Jumat, 01 Januari 2021

Sarapan jangan berbicara


Sstttt... Makan jangan berbicara!

Pernah dengar kalimat tersebut saat masih kecil dahulu. Ayah atau Ibu bahkan Nenek selalu mengatakan hal itu saat menyuapi kita ketika ingin menyantap sarapan. Namun bagaimana jika makanan yang berbicara, bercengkraman bersama makanan-makanan yang lain. Tentunya akan menjadi asupan gizi literasi di pagi hari.

Di sebuah meja makan yang  sangat sederhana. Hadirlah beberapa barang pecah belah yang di dalamnya terisi makanan yang berbeda-beda. Mulai dari Sambal, Tempe, Sayur, Ayam Goreng, Ikan asin serta kripik yang menambah sesak suasana meja makan di pagi hari ini.

Sayur yang menggunakan mangkuk yang sangat besar sering diejek rekannya sesama hidangan sarapan. Sayur terkadang merasa sedih akan ejekan rekan-rekannya, Padahal sayur diletakkan dalam mangkung yang besar pasti ada sebuah alasan yang melatar belakanginya. Dengan banyaknya sumber kesehatan di dalamnya tentunya sayur memerlukan space yang sangat besar, agar kelengkapan nutrisi untuk manusia bisa terpenuhi.

Namun sambal yang sering mengeluarkan ejekan kepada sayur, tidak bisa menerima begitu saja. Sambal merasa dirinyalah yang lebih penting dalam sebuah hidangan di meja makan. Jika saja tidak ada sambal dalam setiap piring hidangan tentu saja kenikmatan makanan akan berkurang.

Ayam goreng dan Ikan asin juga tidak mau kalah. Ayam goreng yang merasa makanan paling ekslusif mulai bersuara. Menurutnya Ayam gorenglah yang harus diempatkan dalam wadah dengan ukuran besar. Ikan asin yang mendengar kejemawaan Ayam goreng menyela dengan angkuhnya. Ikan asin merasa walaupun namanya rendahan, namun harga dan cita rasa yang ditawarkan pantas disejajarkan dengan makan ekslisif lainnya.

Tempe yang mendengarkan perbincangan rekan-rekannya sesama hidangan di meja makan, hanya bisa diam seribu bahasa. Sesekali Tempe berujar dalam hati, "cepatlah orang berpeci putih itu makan, agar cepat selesai semua perbincangan ini". 

Dua lauk yang lainnya hanya menjadi pendengar pasif tanpa bisa menghiraukan obrolan rekan-rekannya di meja makan. Mereka hanya bisa selalu siap sedia untuk disantap oleh pria berpeci putih.

skkreeekkk... skkreeeekkk... skkkererekkk... Suara dari barisan belakang pada meja makan sangat mengganggu. Entah apa yang menimbulkan bunyi tersebut. skkeeerrrkkk.. sskkkrreeekk... ssskkreeekk... bunyi itu terus terdengar. Sampai akhirnya Tempe menyadari bahwa kerupuk berusaha untuk mengucapkkan sesuatu dari dalam plastik pembungkusnya.

Kerupuk yang dari awal pembicaraan ada pada barisan paling belakang, ingin sekali memberikan sanggahan kepada rekan-rekan yang ada di meja makan. Bahwa pada dasarnya kita semua yang ada di atas meja makan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Meskipun wadah yang digunakan untuk menyajikan semua aneka makanan berbeda-beda. Tidak akan mengurangi cita rasa makanan satu sama lain. 

Jadi mari kita bersiap serta jangan berisik lagi. Sebab sudah dari tadi pria berpeci putih sedang memperhatikan pembicaraan menu yang ingin disantapnya. Mengetahui krupuk sudah menyadari kehadirannya, pria berpeci putih hanya bisa senyum-senyum saja sambil bersiap untuk menyantap mereka.

Salam Kenal

Salam Literasi

Salam Indrakeren

7 Comments:

  1. Wadah yg tidak perlu diperdebatkan, begitukan Pak Keren. Semua disesuaikan. Semua mempunyai peran untuk menjadikan sesuatu yg sempurna manfaatnya. Jika salah satu tidak ada, bukankah ada yg terasa kurang?

    BalasHapus
  2. Kasihan amat, berdebat siapa yg paling baik ujungnya di makan...hehe..

    Tulisannya menarik pak

    BalasHapus
  3. Kereen...banyak pesan yang disampaikan melalui cerita...

    BalasHapus
  4. Cerita yg sangat ringan, penuh makna tentang bagaimana agar kita tidak boleh sombong. Dan makna2 yang lain, Apapun makanannya kalau sudah dimakan ya,,,akan bersatu dan menghasilkan tujuan yg sama yaitu " kenyang"

    BalasHapus