya. Tidak ada yang tahu Ramadan mana yang menjadi yang terakhir.

Dan setiap kali saya teringat Ayahanda, hati saya selalu berdoa: semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosanya, dan mempertemukan kami kembali dalam keadaan terbaik.

Pada akhirnya, mungkin benar bahwa wafat di bulan Ramadan adalah karunia jika Allah menghendaki. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap hari di luar Ramadan pun kita sedang berjalan menuju-Nya.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan membuat kematian menjadi istimewa. Ramadan mengingatkan kita bahwa hidup harus dipersiapkan.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉


0 Comments:

Posting Komentar