Sabtu, 31 Oktober 2020

Krupuk "Miskin" Warna Warni

Assalamu'alaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh

Silaturrahmi itu menambah rezeki, Amin

Selamat Pagi para Pejuang Pendidikan, semoga selalu sehat, semangat, dan bahagia dalam melakukan aktifitas setiap hari serta selamat berwisata membaca di blog sederhana ini.


Sepulang dari Cikampek, Karawang, Cilamaya kami menyempatkan diri untuk membeli buah tangan. Salah satu buah tangan yang kami beli jika ke daerah tersebut adalah kerupuk miskin. Entah alasan apa yang membuat kerupuk yang identik dengan warna warni ini dinamakan kerupuk Miskin. Sebenarnya ada juga yang menyebutkan dengan nama kerupuk warna warni, namun lebih familiar sebutannya adalah kerupuk miskin. Saya berusaha mencari tahu  dari beberapa sumber kenapa kerupuk ini dinamakan kerupuk miskin.

Ada sejak Indonesia belum merdeka

Kerupuk miskin ini sudah ada sejak tahun 1920-an. Tepatnya saat bangsa Indonesia sedang mengalami masa penjajahan dan perekonomian belum stabil. Berkat alasan itu pula krupuk ini dinamakan kerupuk miskin, karena saat itu harga minyak sangatlah tinggi, sehingga tidak bisa dibeli oleh masyarakat golongan kelas bawah.

Asli Cirebon

Panganan warna warni yang dijajakan pada jalur pantura ini merupakan panganan asli Cirebon. Panganan ini bisa kita beli dengan harga bekisaran Rp. 10.000 - Rp. 15.000, jika pandai menawar harga tersebut bisa berkurang hampir 50%-nya. Kerupuk ini selain memanjakan mata ketika melihat warnanya, rasanya juga gurih, apalagi jika ditambah sambal pecel ketika memakannya, pastinya tambah cihuyyy. 

Dimasak dengan Pasir

Keunikan kerupuk dari Kota Udang ini adalah pada cara menggorengnya yang masih tradisional. Kerupuk digoreng dengan pasir, bukan minyak. Mungkin karena metode memasaknya yang masih tradisional disebut kerupuk melarat (miskin). 

Meskipun terkesan tidak higienis tapi kenyataannya kerupuk ini digoreng dengan pasir yang bersih. Pasir yang digunakan adalah pasir gunung yang berwarna hitam. Pasir-pasir tersebut harus disangrai lalu dijemur sebelum digunakan agar kering dan bersih. Setelah dijemur, baru pasir akan dipanaskan dalam wajan lebar untuk dimasak menjadi pegganti minyak goreng.

So, jadi siapa yang sudah pernah mencicipi panganan warna warni ini? atau malah punya cerita tersendiri dengan si krupuk miskin. hiihihihihiii 😂

Salam Literasi, Salam Indrakeren

Jangan lupa klik link bonus ini yaa, teman-teman!!!!

#Day25AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita

#AISEIWritingChallenge#warisanAISEI#pendidikbercerita 

6 Comments:

  1. Kalau nggorengnya pake minyak namanya jadi macem2 ya pak Indra, ada krupuk rambak, kerupuk gendar, krupuk udang dll.

    Makan tanpa krupuk bagai cinta tanpa romantisme
    ...cie cie ....

    BalasHapus
  2. Ada sejak 1920,baru tahu, ternyata kerupuk dari jaman penjajah ya

    BalasHapus