Jumat, 13 Maret 2026

NgeGAS di Ramadhan

Bulan Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda. Udara terasa lebih sejuk, masjid menjadi lebih ramai, dan hati kita seakan diajak untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Namun bagi anak-anak sekolah dasar, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ramadhan adalah kesempatan emas untuk melatih diri menjadi anak yang lebih hebat.

Caranya sederhana: GAS!

Bukan gas kendaraan, tetapi GAS: Gigih belajar, Aktif berbuat baik, dan Semangat ibadah.

Pertama, Gigih belajar.
Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Justru di bulan Ramadhan kita dilatih untuk menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah. Walaupun tubuh terasa sedikit lelah, kita tetap berusaha memperhatikan guru di kelas, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan berani bertanya ketika tidak memahami pelajaran. Anak hebat bukan selalu yang paling pintar, tetapi yang tidak pernah berhenti berusaha untuk belajar.

Kedua, Aktif berbuat baik.
Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan. Setiap perbuatan baik akan bernilai pahala di sisi Allah. Kebaikan itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana: membantu orang tua di rumah, berbagi makanan ketika berbuka, berkata sopan kepada teman, serta tidak mengejek atau menyakiti orang lain. Ketika anak-anak terbiasa berbuat baik, mereka tidak hanya menjadi pribadi yang disukai banyak orang, tetapi juga menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi sekitarnya.

Ketiga, Semangat ibadah.
Di bulan Ramadhan, pahala ibadah dilipatgandakan. Karena itu, jangan sampai kita melewatkan kesempatan ini. Biasakan diri untuk menjaga sholat lima waktu, mengikuti sholat tarawih, dan membaca Al-Qur’an setiap hari walaupun hanya beberapa ayat. Semangat ibadah akan membuat hati menjadi lebih tenang dan menjadikan kita pribadi yang lebih dekat dengan Allah.

Ramadhan hanya datang satu bulan dalam satu tahun. Setelah bulan ini berlalu, kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan lagi. Oleh karena itu, jangan sampai Ramadhan kita terlewati tanpa perubahan.

Mari kita isi hari-hari Ramadhan dengan menjadi anak yang GAS: Gigih belajar, Aktif berbuat baik, dan Semangat ibadah. Jika tiga hal ini kita lakukan setiap hari, insyaAllah kita akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan membanggakan orang tua serta guru.

Karena pada akhirnya, anak hebat di bulan Ramadhan bukanlah anak yang hanya mampu menahan lapar dan haus, tetapi anak yang mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai

see you tomorrow 😉


Selasa, 10 Maret 2026

Bukber

Kadang yang mempertemukan kita bukan janji temu, tetapi adzan maghrib di bulan Ramadan. Ramadan selalu punya cara sederhana untuk mempertemukan orang-orang yang mungkin lama tidak duduk di meja yang sama.

Pada bulan Ramadan, buka puasa bersama hampir seperti tradisi yang selalu dinanti. Bukan hanya berbuka di rumah bersama keluarga inti, tetapi juga berbuka bersama kerabat, sahabat, rekan kerja, bahkan jamaah di masjid. Meja makan menjadi lebih panjang, kursi bertambah, dan suasana terasa lebih hangat. Buka puasa tidak lagi sekadar tentang makanan setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang pertemuan, cerita, dan tawa yang kembali dipertemukan oleh Ramadan.


Beberapa hari ini saya hampir selalu berbuka bersama. Dimulai pada minggu pertama Ramadan, kami sekeluarga berbuka di rumah Jidah. Di sana berkumpul kakek, Jidah, Amu, Aunty, Om, dan tentu saja keponakan kecil yang selalu berhasil mencairkan suasana dengan tingkah lucunya. Sederhana saja sebenarnya—menunggu adzan, menyantap hidangan, lalu berbincang santai. Namun justru dalam kesederhanaan itulah terasa hangatnya keluarga.

Pada Jumat kedua Ramadan, giliran seorang rekan sejawat di sekolah yang mengundang seluruh warga sekolah untuk berbuka puasa di rumahnya. Beliau bercerita bahwa undangan itu bukan sekadar acara biasa, melainkan bentuk syukur. Ada nazar yang ingin ia tunaikan setelah ibundanya diberikan kesembuhan. Di meja makan itu, bukan hanya hidangan yang disajikan, tetapi juga rasa syukur yang dibagikan kepada banyak orang.

Kami juga menyempatkan diri berbuka bersama Mbah Uti pada minggu kedua Ramadan. Saat itu Mbah Uti hanya sendiri di rumah, karena sebagian keluarga sedang menghadiri acara buka puasa di tempat lain. Tapi justru di situlah maknanya terasa. Setidaknya, malam itu beliau tidak berbuka sendirian. Ada kami yang datang, duduk bersama, dan menghidupkan rumah yang tadinya sunyi.

Terakhir, keluarga besar dari pihak istri mengadakan buka puasa bersama. Keluarganya memang besar sekali. Hidangan yang disajikan berlimpah, berbagai macam makanan terhidang sampai kadang membuat bingung harus mengambil yang mana dulu. Tapi di balik ramainya meja makan itu, yang paling terasa sebenarnya bukan banyaknya makanan, melainkan ramainya kebersamaan.

Ramadan kini mulai memasuki sepuluh hari terakhir. Namun keberkahannya seakan belum berhenti dibagikan. Setiap adzan maghrib masih membawa kesempatan baru—kesempatan untuk berkumpul, menyambung cerita, dan kembali membuka pintu silaturahmi yang mungkin sempat lama tertutup.

Bisa jadi masih ada undangan buka puasa berikutnya. Masih ada meja makan yang kembali dipenuhi tawa. Masih ada pertemuan-pertemuan kecil yang tanpa kita sadari menjadi jawaban dari doa-doa yang pernah dipanjatkan.

Semoga yang disemogakan benar-benar tersemogakan. Dipertemukan dengan kebersamaan, dilapangkan rezekinya, dan dihangatkan hatinya oleh keberkahan Ramadan yang terus mengalir hingga penghujung bulan.

Dari beberapa pertemuan itu saya mulai menyadari satu hal: buka puasa bersama ternyata bukan sekadar agenda makan setelah adzan maghrib. Ia adalah ruang untuk mempererat silaturahmi, berbagi rezeki, dan menguatkan kembali hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan.

Ramadan seakan memberi alasan yang indah bagi kita untuk kembali duduk bersama, saling menyapa, dan saling mengingatkan bahwa dalam perjalanan hidup ini, kita tidak pernah benar-benar sendiri.

Karena pada akhirnya, berbuka puasa bukan hanya tentang mengakhiri lapar. Ia tentang membuka hati.

Agar yang jauh kembali dekat.
Yang lama tetap hangat.
Dan yang sempat merasa sendiri, kembali menemukan kebersamaan.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai

see you tomorrow 😉



Kamis, 05 Maret 2026

Half Time

Setengah Jalan, Jangan Setengah Hati

Ramadan Bukan Sekadar Memulai, Tapi Menyelesaikan

Karena yang menentukan bukan babak pertama, tapi bagaimana kita menutup pertandingan.

Hari ini, Ramadan sudah memasuki malam ke-16. Tidak terasa, setengah perjalanan sudah kita lewati. Rasanya baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh semangat, menyusun target, membuat daftar amalan, berjanji ingin lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sudah banyak yang kita lakukan. Salat lima waktu lebih dijaga di awal waktu. Tadarus Al-Qur’an lebih sering terdengar dari bibir yang biasanya sibuk dengan urusan dunia. Sahur dan berbuka menjadi momen yang lebih bermakna. Malam-malam kita lebih hidup dengan tarawih dan witir. Siraman rohani lebih sering kita dengar, entah dari masjid, kajian, atau potongan video yang tiba-tiba terasa “kena”.

Lalu sekarang pertanyaannya bukan lagi, “Sudah apa yang kita lakukan?”

Tapi…

“Apa yang harus kita siapkan untuk setengah perjalanan berikutnya?”

Karena sering kali, tantangan terbesar bukan di awal. Tantangan terbesar ada di tengah. Di titik ketika semangat mulai biasa saja. Di saat tubuh mulai lelah. Di waktu target mulai terasa berat.

Setengah Ramadan yang tersisa bukan soal menambah daftar amalan, tapi menjaga api yang sudah menyala. Jangan sampai yang di awal membara, di akhir hanya jadi bara.

Mungkin yang perlu kita siapkan bukan hanya fisik, tapi niat yang diperbarui. Bukan hanya jadwal ibadah, tapi hati yang lebih hadir. Bukan hanya banyaknya bacaan, tapi dalamnya perenungan.

Karena separuh terakhir Ramadan adalah fase naik kelas. Di situlah ada malam-malam terbaik. Di situlah ada peluang yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Kalau separuh pertama tentang membangun kebiasaan, maka separuh kedua tentang menguatkan kesungguhan. Jangan sampai kita kuat di start, tapi melambat di finish. Jangan sampai kita ramai di awal, tapi sunyi di akhir.

Ramadan tidak butuh kita yang sempurna. Ia hanya butuh kita yang konsisten. Dan mungkin… malam ke-16 ini bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah pengingat halus bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, walaupun saya yakin jika kesempatan itu pasti datang kembali, namun entah kapan dan momen yang berbeda.

Masih ada setengah jalan. Masih ada ruang untuk memperbaiki. Masih ada waktu untuk lebih sungguh-sungguh. Karena bisa jadi… yang menentukan bukan bagaimana kita memulai Ramadan, tapi bagaimana kita mengakhirinya. 🔥🌙


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉


Sahur on the Road


Masih teringat suasana malam menjelang sahur. Malam itu Karang Taruna RW 08 Ciledug Indah bersama Remaja Masjid Daarussalam menginisiasi kegiatan sahur on the road. Puluhan remaja putra dan putri berkumpul di kantor RW untuk bersama-sama konvoi menuju Rumah Yatim Nurul Imaan di Petukangan, Jakarta Selatan.

Puluhan motor dan dua mobil berjalan beriringan. Jalanan lengang, karena waktu masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya, namun semangat anak-anak muda itu justru hangat. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, tetapi rasanya seperti perjalanan menuju sesuatu yang lebih dari sekadar berbagi makanan.

Sesampainya di lokasi, paket sahur berupa nasi box diturunkan untuk dinikmati bersama saudara-saudara yatim di sana. Kegiatan diawali dengan sambutan dari ketua karang taruna, ketua remaja masjid, dan pimpinan rumah yatim. Lalu suasana berubah menjadi lebih akrab. Duduk melingkar, menyantap sahur bersama, berbagi cerita sederhana, hingga akhirnya ditutup dengan salat Subuh berjamaah.

Di tengah udara dini hari yang masih sejuk itu, kebersamaan terasa berbeda. Ini bukan sekadar konvoi atau dokumentasi kegiatan, tetapi latihan kepedulian. Para remaja belajar bangun lebih awal bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menghadirkan kebahagiaan kecil bagi orang lain. Mereka belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang memahami rasa lapar yang mungkin setiap hari dirasakan sebagian orang.

Bagi adik-adik di rumah yatim, kehadiran rombongan sahur itu bukan hanya soal makanan. Ada rasa diperhatikan. Ada kebahagiaan karena sahur yang biasanya sunyi menjadi lebih hidup. Tawa kecil, doa bersama, dan kebersamaan sederhana itu menciptakan hangat yang sulit dijelaskan.

Namun mungkin yang paling bermakna justru terasa saat perjalanan pulang. Jalanan masih sepi, langit mulai berubah warna, dan hati terasa lebih lapang. Kita datang membawa makanan, tetapi pulang membawa kesadaran. Kesadaran bahwa berbagi tidak pernah membuat kita berkurang. Justru di situlah kita sering kali merasa lebih cukup.

Barangkali memang begitu hakikat sahur on the road. Bukan tentang ramainya iring-iringan kendaraan, tetapi tentang ramainya hati yang tergerak. Bukan tentang sejauh apa perjalanan ditempuh, tetapi tentang sejauh mana kepedulian tumbuh.

Karena pada akhirnya, sahur bukan hanya tentang mengisi perut sebelum fajar. Ia tentang mengisi hati sebelum cahaya datang. Dan mungkin, di antara gelapnya dini hari dan cahaya Subuh yang perlahan menyingsing, kita sedang belajar satu hal sederhana: kebaikan yang dilakukan dalam sunyi sering kali meninggalkan cahaya yang paling lama tinggal di hati.


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Rabu, 04 Maret 2026

Ngabuburead

Menjelang magrib, waktu sering terasa menggantung. Tidak cukup panjang untuk memulai sesuatu yang serius, tapi terlalu sayang kalau hanya dihabiskan dengan menunggu sambil melihat jam. Dari situlah saya terpikir satu istilah sederhana: ngabuburead.


Kalau ngabuburit biasanya diisi dengan jalan-jalan atau berburu takjil, kali ini saya ingin mencobanya dengan membaca. Tidak perlu lama. Tidak harus buku yang berat. Beberapa halaman saja. Satu artikel ringan. Atau beberapa ayat yang dibaca perlahan.

Aneh tapi terasa berbeda. Saat perut mulai kosong, suasana justru lebih tenang. Tidak banyak distraksi. Pikiran seperti lebih siap menerima. Waktu yang biasanya terasa lambat, tiba-tiba menjadi bermakna.

Ngabuburead bukan tentang menjadi rajin mendadak. Bukan juga tentang mengejar target bacaan. Ia hanya cara sederhana agar waktu menunggu tidak kosong. Agar sore hari tidak hanya berlalu, tetapi juga menambah isi.
Karena mungkin, di antara rasa lapar dan detik-detik menuju azan, ada ruang kecil yang bisa kita isi dengan ilmu. Dan siapa tahu, dari kebiasaan kecil itu, lahir kecintaan baru pada membaca.

Kalau menunggu magrib saja bisa kita isi dengan bacaan, mungkin pelan-pelan kita akan sadar: membaca tidak butuh waktu luang yang panjang. Ia hanya butuh kemauan untuk memulai.

Dan barangkali, suatu hari nanti, kita tidak lagi sekadar menunggu waktu berbuka—tetapi menunggu halaman berikutnya untuk dibuka.

Jadi, siap berapa buku yang akan diajak ngabuburead?

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉

Yang Kamu Keluhkan, Bisa Jadi Cara Allah Menaikkanmu

Pagi ini saya membaca pesan di grup WA Guru Penggerak. Pak Yayan yang mempostingnya. “Yang lagi diuji, yakinlah itu bentuk cinta Allah SWT.” Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Sederhana. Singkat. Tapi di balik pesan itu ada cuplikan video yang entah kenapa menggetarkan hati saya: “Belajarlah mencintai ujianmu, karena yang mengujimu sedang mencintaimu.” Dari kalimat itulah saya mendapatkan ide untuk materi EDAN hari ini.

Awalnya saya terdiam. Karena jujur saja, siapa yang benar-benar suka diuji? Saat keadaan tidak sesuai rencana, saat usaha belum berbuah hasil, saat hati terasa lelah—rasanya sulit sekali menyebut itu sebagai cinta.

Lalu saya teringat: bukankah kita sedang berada di bulan ujian?

Puasa itu ujian yang kita jalani dengan sadar. Kita tahu akan lapar, akan haus, akan lelah. Kita tahu bangun sahur itu berat. Kita tahu menahan emosi itu tidak mudah. Tapi tetap kita jalani. Mengapa? Karena kita percaya ada nilai di baliknya. Ada pahala. Ada kedekatan dengan Allah. Ada pembentukan diri yang tidak selalu terlihat.

Jika lapar saja bisa kita terima sebagai bagian dari ibadah, mengapa ujian hidup sering kita tolak mentah-mentah?

Seorang guru memberi ujian untuk melihat kesiapan muridnya naik kelas. Ramadan pun seperti itu. Ia menguji kesabaran, menguji konsistensi, menguji keikhlasan. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. Bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk membersihkan.

Belajar mencintai ujian mungkin tidak berarti menikmati rasa laparnya. Tetapi menerima bahwa setiap rasa tidak nyaman itu sedang membentuk versi diri yang lebih baik. Bahwa setiap godaan yang berhasil ditahan adalah kemenangan kecil yang dicatat.

Dan mungkin benar, jika puasa adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya, maka ujian hidup pun demikian. Ia datang bukan untuk merusak, tetapi untuk merapikan. Bukan untuk menjauhkan, tetapi untuk mendekatkan.

Karena cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan. Kadang ia hadir dalam bentuk Ramadan—yang melatih kita bertahan, agar setelahnya kita naik kelas sebagai pribadi yang lebih matang.

Dan pertanyaannya sederhana:
kalau Ramadan saja kita jalani dengan sabar karena yakin ada pahala di ujungnya, mengapa ujian di luar Ramadan sering kita hadapi dengan prasangka?

Barangkali bukan ujiannya yang harus kita benci, tetapi versi lama diri kita yang harus kita tinggalkan.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Selasa, 03 Maret 2026

Tidak Semua Ibadah Itu Rebahan

Waktu kecil, saya pernah punya pengalaman yang menurut saya cerdas sekali—setidaknya menurut versi saya saat itu. Seusai tarawih, seorang ustaz berkata dalam ceramahnya, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Kalimat itu seperti menemukan tempat yang pas di kepala anak kecil yang sedang belajar menahan lapar. Besoknya, saya tidur hampir sepanjang hari. Dalam pikiran saya, ini strategi ibadah yang sangat efektif.

Sampai akhirnya suara bapak terdengar cukup keras. Zuhur terlewat. Asar hampir saja menyusul kalau tidak dibangunkan dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Hari itu saya belajar satu hal: ternyata tidak semua kalimat bisa dipahami sepotong-sepotong.

Kalimat “tidurnya orang puasa itu berpahala” memang sering kita dengar. Namun sebenarnya, yang membuatnya bernilai bukanlah tidurnya. Tidur tetaplah tidur. Tubuh memang butuh istirahat. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah keadaan kita saat itu—kita sedang berpuasa. Sejak subuh kita menahan diri. Menahan makan, minum, emosi, dan keinginan. Bahkan ketika kita terlelap, kita masih berada dalam bingkai ibadah itu.

Tidur bukan tujuan puasa. Ia hanya bagian kecil dari perjalanan. Jika diniatkan untuk menjaga tenaga agar tetap kuat beribadah, maka ia menjadi bagian dari kebaikan. Tetapi jika dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan meninggalkan kewajiban, tentu ruh puasanya berkurang.

Mungkin yang lebih tepat bukan “tidurnya berpahala”, melainkan “keadaan puasanya yang bernilai.” Dan dari omelan bapak waktu itu, saya paham bahwa puasa bukan tentang mencari cara paling nyaman, tetapi tentang menjaga kesadaran—bahkan saat kantuk datang.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Semangat Sahur, Kenapa Kendur?


Puasa sudah masuk hari ke-14. Mungkin karena sudah dewasa, puasa tidak lagi terasa seperti dulu waktu kecil. Dulu, setiap sahur seperti petualangan. Bangun tengah malam terasa seru. Sekarang? Alarm berbunyi saja sudah seperti ujian kesabaran.


Dan bukan hanya saya. Anak-anak yang di awal Ramadan begitu bersemangat—bahkan sampai membuat daftar menu sahur sendiri—perlahan mulai kehilangan ritme itu. Sayur bayam, kangkung, sawi putih, sop, capcay pernah tersaji bergantian. Opor ayam, telur dadar, rendang, ayam goreng pun sudah menjadi teman sahur. Buah-buahan berwarna-warni melengkapi meja makan: melon, semangka, jeruk, buah naga, jambu kristal, alpukat.

Semua terasa lengkap.

Namun malam ke-14, rasanya berbeda. Berat sekali membuka mata. Berat membangunkan anak-anak. Meja makan tetap ada. Menu tetap bisa disiapkan. Tetapi semangatnya tidak sekuat hari pertama.

Kenapa ya?

Mungkin karena tubuh mulai beradaptasi. Ritme tidur berubah. Energi terkuras aktivitas harian. Secara fisik, wajar jika rasa lelah datang di pertengahan Ramadan. Secara psikologis, semangat awal memang sering memuncak di hari-hari pertama, lalu perlahan menurun ketika rutinitas mulai terasa biasa.

Namun bisa juga karena ada yang mulai lalai kita jaga: niat.

Di awal Ramadan, semuanya terasa baru. Ada target. Ada harapan. Ada janji dalam hati. Tapi ketika hari berjalan, ibadah bisa berubah menjadi kebiasaan. Sahur bukan lagi momen syukur, tapi sekadar kewajiban yang terasa berat.

Padahal justru di pertengahan inilah ketulusan diuji.

Awal Ramadan itu seperti sprint—penuh tenaga. Akhir Ramadan adalah harapan—mengejar malam terbaik. Tetapi pertengahan Ramadan adalah konsistensi.

Di sinilah kita belajar bahwa ibadah bukan tentang ledakan semangat, melainkan tentang menjaga nyala kecil agar tetap hidup.

Kalau malas sahur, mungkin bukan hanya tubuh yang lelah, tapi hati yang butuh diingatkan. Solusinya sederhana, meski tidak selalu mudah: perbaiki pola tidur, kurangi begadang yang tidak perlu, niatkan sahur bukan sekadar makan, tetapi sebagai bagian dari sunnah dan sumber keberkahan. Bangunkan anak-anak bukan dengan perintah, tetapi dengan ajakan hangat. Jadikan meja sahur bukan hanya tempat makan, tetapi tempat berkumpul yang penuh cerita.

Karena sahur bukan sekadar mengisi perut. Ia mengisi niat.

Ramadan masih berjalan. Empat belas hari bukan akhir. Justru ini momentum untuk menata ulang ritme. Jika di awal kita berlari, di pertengahan kita belajar bertahan. Dan yang bertahan dengan konsisten, sering kali sampai pada akhir dengan lebih matang.

Barangkali bukan semangat yang harus dibesarkan, tetapi kesadaran yang harus diperbarui.

Masih ada waktu. Masih ada malam. Masih ada kesempatan untuk bangun sebelum fajar—bukan hanya untuk makan, tetapi untuk menguatkan hati.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Minggu, 01 Maret 2026

Yang bekerja diam-diam

Kemarin, saat saya membaca beberapa artikel dan menonton sebuah podcast. Ada tiga kata yang menurut saya menarik untuk dituliskan menjadi satu cerita EDAN kali ini. Ketiga. Kata tersebut adalah Kabisat, Hipotalamus dan Rahmah.

Apa menariknya ketiga kata tersebut, ternyata setelah saya cari referensi lebih mendalam, ketiga kata tersebut memiliki fungsi yang mirip.

Saya analogikan ya. Februari 2026 hanya ada 28 hari, tidak ada tanggal 29. Sekilas, semuanya terasa biasa saja. Hari-hari tetap berjalan. Kalender tetap berganti. Tidak ada yang tampak kurang. Padahal, sesekali waktu perlu “dirapikan” oleh sesuatu yang jarang kita perhatikan.

Setiap tahunnya perjalanan bumi tidak benar-benar pas 365 hari. Ada selisih kecil yang terus terkumpul setiap tahun. Karena itu, empat tahun sekali, Februari diberi tambahan satu hari. Kita menyebutnya tahun kabisat. 

Tahun ini bukan tahun kabisat, namun penanggalan sedang melakukan penyeimbangan. Kabisat tidak selalu hadir. Ia tidak selalu dibicarakan. Namun tanpanya, hitungan waktu perlahan bisa melenceng.

Melenceng! Maksudnya!

Mari saya analogikan perlahan. Perjalanan bumi mengelilingi matahari tidak tepat 365 hari. Ada sisa hampir enam jam setiap tahunnya. Kecil, tetapi terus terkumpul. Empat tahun berjalan, ia menjadi satu hari penuh. Jika tidak ditambahkan, kalender perlahan akan bergeser dari perjalanan bumi yang sebenarnya.

Saya membayangkannya seperti jam yang setiap hari terlambat beberapa menit. Awalnya tak terasa. Namun jika tak pernah disesuaikan, lama-lama ia tak lagi menunjukkan waktu yang tepat. Tahun kabisat hadir seperti koreksi kecil—bukan untuk menambah waktu, tetapi untuk menjaga agar tetap selaras. Kabisat bekerja diam-diam.

Dari sana pikiran saya beralih pada tubuh manusia.

Jika kalender memiliki penyeimbangnya sendiri, mungkin tubuh pun demikian. Dalam sebuah obrolan Raditya Dika dan dr. Aisyah Dahlan tentang hipotalamus, saya memahami bahwa ada bagian kecil di otak yang tugasnya menjaga keseimbangan tubuh.

Hipotalamus ukurannya kecil, tetapi perannya besar. Ia mengatur suhu tubuh, rasa lapar, rasa haus. Ia seperti pengatur suhu otomatis di sebuah ruangan—ketika terlalu panas ia mendinginkan, ketika terlalu dingin ia menghangatkan kembali. Kita tidak pernah melihatnya bergerak, tetapi kita merasakan hasilnya: tubuh tetap nyaman.

Selama ia bekerja dengan baik, semuanya terasa wajar. Namun ketika ia terganggu, keseimbangan mudah goyah. Hipotalamus pun bekerja diam-diam.

Dan Ramadan tahun ini membuat saya menyadari satu hal lain.

Sepuluh hari pertama sering disebut sebagai fase rahmah. Mungkin bukan sekadar pembagian waktu, melainkan pengingat bahwa hati juga membutuhkan penyeimbang.

Rahmah tidak selalu datang dengan perubahan besar. Tidak selalu terasa luar biasa. Namun ia menenangkan ketika emosi meninggi. Ia melembutkan ketika ego mengeras. Ia mengingatkan ketika langkah mulai menjauh dari arah semula. Rahmah juga bekerja diam-diam.

Mungkin memang yang paling menentukan dalam hidup bukanlah yang paling terlihat. Kabisat hanya datang sesekali, tetapi tanpanya hitungan waktu bisa bergeser. Hipotalamus tersembunyi di bagian kecil otak, namun darinya tubuh tetap seimbang. Rahmah pun begitu. Ia tidak selalu terasa besar, tidak selalu dramatis, tetapi perlahan menenangkan yang bergejolak dan merapikan yang berlebihan.

Barangkali hidup memang dijaga oleh hal-hal yang bekerja diam-diam. Bukan yang ramai, bukan yang disorot, tetapi yang setia menjaga keseimbangan. Dan mungkin tugas kita bukan mencari yang besar-besar, melainkan belajar peka pada koreksi kecil yang Tuhan titipkan—agar waktu, tubuh, dan hati tetap selaras.

#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Sabtu, 28 Februari 2026

Di tengah puasa, Kita bertumbuh

Ramadan selalu mengajarkan satu hal yang tidak tertulis di buku pelajaran: ketahanan.

Bukan hanya ketahanan menahan lapar dan haus. Tetapi ketahanan menjaga fokus, menjaga niat, dan menjaga arah ketika tubuh sedang tidak dalam kondisi paling kuat.


Tanggal 23–27 Februari 2026, siswa-siswi kelas 6 SDN Cipulir 05 melaksanakan TKA (Tes Kemampuan Akademik). Di tengah puasa Ramadan, mereka duduk di depan layar komputer, jemari bersiap di atas papan ketik dan mouse, berusaha mengerahkan pikiran terbaiknya. Konsentrasi diuji. Energi diuji. Mental diuji.

Namun tantangan mereka tidak berhenti di situ. Di sela-sela TKA, ada ujian praktik Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang juga harus diselesaikan. Artinya, mereka bukan hanya belajar memahami soal, tetapi juga belajar mengatur prioritas. Mana yang harus disiapkan lebih dulu. Mana yang tidak boleh terlewat. Mana yang harus tetap dijalani dengan tenang meski rasa lelah mulai terasa.

Di usia mereka yang masih belia, ini bukan hal sederhana. Mereka sedang belajar tentang disiplin. Tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana tetap fokus ketika keadaan tidak sepenuhnya nyaman. Dan mungkin, inilah pelajaran Ramadan yang sesungguhnya.

Bapak dan Ibu guru pun menjalani Ramadan dengan versi ujiannya masing-masing. Ramadan memang bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Di balik tenangnya siang hari, pekerjaan datang dengan kekuatan penuh. Laporan keuangan harus diselesaikan. Laporan barang harus dirapikan. Persiapan TKA harus dipastikan matang. Pembelajaran di kelas tetap berjalan. Administrasi tetap menunggu untuk dituntaskan.
Aktivitas tidak berkurang. Justru sering terasa berlipat.

Namun di situlah maknanya. Ramadan tidak menghentikan tanggung jawab. Ramadan justru mengajarkan bagaimana menjalankannya dengan kesadaran yang lebih dalam. Dengan hati yang lebih tertata. Dengan niat yang lebih jernih.

Siswa-siswi belajar mengelola fokus di tengah keterbatasan energi.
Guru-guru belajar menjaga profesionalitas di tengah tuntutan yang tidak sedikit.
Semua sedang diuji.
Semua sedang ditempa.
Semua sedang bertumbuh.

Kelak, hasil TKA itu mungkin akan tertera dalam bentuk kategori-kategori penilaian—ada yang berada di tingkat sangat memuaskan, ada yang baik, ada pula yang cukup. Namun di balik label-label itu, ada proses panjang yang tidak tertulis: perjuangan menahan kantuk, menjaga konsentrasi, dan tetap berusaha memberikan yang terbaik meski kondisi tidak sepenuhnya ideal.

Dan itulah yang patut diapresiasi. Karena keberhasilan bukan hanya tentang apa yang muncul di layar komputer setelah ujian selesai. Ia juga tentang karakter yang sedang dibangun perlahan—tentang ketekunan yang ditempa, tentang tanggung jawab yang dipelajari, tentang daya juang yang tumbuh diam-diam.
Mari kita dukung mereka.
Mari kita kuatkan mereka dengan doa dan apresiasi.

Karena di tengah puasa ini, mereka tidak hanya sedang mengikuti tes kemampuan akademik. Mereka juga sedang belajar menjadi pribadi yang tangguh. Dan mungkin, di balik kesibukan Ramadan tahun ini, Allah sedang menumbuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil ujian.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉

Setup Panjang Menuju Punchline

Hidup jarang memberi kita punchline secara tiba-tiba. Ia lebih sering memberi kita setup yang panjang, yang baru kita pahami di akhir.
Dalam dunia komedi, ada dua hal penting: setup dan punchline.


Setup adalah pengantar. Ia membangun suasana, mengarahkan pikiran, menyiapkan hati. Ia tidak meledak-ledak, tetapi ia menentukan arah. Tanpa setup yang matang, punchline tidak akan terasa.

Punchline adalah puncaknya. Satu kalimat yang membuat semuanya masuk akal. Yang membuat orang tersenyum, tertawa, atau justru terdiam.
Tanpa setup, punchline kehilangan makna. Tanpa punchline, setup hanya menjadi cerita yang menggantung.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, hidup bekerja dengan cara yang sama.
Sebagian besar hari-hari kita terasa biasa. Bangun pagi. Bekerja. Mengajar. Pulang. Mengulang. Tidak ada yang spektakuler. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorotan. Namun justru di situlah setup itu terjadi.

Sebagai guru, saya sering menyadari bahwa apa yang kita lakukan di kelas bukanlah punchline. Kita menyusun rencana pembelajaran, menyiapkan media, memilih kata pembuka yang tepat. Kita membangun suasana agar anak-anak merasa aman dan percaya diri. Semua itu adalah setup.
Kita mungkin tidak melihat hasilnya hari ini. Tidak minggu ini. Bahkan mungkin tidak tahun ini.

Tetapi suatu hari, seorang murid yang dulu ragu mulai berani berbicara. Seorang anak yang dulu tertinggal mulai percaya bahwa ia mampu. Atau bertahun-tahun kemudian, seseorang berkata, “Dulu ada guru yang percaya pada saya.” Itulah punchline. Ia tidak selalu datang cepat. Tidak selalu datang dengan gemuruh. Kadang ia datang dalam bentuk perubahan kecil yang pelan, tapi menetap.

Hidup pun demikian. Kita sering menunggu momen besar—keberhasilan, pengakuan, pencapaian—seolah-olah di situlah makna berada. Padahal mungkin, makna itu sedang dibangun setiap hari dalam bentuk disiplin, kesabaran, dan ketekunan yang tidak terlihat. Karena, kita hidup dalam setup yang panjang.

Dan mungkin, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan punchline itu akan datang. Bisa dalam bentuk keberhasilan. Bisa dalam bentuk ujian. Bisa juga dalam bentuk akhir perjalanan. Yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan bahwa setiap setup yang kita jalani dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Karena ketika punchline itu akhirnya tiba, semoga ia bukan kejutan yang membuat kita menyesal, tetapi jawaban yang membuat semuanya terasa masuk akal.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉

Kamis, 26 Februari 2026

Di Antara Takjil dan Takdir

Setiap Ramadan, ada satu momen yang selalu dinanti: waktu berbuka.

Anak-anak menghitung menit. Orang dewasa melirik jam. Di pinggir jalan, penjual takjil berjejer. Kolak, es buah, gorengan, kurma, semuanya seperti punya magnet tersendiri. Kita memilih dengan antusias, seakan-akan berbuka adalah perayaan kecil setelah seharian menahan diri.

Ramadan sering terasa seperti itu—hangat, manis, penuh kebersamaan.



Namun minggu ini, di antara aroma kolak dan suara azan magrib, kabar duka datang silih berganti. Minggu ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabar duka datang silih berganti. Ibunda kepala sekolah berpulang. Teman sekolah saya waktu SD lebih dulu dipanggil. Ayahanda rekan operator juga kembali kepada-Nya. Dan mungkin, setiap hari ada hati yang berduka, meski dunia tetap berjalan seperti biasa.

Ramadan yang biasanya identik dengan cahaya, tarawih, dan lantunan Al-Qur’an, mendadak terasa lebih hening.

Dan sebenarnya, kehilangan bukanlah pengalaman baru bagi saya. Lima tahun lalu, Ayahanda saya telah lebih dahulu berpulang. Waktu memang berjalan. Aktivitas kembali seperti biasa. Tetapi rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah menjadi doa yang lebih sering dipanjatkan, terutama setiap Ramadan datang.

Lalu muncul pertanyaan yang sering kita dengar: benarkah meninggal di bulan Ramadan memiliki keutamaan?

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”

(HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)

Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan besarnya kemuliaan bulan Ramadan. Bulan penuh ampunan dan rahmat. Namun, apakah otomatis seseorang yang wafat di bulan ini pasti mendapatkan keutamaan khusus?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله pernah ditanya tentang orang yang meninggal di bulan Ramadan. Beliau menjawab bahwa wafat di bulan Ramadan adalah tanda kebaikan jika disertai dengan amal saleh, namun yang menjadi ukuran utama tetaplah keadaan akhir kehidupannya (husnul khatimah), bukan semata-mata waktunya.

(Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 13/180)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada penutupnya.”

(HR. Bukhari no. 6607)

Artinya, yang paling menentukan bukan di bulan apa seseorang meninggal, melainkan bagaimana ia hidup dan dalam keadaan apa ia menghadap Allah.

Ramadan memang bulan yang istimewa. Di dalamnya ada ampunan, ada pelipatgandaan pahala, ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka siapa pun yang wafat dalam keadaan beriman, dalam suasana penuh ibadah dan kebaikan, tentu itu adalah harapan yang indah.

Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa Ramadan bukan sekadar tentang bagaimana kita meninggal. Ramadan lebih banyak berbicara tentang bagaimana kita hidup.

Tentang bagaimana kita memperbaiki diri selagi masih diberi waktu.

Tentang bagaimana kita memohon ampun sebelum benar-benar dipanggil.

Tentang bagaimana kita menyiapkan bekal, bukan sekadar berharap pada momen.

Kabar-kabar duka minggu ini seperti pengingat yang lembut tapi tegas. Tidak ada yang tahu giliran siapa berikutnya. Tidak ada yang tahu Ramadan mana yang menjadi yang terakhir.

Dan setiap kali saya teringat Ayahanda, hati saya selalu berdoa: semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosanya, dan mempertemukan kami kembali dalam keadaan terbaik.

Pada akhirnya, mungkin benar bahwa wafat di bulan Ramadan adalah karunia jika Allah menghendaki. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap hari di luar Ramadan pun kita sedang berjalan menuju-Nya.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan membuat kematian menjadi istimewa. Ramadan mengingatkan kita bahwa hidup harus dipersiapkan.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉


Ini Hanya Tulisan Fiktif

 “Karena menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan sunyi yang dikenal langit. 👍” Kalimat itu saya temukan ketika sedang berjalan-jalan di sebuah blog milik Pak D Susanto dari Musi Rawas. Entah kenapa, ia tidak hanya terbaca, tapi menetap. Seperti kalimat yang sudah lama saya tahu, hanya saja baru kali itu ada yang menuliskannya. Dari sana, sebuah cerita fiktif, pelan-pelan ingin dituliskan.

Konon, di sebuah sekolah kecil yang tidak pernah masuk berita, ada seorang guru yang setiap pagi datang lebih awal dari suara bel berbunyi.

Namanya tidak pernah viral. Tidak punya kanal YouTube. Tidak punya penghargaan bertingkat-tingkat. Tapi ia punya papan tulis yang penuh coretan mimpi.

Ia sering berjalan melewati lorong sekolah yang masih sepi. Kadang hanya suara sapu petugas kebersihan yang menemaninya. Di tangannya ada buku-buku. Di kepalanya ada rencana. Di hatinya ada doa yang tak pernah ia umumkan.

Anak-anak mengenalnya biasa saja. Kadang bahkan mengeluh karena PR-nya. Kadang tidak sadar bahwa kalimat sederhana yang ia ucapkan bisa tinggal di kepala mereka bertahun-tahun. Guru itu tidak pernah tahu mana nasihat yang akan menjadi penentu arah hidup seseorang. Ia hanya menanam. Setiap hari. Tanpa tahu pohon mana yang akan tumbuh tinggi.

Suatu hari, salah satu muridnya hampir menyerah. Nilainya jelek. Di rumah tak ada yang peduli. Dunia terasa sempit. Tapi guru itu hanya berkata pelan, “Kamu mungkin belum bisa sekarang. Tapi bukan berarti tidak bisa selamanya.” Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis. Tidak ada musik latar.

Tapi bertahun-tahun kemudian, murid itu berdiri di tempat yang tak pernah ia bayangkan. Dan dalam satu wawancara kecil yang tidak viral, ia berkata, “Dulu ada guru yang percaya pada saya, bahkan saat saya tidak percaya pada diri sendiri.”

Guru itu mungkin tidak pernah mendengar kalimat itu. Ia mungkin sudah pindah sekolah. Atau tetap di sana, menulis lagi di papan tulis yang sama. Karena menjadi guru bukan tentang tepuk tangan. Bukan tentang panggung. Bukan tentang sorotan.

Ia adalah pekerjaan yang hasilnya sering tidak terlihat hari ini. Tapi diam-diam disimpan waktu. Dan mungkin benar, jalan ini sunyi. Kadang lelah. Kadang terasa seperti berjalan sendiri.

Tapi siapa sangka, di setiap langkah sunyi itu, ada langit yang mencatatnya. Tidak semua perjuangan harus diketahui manusia. Ada yang cukup diketahui Tuhan. Dan mungkin… itulah kenapa seorang guru tetap datang ke kelas, meski dunia tidak pernah bertepuk tangan.

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉

Selasa, 24 Februari 2026

Hari yang Tidak Sepi

Kemarin pagi sebenarnya biasa saja. Saya kembali ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung, niat mengajar sudah siap. Tapi perjalanan tidak selalu sejalan dengan rencana.

Masih AI yang sama

Di halte Puri Beta, antreannya panjaaaaaang. Tidak biasa. Orang-orang berdiri dengan wajah setengah sabar, setengah pasrah. Busway belum juga datang. Setelah menunggu, barulah terdengar kabar: ada kecelakaan di jalan layang dekat halte Cipulir. Saya tidak tahu detailnya, tapi dalam hati semoga tidak ada korban jiwa.

Perjalanan jadi lebih lambat. Waktu terasa ikut tertahan di antara barisan orang yang menunggu.

Sampai di sekolah, suasana langsung berubah. Tidak ada waktu mengeluh. Deadline video sudah menunggu. Naskah yang kemarin saya ketik harus dijahit rapi dengan CapCut. Di sela-sela itu, saya tetap mengajar. Tetap masuk kelas. Tetap tersenyum. Lalu shooting sebentar. Edit lagi. Rapat koordinasi TKA menyusul menjelang waktu pulang.

Dan di tengah semua itu, lambung mulai berdendang.

Puasa memang menahan lapar. Tapi ternyata bukan hanya itu. Ia juga melatih kita menahan reaksi. Menahan keluhan. Menahan keinginan untuk berkata, “Aduh, capek banget.”

Ramadan tidak menghentikan pekerjaan. Tidak menghentikan macet. Tidak menghentikan deadline. Justru di situlah latihannya.

Bekerja dalam keadaan kenyang mungkin biasa. 

Bekerja dalam keadaan lapar… itu latihan.

Latihan sabar saat antre panjang. 

Latihan fokus saat energi menurun. 

Latihan tetap profesional meski tubuh ingin rebahan.

Saya jadi sadar, puasa bagi orang yang bekerja itu bukan tentang memperlambat ritme. Tapi tentang menjaga kualitas di tengah keterbatasan. Tetap datang tepat waktu meski perjalanan terhambat. Tetap menyelesaikan tugas meski kepala mulai ringan. Tetap tersenyum di depan siswa meski perut sudah protes.

Karena mungkin nilai puasa bukan hanya pada seberapa kuat kita menahan lapar, tapi seberapa baik kita menjaga sikap saat lapar itu datang.

Menjelang berbuka, saya duduk sebentar. Nafas sudah lebih pelan. Lambung masih berdendang, tapi tidak lagi protes. Hari itu tidak berjalan mulus. Ada antrean panjang, ada kabar kecelakaan, ada deadline yang menunggu, ada rapat yang harus diikuti. Tapi semuanya tetap selesai.

Ramadan mengajarkan saya satu hal sederhana: bekerja saat lapar itu bukan soal kuat-kuatan. Ini soal menjaga niat. Bahwa yang kita lakukan tetap harus baik, meski tenaga tidak sedang penuh. Dan mungkin, justru di situ letak manisnya. Bukan pada menu berbukanya, tetapi pada rasa lega karena sudah menjalani hari dengan utuh.


#menulislagi

#salamkenal

#salamliterasi

#salamindrakeren

#dotai

#saLai


see you tomorrow 😉

Senin, 23 Februari 2026

Jarinya satu ruas.

 Malam Senin, selepas tarawih, saya duduk di saf yang tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang. Seperti biasa ada ceramah, dan yang mengisi malam itu adalah Ustadz Hasanuddin.

Beliau spesial.

Bukan hanya karena dakwahnya yang penuh tenaga dan mengalir deras tanpa teks. Tapi juga karena kondisi fisiknya. Kedua tangan beliau tidak memiliki jari yang utuh. Setiap jarinya hanya satu ruas. Saat beliau memegang mikrofon, saya sempat terdiam. Ada sesuatu yang menegur sebelum beliau mulai berbicara.

ai baik.

Beliau berceramah tentang Al-Qur’an.

Tentang bagaimana setiap Ramadan suasana selalu berubah. Masjid lebih ramai. Jadwal tidur berantakan. Undangan buka puasa berdatangan. Grup WhatsApp penuh doa dan ucapan. Semua terasa hidup.

Tapi pertanyaannya sederhana.

Apakah Al-Qur’an ikut hidup juga di rumah kita?

Atau ia hanya pindah posisi dari rak paling atas ke meja, lalu kembali lagi tanpa benar-benar dibaca?

Ramadan disebut sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Ayat itu sering kita dengar. Bahkan hafal. Tapi mungkin kita terlalu sering mendengar tanpa benar-benar merasa.

Kalau Ramadan adalah bulan cahaya, maka Al-Qur’an seharusnya bukan sekadar target khatam. Ia seharusnya jadi teman duduk. Teman diam. Teman berpikir.

Saya jadi malu sendiri.

Tangan saya lengkap. Jari saya utuh. Saya bisa membuka mushaf dengan mudah. Bisa menggulir aplikasi Al-Qur’an di ponsel tanpa hambatan. Tapi sering kali yang berat bukan membuka mushafnya.

Yang berat adalah meluangkan hati.

Beliau mengingatkan bahwa setiap huruf bernilai pahala. Dilipatgandakan lagi di bulan Ramadan. Tapi malam itu saya merasa yang lebih penting bukan angka pahalanya.

Melainkan sejauh mana ayat itu menyentuh.

Puasa membuat tubuh lelah. Aktivitas tetap jalan. Emosi kadang naik turun. Justru di situ Al-Qur’an seharusnya jadi penenang. Bukan hanya dibaca cepat-cepat setelah tarawih, tapi dihadirkan.

Mungkin bukan soal berapa juz yang selesai.

Mungkin soal berapa ayat yang benar-benar tinggal.

Karena bisa jadi satu ayat yang dipahami dan diamalkan jauh lebih berat timbangannya daripada halaman-halaman yang hanya lewat di mata.

Ramadan datang setiap tahun. Tapi kita tidak pernah tahu apakah kita akan bertemu lagi dengannya.

Dan malam itu, melihat seorang ustadz yang jari-jarinya tidak utuh namun begitu kuat menggenggam Al-Qur’an dalam hidupnya, saya merasa seperti sedang ditegur pelan.

Selama ini, siapa yang sebenarnya memiliki keterbatasan?

Kadang kita merasa tidak punya waktu, merasa lelah, merasa terlalu sibuk untuk membuka mushaf. Tapi mungkin yang kurang bukan waktunya atau tenaganya, melainkan kemauannya. Ramadan tidak meminta kita sempurna, hanya meminta kita mendekat. Dan jika tangan yang tidak utuh saja mampu menggenggam Al-Qur’an dengan begitu kuat, lalu saya yang jarinya lengkap ini masih 

ingin beralasan apa?

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉

Minggu, 22 Februari 2026

Beberapa Menit, Seharian Penuh

Hari ini saya menulis bukan karena sedang punya banyak waktu.
Justru sebaliknya. Deadline sudah menunggu besok, tenggorokan mulai kering, dan kepala terasa penuh. Tapi entah kenapa, di tengah dahaga itu saya tetap memilih duduk, mengetik, memperbaiki, mengulang, memastikan semuanya layak untuk ditampilkan.


Mungkin beginilah Ramadan bekerja.

Ia tidak selalu membuat kita melambat. Kadang justru ia mengajarkan bagaimana tetap maksimal, bahkan ketika tenaga sedang minimal. Dan di sela-sela rasa haus itu, saya sadar… tulisan ini bukan hanya tentang program literasi. Ia adalah tentang komitmen. Tentang tanggung jawab. Tentang membersamai tumbuhnya anak-anak, meski tubuh sendiri sedang belajar menahan.

JS One Award!

Kadang saya bertanya pada diri sendiri…

siapa sebenarnya guru terbaik itu?

Apakah mereka yang menguasai semua materi?
Ataukah mereka yang selalu berdiri paling depan di kelas?

Bagi saya… guru terbaik adalah mereka yang membersamai.
Yang tidak hanya mengajar, tetapi hadir.
Yang tidak hanya memberi tugas, tetapi memberi kepercayaan.
Yang tidak hanya menilai hasil, tetapi menghargai proses belajar.

Saya berdiri di sini hari ini karena pernah dibimbing oleh guru-guru seperti itu.
Guru yang sabar menuntun saya ketika saya belum mengerti arah.
Guru yang percaya pada saya, bahkan ketika saya sendiri meragukan kemampuan saya.

Dan sejak saat itu, saya berkomitmen untuk terus berusaha menjadi guru seperti itu…
bagi siswa-siswi saya.

--------------------------------------------

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Perkenalkan, saya Muhammad Indra Wahyuddin, guru kelas 6 di SDN Cipulir 05.
Melalui kesempatan ini, izinkan saya berbagi praktik baik yang saya lakukan bersama siswa-siswa saya dalam menumbuhkan budaya literasi di kelas.

----------------------------------------------

Di kelas 6 SDN Cipulir 05, saya menemukan kenyataan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks.
Ada anak-anak yang masih ragu menyuarakan pendapatnya.
Ada yang mampu membaca, tetapi belum sepenuhnya memahami.
Ada yang punya ide luar biasa, tetapi belum percaya diri untuk menuliskannya.

Saat itulah saya sadar…
anak-anak ini tidak hanya membutuhkan pembelajaran.
Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh.

Dari refleksi itulah lahir KLISE — Kegiatan Literasi Sekolah.

Namun bagi saya, KLISE bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis.
KLISE adalah ruang belajar yang lebih bermakna.

Di dalamnya, anak-anak tidak hanya menerima informasi,
mereka diajak berpikir, merefleksi, dan mengaitkan bacaan dengan kehidupan mereka sendiri.

Mereka belajar memahami, bukan sekadar menghafal.
Mereka belajar mengolah gagasan, bukan sekadar menyalin.

Di sanalah pembelajaran menjadi lebih mendalam —
karena setiap anak diberi kesempatan untuk menemukan makna.

Melalui LiterAKSI, mereka belajar berani memulai.
Melalui LiterAKTIF, mereka belajar bertanggung jawab atas ide dan tulisannya.
Melalui LiTERAMPIL, mereka belajar percaya diri dan menghargai pendapat teman.
Dan melalui LiterAMPUH, mereka belajar memanfaatkan teknologi secara bijak untuk menyebarkan kebaikan.

Tanpa mereka sadari, kebiasaan-kebiasaan kecil itu tumbuh perlahan.

Kebiasaan untuk disiplin membaca.
Kebiasaan untuk berpikir sebelum berbicara.
Kebiasaan untuk berkolaborasi dan saling menghargai.
Kebiasaan untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.
Kebiasaan untuk berani mencoba, meski belum sempurna.

Dan ketika karya mereka berubah menjadi buku digital,
ketika suara mereka terdengar kembali dalam rekaman podcast,
mereka tidak hanya merasa bangga…

Mereka belajar bahwa proses itu penting.
Bahwa usaha itu bermakna.
Bahwa mereka mampu memberi dampak.

Di situlah saya memahami…
literasi bukan sekadar kemampuan akademik.

Literasi adalah jalan untuk membentuk karakter.
Membentuk anak-anak yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zamannya.

---------------------------------

Saya percaya perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Perubahan bisa dimulai dari satu kelas kecil…
dari satu guru yang mau refleksi…
dan dari satu komitmen untuk terus membersamai.

Dan jika langkah kecil ini dapat menginspirasi guru lain untuk terus berinovasi,
maka saya yakin, kita sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar program.

Kita sedang menumbuhkan generasi yang literat, berkarakter, dan siap menghadapi zamannya.

Karena pada akhirnya…
guru terbaik bukanlah mereka yang paling banyak berbicara,
melainkan mereka yang paling setia membersamai tumbuhnya anak-anak bangsa.

Salam literasi, Semangat JS One AwardTop of Form

Wassalamualaikum.

Hari ini saya tidak sedang merasa hebat, saya hanya sedang belajar bertanggung jawab. Di tengah tenggorokan yang kering dan kepala penuh revisi, saya sadar: kita sering ingin hasil besar, tapi tidak siap dengan lelahnya proses. Ramadan ternyata bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Anak-anak saya belajar untuk tidak menyerah pada satu paragraf yang sulit, dan hari ini saya diuji oleh pelajaran yang sama — konsisten meski tidak ada yang melihat.

Video ini mungkin hanya beberapa menit, tetapi prosesnya seharian penuh. Kita sering meminta anak-anak untuk bersungguh-sungguh. Pertanyaannya sederhana: sudahkah kita? Karakter tidak dibentuk saat nyaman, tetapi saat haus, lelah, dan dikejar waktu. Dan jika hari ini saya tetap menyelesaikannya, itu bukan karena saya kuat — tetapi karena saya tidak ingin anak-anak belajar dari guru yang menyerah. 

Bottom of Form

#menulislagi
#salamkenal
#salamliterasi
#salamindrakeren
#dotai
#saLai

see you tomorrow 😉