Sabtu, 19 Juni 2021

Fiksi vs. Non Fiksi

Sudah hari ketiga pelatihan menulis tinta batch 5 bergulir. Kali ini Mas Agung Pramono akan berkisah awal terjun kedunia literasi, hingga bisa menetaskan buku solonya. Pria yang dilahirkan di Jakarta, namu besar di Wonogiri ini sudah banyak mengikuti grup binaan menulis. Jadi tidak heran jika beliau punya asam garam literasi dalam perjalanan menulisnya. 


Siapa sangka guru yang tinggal di Tangerang Selatan ini memulai literasinya dari sebuah kekeliruan. Pada awalya Mas Agung mengikuti pelatihan untuk mempermudah penulisan PTK, namun apa daya pelatihan yang diikuti dengan menyisihkan rupiahnya berubah haluan. Yaa... berubah haluan, pelatihan PTK yang dijanjikan ternyata berubah menjadi pelatihan menulis fiksi dan non fiksi oleh Admin. 

Baca juga : Modal Dasar Menulis

Awalnya sedikit aneh, namun sesuai motto hidupnya "Teruslah belajar jangan pernah berhenti" beliau tetap melanjutkan pelatihan. Pada akhirnya memang tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini, dua buku berjudul 'Cinta" dan "21 karakter guru yang didambakan peserta didik" berhasil terbit. 

Baca juga : Ide dan Outline dalam Menulis

Dari kelas menulis tersebut, akhirnya beliau mengenal penulisan fiksi dan non fiksi. Menurut beliau terkadang kita bingung tulisan fiksi dan non fiksi bahkan sering tertukar diantara keduanya. Sebagai penulis pemula kita sudah punya ide, terus kita cari tema hingga membuat judul. Terus membuat outline. Nah langkah berikutnya adalah menentukan masuk kategori fiksi atau non fiksi atau gabungan.

Pengertian Fiksi

Supaya tidak bingung, kita gunakan versi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) saja. Menurut KBBI, kata fiksi berarti rekaan, khayalan, dan tidak berdasarkan kisah nyata. Tulisan fiksi berarti tulisan yang dibuat berdasarkan imajinasi penulisnya dan bersifat rekaan.

Tulisan fiksi bisa mengangkat kisah nyata atau fakta, namun sudah mendapatkan tambahan atau perubahan tertentu untuk memperindah jalan cerita sehingga sifat faktualnya menjadi hilang.  Contoh karya sastra fiksi antara lain novel, cerpen, cerbung, sinetron, film, drama dan lain sebagainya. Syair dan puisi juga kerap dimasukkan rumpun fiksi.

Kesimpulan karya fiksi merupakan sebuah karangan non-ilmiah yang bersifat imajinatif dari penulis dan bukan berdasarkan kenyataannya. Dibutuhkan kemampuan imajinasi dan merangkai emosi dari penulis sehingga pembaca dapat terlibat dalam cerita. Sebagaimana aturan penulisan dalam karya fiksi “tunjukkan jangan ceritakan”, sehingga  teknik menulis lebih ekspresif, bebas, dan tidak begitu terpaku kepada aturan.

Pengertian Non Fiksi

Berbeda dengan Fiksi, karya nonfiksi merupakan tulisan yang berdasar pada sesuatu yang nyata dan benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata serta dapat dipertanggung jawabkan keasliannya.

Nonfiksi bersifat faktual atau peristiwa yang benar-benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa semua yang terkandung di dalam buku nonfiksi adalah nyata dalam kehidupan.

Tulisan non-fiksi ada yang berbentuk naskah akademik atau ilmiah murni, seperti skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, artikel untuk jurnal akademik, dan lain sebagainya. Ada pula tulisan populer, seperti opini, artikel, feature, esai, diary, kisah berhikmah dan resensi buku.

Perbedaan Fiksi dan Non Fiksi

Inti perbedaannya pada pesan yang disampaikan. Mas Agung mengutip ilmu yang ia dapatkan dari Pak Cah. Pak Cah sendiri mengutip dari Afifah Afra. Jadi Mas Agung menyebarluaskan ilmu yang beliau dapatkan, bahwa dalam fiksi terdapat pola yang khas, seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dan lain sebagainya. Fiksi memberikan kebebasan luas bagi pengarang untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Sebaliknya, pembaca juga memiliki kebebasan untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut.

Pada tulisan nonfiksi, pesan bersifat langsung. Kesimpulan telah jelas dinyatakan dalam tulisan. Pembaca akan diajak menerima kesimpulan yang disampaikan oleh penulis. Ini karena tulisan nonfiksi harus mengandung ‘clarity’ yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Pada tulisan nonfiksi, pesan bersifat langsung. Kesimpulan telah jelas dinyatakan dalam tulisan. Pembaca akan diajak menerima kesimpulan yang disampaikan oleh penulis. Ini karena tulisan nonfiksi harus mengandung ‘clarity’ yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

Lebih spesifik lagi, Mas Agung menyatakan bahwa tulisan fiksi menyasar kepada emosi pembaca, sedangkan nonfiksi lebih menyasar sisi logika. Itu sebabnya, fiksi akan mengajak pembaca memiliki pengalaman estetik yang membahagiakan, mencerahkan dan menghibur.

Sebagian orang memahami perbedaan tulisan fiksi dan non-fiksi terletak pada gaya bahasa yang digunakan. Misalnya tulisan fiksi memakai bahasa informal dan nonfiksi menggunakan bahasa resmi. Padahal faktanya tidak demikian. Gaya bahasa formal dan informal sama-sama bisa digunakan pada semua jenis tulisan.

Nah.... itulah ilmu yang saya dapatkan dalam KMT #05. Sedikit banyak ilmu yang diberikan pasti akan bermanfaat bagi kegiatan literasi yang saya sedang geliti saat ini. Semoga resume sederhana ini bisa dijadikan dokumentasi digital, sehingga ilmu fiksi dan non fiksi ini bisa dibaca kembali dikemudian hari oleh sobat literasi.

#kmt05_day3

Salam Kenal
Salam Literasi
Salam Indrakeren
See You

0 Comments:

Posting Komentar